
Gambar: fundaredmaterna.org
informasitips.com - Apa itu preeklampsia? Preeklampsia adalah gangguan kehamilan yang ditandai dengan adanya kenaikan tekanan darah (tekanan darah tinggi atau hipertensi), juga pembengkakan pada tangan, kaki, dan muka. Preeklampsia atau biasa dikenal juga dengan istilah toxemia dapat merupakan pertanda bahwa organ-organ tubuh tidak bekerja dengan baik, misalnya organ ginjal yang ditunjukkan oleh tingginya kadar protein yang ada dalam urin.
Preeklampsia biasanya terjadi pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu. Diperkirakan, sekitar 8-10 persen wanita hamil didiagnosa mengalami preeklampsia, di mana beberapa diantaranya memang sudah memiliki hipertensi sebelum kehamilan.
Apakah preeklampsia berbahaya? Ya, beberapa kasus preeklampsia yang tidak ditangani dapat membahayakan ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Beberapa bahaya preeklampsia adalah dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin (akibat kurang cukupnya pasokan darah dan oksigen ke janin), menyebabkan kerusakan hati dan ginjal pada ibu hamil, dan pada beberapa kasus preeklampsia dapat berkembang menjadi eklampsia yang bisa menimbulkan dampak yang lebih serius lagi, seperti kelahiran prematur, kejang-kejang, dan kematian ibu hamil.
Preeklampsia yang berkembang menjadi eklampsia biasanya disebabkan karena ibu hamil tidak menyadari bahwa dirinya mengalami preeklampsia. Akibatnya, preeklampsia yang terjadi saat hamil dibiarkan begitu saja tanpa penanganan, sehingga berkembang menjadi eklampsia, sebuah kondisi medis serius yang bisa mengancam keselamatan ibu hamil dan janin yang dikandungnya.
Gejala-gejala preeklampsia biasanya muncul pada saat kehamilan mencapai usia 20 minggu atau lebih. Yang paling umum, biasanya preeklampsia terjadi saat kehamilan memasuki usia 24-26 minggu sampai beberapa saat setelah bayi lahir.
Gejala utama dari preeklampsia adalah terjadinya kenaikan tekanan darah (tekanan darah tinggi) hingga mencapai 140/90 mm Hg atau lebih. Kenaikannya sering kali tidak terlalu disadari oleh ibu hamil, sehingga menjadi sangat penting untuk melakukan kontrol rutin selama kehamilan, terutama memonitor tekanan darah selama hamil karena tanda pertama dari preeklampsia biasanya adalah terjadinya kenaikan tekanan darah (darah tinggi).
Selain gejala utama tersebut, gejala-gejala lainnya dari preeklampsia adalah sebagai berikut:
Di antara gejala-gejala tersebut di atas, gejala seperti kenaikan berat badan dan edema (pembengkakan pada kaki) sebenarnya dapat juga merupakan sesuatu yang normal (bukan preeklampsia) yang biasa juga terjadi pada kehamilan yang sehat.
Begitu pula dengan hipertensi (kenaikan tekanan darah) saat hamil, sebenarnya juga tidak selalu pasti merupakan gejala preeklampsia. Ada banyak faktor penyebab lainnya yang bisa menyebabkan hipertensi (darah tinggi) saat hamil, selain karena preeklampsia.
Hipertensi saat hamil merupakan salah satu pertanda saja, sehingga untuk memastikan apakah memang ibu hamil mengalami preeklampsia atau bukan adalah dengan melakukan pemeriksaan-pemeriksaan dan kontrol rutin kehamilan setiap bulannya.
Untuk hipertensi saat hamil, sebenarnya ada 3 kondisi yang biasanya terjadi, yaitu:
1. Hipertensi Gestasional, yaitu kondisi di mana wanita hamil mengalami kenaikan tekanan darah (darah tinggi) saat hamil, namun tidak terdapat kelebihan protein dalam urinnya, dan juga tidak terdapat adanya tanda kelainan pada beberapa organ tubuhnya.
Pada beberapa wanita hamil, hipertensi gestasional yang dialami saat hamil dapat berkembang menjadi preeklampsia. Oleh karena itu, patut selalu waspada bila mendapati tekanan darah yang tinggi saat hamil.
2. Hipertensi kronis, yaitu tekanan darah tinggi yang sudah ada sebelum hamil atau yang kemungkinan muncul sebelum usia 20 minggu kehamilan.
3. Hipertensi kronis dengan preeklamsia, yaitu kondisi di mana seorang wanita sudah memiliki tekanan darah tinggi kronis sebelum kehamilan yang kemudian berkembang semakin buruk, terdapat protein dalam urin dan timbul gangguan/komplikasi kesehatan lainnya selama kehamilan.
Pemeriksaan dan kontrol kehamilan secara rutin merupakan salah satu cara untuk memastikan preeklampsia. Lewat pemeriksaan rutin kehamilan, preeklampsia juga dapat diketahui dan ditangani lebih awal. Jika ibu hamil merasa mengalami gejal-gejala yang tidak wajar (seperti gejala yang sudah disebutkan di atas), segera lakukan konsultasi dengan dokter. Bila setelah pemeriksaan dokter mencurigai adanya preeklampsia, maka dokter biasanya akan melakukan tes darah dan urin untuk melakukan diagnosis lebih lanjut.
Pemeriksaan darah dan urin tersebut bertujuan untuk melihat apakah adanya peningkatan kandungan protein dalam urin, apakah terdapat gangguan pada fungsi hati, dan apakah terjadinya penurunan trombosit dalam darah (kurang dari 100.000).
Hingga kini, belum diketahui dengan pasti apa penyebab terjadinya preeklampsia. Namun, ada beberapa teori terkait penyebab dari preeklampsia, yaitu:
Beberapa ahli juga meyakini bahwa preeklampsia mulai berkembang di plasenta. Pada awal kehamilan, pembuluh darah baru mulai terbentuk dan terus berkembang untuk mengirimkan darah ke plasenta.
Pada wanita yang mengalami preeklampsia, pembuluh darah yang semestinya terbentuk ini justru tidak berkembang sebagaimana mestinya. Pembuluh darah tersebut justru menjadi lebih sempit dari pembuluh darah normal dan bereaksi berbeda terhadap sinyal hormonal, sehingga membatasi jumlah pasokan darah yang dapat dialirkan.
Sensitivitas yang cukup tinggi dari tubuh ibu hamil terhadap benda yang dianggap asing tersebut dapat merusak darah dan pembuluh darah ibu hamil, yang pada akhirnya dapat mengarah pada preeklampsia.
Selain beberapa teori di atas, beberapa ahli juga menduga bahwa penyebab terjadinya preeklampsia pada ibu hamil dipicu oleh faktor kurangnya nutrisi ibu selama hamil dan tingginya kandungan lemak di dalam tubuh ibu hamil.
Kasus preeklampsia biasanya banyak terjadi pada kehamilan pertama. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia selama hamil adalah: