informasitips.com - Pada artikel sebelumnya, yaitu HIV/AIDS dan Kehamilan (1), kita sudah banyak membahas apakah seorang yang mengidap AIDS diperbolehkan hamil atau tidak. Selanjutnya, di artikel ini, kita akan melanjutkan kembali pembahasan mengenai HIV/AIDS dan kehamilan, mulai dari perawatan selama masa kehamilan sampai ke masalah menyusui bayi yang dilahirkan oleh seorang penderita AIDS.
Perawatan selama kehamilan
Prinsip perawatan kehamilan bagi pengidap HIV/ AIDS adalah “merawat diri anda sebaik mungkin berarti merawat bayi anda”. Jika seorang penderita menjaga kesehatan dirinya dengan optimal maka bayinya juga akan sehat.
Pilihan melahirkan
Ibu hamil dengan HIV/AIDS bisa melahirkan secara normal dengan syarat viral load tidak terdeteksi. Cara ini cukup aman karena bedah sesar lebih mungkin menimbulkan infeksi. Namun jika viral load tinggi maka pilihan terbaik adalah bedah sesar untuk memperkecil resiko penularan pada bayi. Penularan HIV/AIDS dari ibu ke janin lebih tinggi daripada saat hamil karena saat melahirkan bayi akan terkena cairan v*g*n* serta terjadi luka.
Infeksi oportunistik yang bisa diturunkan
Ibu dengan AIDS yang telah terinfeksi berbagai penyakit bisa menularkannya pada bayi. Virus hepatitis C akan menurun pada janin dengan angka kemungkinan 76%, hepatitis B menurun ke janin hingga 90%, TBC bisa menurun pada janin selama kehamilan maupun setelah lahir, dan beberapa penyakit lainnya seperti herpes, sifilis, gonorrhea, dan lain-lain. Untuk mencegahnya bisa menggunakan profilaksis selama kehamilan maupun setelah bayi lahir. Dokter akan memberikan terapi yang sesuai, karenanya katakan semua keluhan dan penyakit pada dokter demi anda dan bayi.
Menyusui, yes or not?
Virus HIV/AIDS juga bersarang pada ASI. Jika bayi tidak terinfeksi HIV maka dia bisa terjangkit virus ini dari ASI. Namun ASI memiliki berbagai antibodi yang tidak bisa didapat dari susu formula. Seorang bayi yang telah terjangkit HIV akan lebih parah jika diberi PASI apalagi kalau airnya kurang bersih. Masalahnya anda baru bisa mengetahui apakah bayi positif atau negatif setelah 18 bulan. Jadi keputusan menyusui atau tidak masih ada ditangan anda. Hal yang paling penting adalah jangan mencampur ASI dengan PASI karena akan memperparah keadaan bayi. Jika ibu memutuskan untuk menyusui maka segera berikan bayi pada ibu.
Kapan mengetahui status bayi?
Semua bayi akan mendapati hasil tes positif seketika dilahirkan. Hal ini dikarenakan bayi memiliki antibodi HIV dari ibu dan tes yang dilakukan berdasarkan antibodi HIV yang ada. Tes dilakukan sembilan bulan setelah kelahiran. Apapun hasilnya tes lagi saat usia satu tahun. Jika negatif berarti bayi tidak terinfeksi, jika positif lakukan tes tiga bulan kemudian, usia 15 bulan, dan 18 bulan. Jika sampai usia 18 bulan hasil tes masih positif berarti bayi terjangkit HIV. Antibodi HIV dalam darah bayi akan menghilang sembilan sampai delapanbelas bulan jika bayi tidak terinfeksi virus HIV. Jika bayi sudah dinyatakan terinfeksi maka akan dilakukan terapi yang lebih rumit untuk memperpanjang hidupnya. Hati-hati memberikan makanan pada bayi dengan HIV karena kuman lebih cepat menyerangnya. Bayi juga memiliki kekebalan yang lebih rendah dari orang dewasa, jadi anda harus ekstra menjaga kesehatannya.