Informasi dan Tips – informasitips.com

Bayi Tidak Merangkak, Normalkah?

informasitips.com – Masa-masa pertumbuhan dan perkembangan bayi dari sejak lahir adalah momen yang paling mengesankan bagi para ibu. Pada masa itu, pertumbuhan dan perkembangan bayi terlihat sangat cepat dan jelas setiap bulannya, dari mulai bayi bisa mengeluarkan suara pertamanya, mampu menggenggam benda, kemudian dapat tengkurap, merangkak, sampai bisa berjalan.

Akan tetapi, ada beberapa bayi yang melewatkan tahap-tahap tertentu dalam fase perkembangannya, misalnya, bayi yang langsung bisa berjalan tanpa merangkak terlebih dulu. Normalkah kondisi seperti itu?

Masyarakat umumnya beranggapan bahwa pertumbuhan dan perkembangan adalah satu hal yang sama. Tetapi, sebenarnya, kedua hal tersebut adalah dua hal yang berbeda.

Pertumbuhan adalah perubahan fisik tubuh dalam hal ukuran, besar, dan proporsi tubuh dengan semakin bertambahnya jumlah dan besar sel tubuh. Pertumbuhan dapat diukur secara kuantitatif dengan satuan berat (gram, kilogram), satuan panjang (cm, m), umur tulang, dan lain-lain.

Sedangkan, perkembangan adalah bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh. Perkembangan merupakan hasil interaksi antara proses kematangan susunan syaraf pusat dan organ yang dipengaruhinya.

Bayi langsung berjalan tidak merangkak dulu wajarkah

Meskipun pertumbuhan dan perkembangan mempunyai arti yang berbeda, keduanya berlangsung secara teratur, saling mempengaruhi dan berkesinambungan yang dimulai sejak pembuahan sampai dewasa. Proses pertumbuhan dan perkembangan pada anak ini dinamakan tumbuh-kembang anak.

Salah satu tahapan dalam proses perkembangan anak adalah fase merangkak. Walaupun kemampuan dan perkembangan setiap anak berbeda-beda, fase ini umumnya terjadi pada rentang umur anak 6 –10 bulan. Ketika anak mulai merangkak, orangtua begitu menikmati momen tersebut karena melihat anaknya mulai bisa bereksplorasi pada lingkungan sekitarnya secara mandiri untuk pertama kalinya. Rasanya tidak sabar untuk segera melihatnya menuju fase selanjutnya yaitu berjalan, berlari, dan seterusnya.

Merangkak merupakan fase yang biasa dilalui bayi sebelum mulai berjalan, yaitu fase antara duduk dan berdiri. Dalam fase merangkak ini, bayi mempersiapkan diri untuk menuju fase berikutnya, yaitu berjalan. Ia belajar memperkuat otot-otot tangan dan kaki untuk membantu mengangkat tubuh dan berpindah tempat. Dengan merangkak, bayi akan belajar cara menyeimbangkan antara tangan dan lutut atau kakinya. Bayi pun berusaha untuk mengenal lingkungan sekitarnya dengan caranya sendiri.

Satu hal yang perlu diketahui orang tua adalah bahwa bayi merangkak dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang merangkak dengan tangan dan kakinya, merangkak bergeser dengan menggunakan perutnya, ada juga yang merangkak bergeser dengan menggunakan pantat dan kakinya (seperti mengesot), ataupun dengan yang paling umum adalah merangkak dengan tangan dan lututnya.

Beberapa sumber menyebutkan fase merangkak tidak harus ada pada setiap anak karena itu bukan merupakan patokan penting dalam tahap perkembangan. Berbeda halnya dengan fase duduk, berdiri, atau berjalan yang memang harus ada. Anak yang langsung berdiri tanpa melalui fase merangkak tidak berkaitan dengan kecerdasannya. Itu juga bukan berarti anak yang melalui fase merangkak memiliki koordinasi lebih bagus karena koordinasi tangan dan kaki bisa juga dalam bentuk bermain-main dengan tangan dan kakinya.

Hingga saat ini belum ada data yang menunjukkan efek negatif terhadap bayi yang berjalan tanpa melalui fase merangkak. Banyak anak yang tidak mengalami hambatan apa pun dalam fase perkembangannya walaupun tidak merangkak.

Namun, beberapa sumber lain menyebutkan bahwa bayi yang tidak melalui fase merangkak kelak akan mengalami keterlambatan dalam hal menguasai keterampilan menulis, berpakaian, atau memanjat. Karena, dengan tidak merangkak, otot bagian atas tubuhnya menjadi kurang terlatih, termasuk otot tangan.

Menurut Glenn Doman, perintis bidang perkembangan otak kanan, kegiatan merangkak dapat merangsang otak untuk mengembangkan konvergensi visi sehingga anak yang melewati fase ini (tidak merangkak) akan menemui kesulitan dalam belajar membaca dan menulis, dan mungkin juga mengalami masalah dalam berbicara. Hal tersebut masih dalam perdebatan para ahli.

Meskipun demikian, orang tua tidak perlu terlalu cemas bila anak tidak merangkak. Apabila ada kekhawatiran terhadap perkembangan fisik lainnya, selain merangkak, sebaiknya segera diskusikan dengan dokter anak. Satu hal yang sebenarnya, harus diingat oleh para orang tua adalah yang terpenting anak masih berusaha untuk bergerak, tidak perduli dengan cara bagaimanapun anak belajar melakukannya.

Yang lebih penting lagi adalah sudahkah anak diberi stimulasi (rangsangan) yang cukup untuk belajar merangkak? Karena kemungkinan anak tidak merangkak karena kurangnya stimulus (rangsangan), seperti anak yang sering dibaringkan telentang akan terlambat merangkak atau bahkan mungkin tidak merangkak, karena kebiasaan ia berbaring terlentang dapat menghambat kemampuannya merangkak. Anak yang terlalu sering digendong pun akan malas untuk berusaha bergerak dengan kemampuannya. Oleh karena itu, bagi para orangtua, sebaiknya berilah waktu yang cukup pada bayi Anda untuk berbaring telungkup agar dapat merangsang anak untuk mencoba bergerak dengan posisi perut di bawah.

Berikut ini, ada beberapa stimulasi (rangsangan) yang dapat dilakukan oleh orang agar anak mau belajar merangkak. Akan tetapi, sebelumnya, perlu diperhatikan bahwa stimulasi (rangsangan) ini diberikan bila anak sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda akan merangkak. Jadi, tidak boleh dipaksakan bila anak belum menunjukkan tanda-tanda akan merangkak.

Berikut beberapa rangsangan agar bayi/anak bisa merangkak:

  1. Pertama-tama Anda harus memastikan bahwa anak sudah mampu tengkurap bolak balik sehingga mampu menopang tegak tubuhnya saat ia tengkurap.
  2. Untuk memudahkan gerakan anggota badan dan sendi, biarkan kaki, lutut, dan siku dalam keadaan telanjang untuk memudahkannya bergerak.
  3. Bila anak (bayi) sudah mulai memperlihatkan gerakan merangkak dengan perut, cobalah dengan menggantung mainan kesukaannya di luar jangkauan agar anak yang sedang dalam posisi tengkurap itu berusaha begerak maju untuk meraih mainannya tersebut. Berikan dorongan sedikit dan secara halus pada bagian bokongnya untuk merangsangnya supaya maju.

    Mainan kesukaan anak bisa juga diganti dengan sesuatu benda yang sangat menarik perhatian anak. Biasanya benda-benda (mainan) baru akan menimbulkan rasa penasaran dan keingintahuan yang lebih besar dalam diri bayi. Karena rasa penasarannya itulah maka bayi akan berusaha untuk meraih dan memegang benda yang baru diliatnya itu. Saat bayi sudah mulai berusaha bergerak maju ke depan, coba perlahan-lahan mundurkan benda atau mainan yang ingin diraihnya tersebut. Dengan cara seperti ini, anak tidak sadar bahwa perlahan-lahan ia sudah belajar untuk merangkak.

  4. Pada saat anak sudah mulai menunjukkan tanda akan merangkap, biarkan dia mengeksplorasi sekitarnya. Pada masa ini kita harus waspada agar anak jangan sampai terjatuh karena gerakannya sudah mulai banyak.

    Orang tua juga harus lebih hati-hati lagi dalam menjaga anak yang sudah bisa merangkak. Saat ia sudah bisa bergerak merangkak kesana kemari, maka segala hal yang ditemuinya akan dipegang. Bukan tidak mungkin benda-benda kecil yang ditemuinya saat bereksplorasi di lantai bisa jadi berukuran kecil atau tajam. Benda-benda seperti itu tentunya berbahaya karena beresiko bisa tertelan dan melukai anak.

Itulah beberapa hal penting yang perlu diketahui oleh orang tua seputar fase merangkak dan stimulasi agar bayi bisa merangkak. Semoga bermanfaat.



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

4 thoughts on “Bayi Tidak Merangkak, Normalkah?

  1. rine ningrum

    Dok.anak saya Ųϑãђ 11bln blm bisa duduk yg benar(masih goyang”)juga blm bisa merangkak tp kemana” gerakannya slalu terngkureb spt abri,apakah itu normal?makasih

  2. admin

    Halo Bunda Rine Ningrum,

    Umumnya bayi memang merangkak dengan gaya merangkak normal yaitu merangkak dengan tangan dan lutut. Namun, banyak juga bayi yang tidak merangkak dengan cara/gaya yang demikian, dan hal tersebut adalah normal dan wajar-wajar saja. Ada banyak macam gaya merangkak bayi, ada yang merangkak dengan perut (gaya abri seperti yang Bunda sebutkan), adan yang merangkak dengan tangan dan tapak kaki (bukan dengan lutut kaki -> seperti beruang jalan), ada juga yang merangkak dengan gaya seperti mengesot. Selama bayi tetap bergerak, semuanya itu normal dan wajar saja. Untuk kemampuan duduknya, berikan stimulasi terus ya bunda dengan cara banyak didudukan. 🙂

  3. dian ratih kurniawati

    Dokter…..saya mau bertanya. Anak saya yg kedua (perempuan) skrg berumur 10 bln. Saat ini dia sudah bisa tengkurap. Tapi untuk meraih benda yg dia inginkan, dia bergerak dengan cara menggelindingkan/menggulingkan badannya. Apakah hal ini normal? Sedang anak saya yg pertama (laki-laki, skrg 8 tahun) dulu juga tidak merangkak, tapi mengesot. Mohon penjelasannya Dokter. Terimakasih.

  4. informasitips

    @dian ratih kurniawati
    Halo Ibu Dian, merangkak tidak termasuk perkembangan wajib yang harus dicapai anak. Banyak anak yang tidak merangkak, namun tumbuh kembangnya baik-baik saja. Selama anak berupaya untuk bergerak, entah itu dengan cara mengesot, atau menggelindingkan badannya, hal tersebut termasuk normal.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *