informasitips.com - Rematik atau radang sendi atau dalam bahasa medisnya disebut rheumatoid arthritis (RA) didefinisikan sebagai penyakit yang menyerang persendian dan jaringan disekitarnya yang ditandai dengan peradangan, sehingga menimbulkan rasa nyeri.
Rematik tidak hanya menyerang lanjut usia tetapi juga menyerang orang-orang usia muda. Diperkirakan rematik menyerang pada saat seseorang berusia 18 tahun dengan prosentase sebanyak 0,1 - 0,3 % dari jumlah seluruh penduduk Indonesia. Wanita memiliki resiko tertinggi terserang rheumatoid arthritis di banding pria dengan rasio 3:1. Pemegang resiko terbesar lainnya terkena rheumatoid arthritis adalah perokok.
Menurut WHO penyakit rematik dikelompokkan menjadi 150 jenis. Jenis penyakit rematik tersebut antara lain: osteoarthritis, rheumatoid arthritis, spondiloartropi, gout arthritis, rematik akibat infeksi, penyakit extra artikular yang menyerang otot, tendon dan tulang, rematik akibat trauma, rematik akibat keganasan dan lain-lain.
Masyarakat pada umumnya mengetahui penyebab rematik adalah asam urat padahal pada faktanya penderita rematik akibat asam urat hanya berkisar 7%. Rematik juga bukan akibat sering mandi di malam hari atau terlalu banyak mengonsumi sayur kangkung dan bayam seperti mitos yang banyak beredar dimasyarakat. Dari 150 jenis rematik, rheumatoid arthritis merupakan jenis penyakit rematik yang memiliki jumlah penderita paling banyak.
Penyebab penyakit rematik
Penyebab rheumatoid arthritis secara pasti belum ditemukan namun beberapa sumber menulis rheumatoid arthritis terjadi akibat reaksi autoimun, selain itu faktor genetik dan gaya hidup diduga ikut berperan memunculkan penyakit ini.
Pada rheumatoid arthritis, sistem imun yang terdiri dari antibodi dan sel T yang berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap virus dan bakteri, mengalami kegagalan atau tidak dapat membedakan benda asing yang merupakan musuh sebenarnya dengan jaringan/sel tubuh. Akibat kesalahan dalam mengidentifikasi musuh tersebut, sistem imun merusak sel/jaringn tubuh sendiri.
Tanda dan Gejala penyakit rematik
Rheumatoid arthritis menyerang sinovium (lapisan tipis pembungkus sendi) hampir pada semua sendi. Buku-buku jari, pergelangan tangan, lutut dan engkel kaki merupakan sendi-sendi yang paling sering diserang. Sendi lain yang bisa mengalami serangan ini antara lain sendi tulang belakang, leher, bahu, pinggul dan rahang. Gejala paling umum dari rheumatoid arthiritis adalah nyeri atau kaku sendi pada pagi hari selama lebih dari satu jam. Rasa nyeri biasanya simetris atau nyeri pada kedua sisi sendi. Tanda dan gejala lain adalah:
Pemeriksaan penyakit rematik
Seseorang yang didiagnosa menderita rheumatoid arthritis, apabila pada pemeriksaan darah ditemukan RF positif. Kadar RF juga dapat digunakan untuk menentukan keganasan/agresivitas penyakit. Kelemahan tes ini adalah pada gejala awal pemeriksaan RF, 20% cenderung menunjukkan hasil negatif.
Untuk mengatasi masalah tersebut pemeriksaan RF dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan anti-CCP IgG. Anti CCP IgG merupakan penanda baru yang memiliki akurasi 98% untuk mendeteksi penyakit rematik.
Selain itu juga dapat dilakukan pemeriksaan darah lengkap seperti Hb, Lekosit, trombosit dan LED.
Penanganan penyakit rematik
Berikut beberapa obat yang dapat digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis:
1. NSAIDs (Nonstreroidal anti-Infammatory drugs)
NSAIDs dapat menekan dan mengurangi inflamasi (pembengkakan). Yang termasuk NSAIDs adalah ibufropen (advil, motrin dan naproxen). Pemakaian NSAIDs dalam jangka waktu lama mengakibatkan iritasi lambung, telinga berdenging dan menyebabkan kerusakan pada jantung, hati dan ginjal.
2. Steroid
Obat-obat corticosteroid seperti prednisone, dapat mengurangi imflamasi dan rasa nyeri serta memperlambat kerusakan sendi. Steroid memiliki efek samping meningkatkan berat badan, menimbulkan katarak dan diabetes. Dosis pemberian obat ini akan diturunkan seiring dengan pencapaian tujuan.
3. DMARDs (Disease-modifying AntiRheumatic Drugs)
Terapi DMARDs termasuk methotrexate (trexall), leflunomide (Arava), hydroxychloroquine (plaquenil), sulfasalazine (azulfidine), minocyline (dynacin, minocin, dll) berfungsi memperlambat prognosis rheumatoid arthritis ke arah yang lebih buruk, dan melindungi sendi dan jaringan sendi dari kerusakan permanen. Efek samping obat ini adalah menyebabkan kerusakan hati, mensupresi sumsum tulang dan menyebabkan infeksi paru-paru.
4. Immunosuppresants
Jenis obat ini membantu mempertahankan daya tahan tubuh. Contoh immunosuppressant adalah azathioprine (Imuran, Azasan), cyclosporine (Neoral, Sandimmune, Gengraf) dan cyclophosphamide (Cytoxan).
5. TNF-alpha inhibitors (Tumor necrosis factor-alpha)
TNF-alpha membantu mengurangi rasa sakit dan pembengkakan sendi. Efek obat ini meningkatkan resiko infeksi, menyebabkan kerusakan jantung dan kanker.
Berikut beberapa prosedur pembedahan yang dapat dilakukan untuk meringankan keluhan penderita rheumatoid arthritis:
1. Total joint replacement
Pada prosedur pembedahan ini, ahli bedah akan membuang bagian sendi yang rusak dan menganti bagian tersebut dengan metal atau plastic khusus.
2. Tendon repair
Imflamasi menyebabkan tendon disekitar sendi pecah atau mengalami kerusakan. Ahli bedah akan memperbaiki tendon yang rusak tersebut.
3. Joint fusion
Bedah pengabungan sendi disarankan untuk memperoleh kembali keseimbangan tubuh dan menekan rasa sakit.
Jika anda mengalami tanda dan gejala diatas segera lakukan pemeriksaan dan dapat penanganan yang tepat, anda perlu mengingat jenis penyakit ini tidak mengenal usia, suku dan ras.