Informasi dan Tips – informasitips.com

Seberapa Penting Taurin Bagi Bayi?

informasitips.com – AIR susu ibu (ASI) merupakan menu utama dan satu-satunya bagi bayi di bawah usia enam bulan. Pemberian ASI dalam rentang usia itu dinamakan ASI eksklusif, karena tidak ditambahi makanan dan minuman lain. Bayi di atas usia enam bulan hingga dua tahun, tetap dianjurkan mendapatkan ASI sebagai sumber nutrisi, tetapi didampingi makanan tambahan yang cukup dan sesuai dengan usia bayi.

ASI memiliki beberapa komponen utama nutrisi yang dibutuhkan dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi, salah satunya adalah protein. Fungsi protein bagi bayi di antaranya adalah untuk menunjang pertumbuhan, memelihara jaringan tubuh, dan membentuk antibodi untuk menjaga kekebalan tubuh dari berbagai serangan penyakit.

Salah satu komponen pembentuk protein adalah taurin. Dibanding DHA, AA dan Omega 3, unsur taurin memang tidak terlalu populer karena tidak banyak ditonjolkan, terutama pada pariwara produk-produk susu formula bayi di media cetak maupun media elektronik.

Taurin adalah asam amino non-esensial. Asam amino itu menjadi komponen dasar pembentuk protein. Perlu diketahui, protein terdiri atas kumpulan asam amino. Ada dua jenis asam amino, yaitu asam amino esensial dan asam amino non-esensial.

Taurin, senyawa yang sangat penting untuk bayi
Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh, sehingga harus didapat dari konsumsi makanan. Sedangkan, asam amino non-esensial adalah asam amino yang bisa diproduksi sendiri oleh tubuh. Salah satu yang termasuk asam amino non-esensial ini adalah taurin.

Selain itu, taurin juga dikenal sebagai asam amino sulfonat, yaitu asam organik yang dapat ditemukan dalam cairan empedu. Cairan empedu ini dihasilkan hati. Dalam empedu, taurin berfungsi untuk membantu dalam mengatur lemak, termasuk juga membantu dalam penyerapan vitamin yang larut dalam lemak yang telah kita konsumsi setiap hari.

Taurin juga meningkatkan kerja asam empedu dalam mengikat kolesterol. Ketika lemak darah terkuras, zat toksin juga akan ikut terbuang lebih banyak. Nah, pengurasan lemak darah dan zat toksin membawa pengaruh terhadap penyusutan timbunan lemak tubuh yang mengakibatkan berat badan berkurang. Peran taurin yang juga tidak kalah pentingnya adalah memperlancar hubungan antarsel dalam otak dan fungsi sistem saraf.

Beberapa penelitian menyebutkan taurin dapat meminimalkan risiko kardiovaskular (sistem peredaran darah) seperti menurunkan tekanan darah. Taurin pun mampu meredakan “stres otak”, yakni kondisi ketegangan dalam saraf otak. Dampak stres ini menimbulkan beberapa gangguan, seperti gelisah, uring- ringan, sensitivitas, kelelahan kronis, dan depresi.

Tubuh manusia sebenarnya hanya memerlukan sedikit taurin. Unsur ini sudah bisa tercukupi karena dapat dihasilkan dalam tubuh kita sendiri sebagai hasil produksi dari asam amino lainnya, seperti sistein dan/atau metionin yang dibantu dengan asupan piridoksin (vitamin B6).

Kekurangan taurin sebagian besar disebabkan kurangnya asupan nutrisi yang menjadi bahan utama pembentuk taurin. Nah, taurin sangat mudah diperoleh dalam berbagai makanan hewani, tapi tidak ada dalam makanan nabati. Sumber makanan yang mengandung taurin adalah daging ternak (kambing dan sapi), daging unggas (ayam dan bebek), berbagai ikan laut dan air tawar, serta makanan dari hasil laut, seperti, kerang, udang, cumi-cumi, dan sebagainya.

Namun, hal di atas belum berlaku bagi bayi, khususnya yang di bawah enam bulan. Dalam usia tersebut tubuh bayi belum memiliki kemampuan memproduksi taurin. Padahal, kebutuhan nutrisi taurin ini sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Itu sebabnya bayi harus diberikan ASI yang memang mengandung cukup taurin dan komponen-komponen nutrisi penting lainnya. Bahkan, kecukupan asupan taurin sistein, vitamin B6, dan sebagainya harus diperhatikan sejak bayi masih dalam rahim sang ibu.

Kandungan taurin yang terdapat pada ASI lebih tinggi dibanding dengan sejumlah mamalia lain, seperti sapi dan kuda. Jadi, sebagian besar susu formula yang diperoleh dari sapi memiliki kandungan taurin yang sangat rendah, bahkan tidak ada. Tidak mengherankan jika pemberian ASI kepada bayi sangat dianjurkan. Lembaga-lembaga seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), badan resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan anak (UNICEF), dan Kementerian Kesehatan RI pun sangat mendukung anjuran ini.

Akan tetapi, dalam beberapa hal tidak semua bayi bisa mendapat ASI. Mereka, bayi-bayi yang tidak bisa mendapatkan ASI tersebut harus diberi susu formula yang diperkaya taurin.

Meski hanya sedikit dibutuhkan tubuh, taurin ternyata mempunyai manfaat yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi. Taurin berperan dalam pematangan sel saraf otak dan retina (mata); pertumbuhan dan perkembangan, termasuk perkembangan reproduksi neonatus (masa kehidupan pertama bayi di luar rahim hingga usia 28 hari, dimana terjadi perubahan sangat besar dari kehidupan bayi di dalam rahim menjadi di luar rahim); meningkatkan imunitas bayi dan berperan dalam memproteksi bayi dari berbagai infeksi dan gangguan pencernaan; dan membantu sistem pencernaan anak dalam mengurai lemak serta membantu fungsi hati. Taurin yang sering dituliskan dalam label susu formula dan makanan kaleng untuk bayi-balita, kebanyakan menyebutkan manfaatnya sebagai pemacu tumbuh kembang bayi dan balita serta untuk menunjang kecerdasan.

Jadi, jangan remehkan kebutuhan taurin bagi bayi kita jika ingin memiliki anak yang tumbuh-kembang sesuai dengan harapan sempurna sang ibu.



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FOLLOW INFORMASITIPS

ARTIKEL PILIHAN

NEWSLETTER

Dapatkan Informasi dan Tips terbaru langsung ke Email Anda. Masukkan alamat Email Anda di bawah ini, kemudian klik langganan: