Informasi dan Tips – informasitips.com

Waspadai Kanker Serviks (Kanker Leher Rahim)

informasitips.com – Kanker serviks merupakan salah satu penyakit yang cukup dikenal wanita selain kanker pay*d*ra. Hal ini tidak mengherankan karena kanker serviks, atau dikenal juga sebagai kanker mulut rahim, merupakan keganasan yang kedua paling banyak terjadi pada wanita di seluruh dunia, setelah kanker pay*d*ra.

Di negara maju seperti Amerika Serikat, kanker serviks merupakan penyebab keganasan nomor 4, sedangkan di negara berkembang kanker serviks masih merupakan penyebab kematian yang utama. Hal ini dapat terjadi karena di negara-negara maju sudah umum dilakukan skrining untuk penyakit tersebut sehingga dapat diobati sebelum berkembang menjadi keganasan. Di negara berkembang seperti Indonesia, skrining kanker serviks sulit dijadikan suatu hal yang umum karena terbentur masalah sosial ekonomi yang rendah, keterbatasan sumber daya, keterbatasan fasilitas, serta derajat pendidikan yang masih rendah.

Di Indonesia sendiri, kanker serviks merupakan penyebab utama kematian akibat keganasan pada wanita. Kurang lebih 36% dari penderita keganasan di Indonesia adalah penderita kanker serviks. Pada tahun 2002 terdapat 15.050 kasus baru dimana setengah jumlahnya, yaitu 7.566 kasus, mengalami kematian. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya. Apa yang membuat angka kematian akibat kanker ini begitu tinggi? Jawabannya adalah karena pada stadium awal, kanker serviks tidak memiliki gejala. Ketika sudah muncul gejala, kanker biasanya sudah memasuki stadium lanjut dan lebih sulit untuk diobati.

Waspada Kanker serviks kanker leher rahim

Reputasi kanker serviks memang cukup menakutkan. Namun sebenarnya penyakit ini merupakan penyakit yang dapat diobati dan sembuh dengan baik, asalkan terdeteksi saat masih dini. Karena itu para wanita harus memahami penyebab dan gejala kanker serviks, juga cara mendeteksinya sejak dini.

PENYEBAB
Kanker serviks tidak semata-mata terjadi karena satu penyebab. Mulainya perjalanan penyakit ini dipicu oleh HPV (Human Papiloma Virus), yaitu suatu jenis virus yang menyebabkan timbulnya kutil di bagian kelamin. Satu fakta yang penting dan cukup membuat khawatir, virus ini adalah jenis virus yang umum dan terdapat pada kebanyakan orang. Virus ini bila berhasil masuk ke sel-sel mulut rahim dapat mengubah sifatnya menjadi ganas sehingga muncul kanker. Berikut adalah beberapa fakta penting mengenai HPV:

  • Terdapat 30 jenis HPV yang dapat menginfeksi kelamin manusia, namun hanya 4 jenis yang paling banyak menimbulkan penyakit
  • Setiap hari, terdapat 12.000 orang berusia 15-24 yang terinfeksi HPV
  • 8 dari 10 wanita akan terinfeksi HPV pada suatu waktu dalam hidupnya
  • Dalam satu penelitian yang dilakukan pada wanita-wanita di suatu universitas, didapatkan bahwa 60% dari subjek akan terinfeksi HPV setelah tahun ketiganya
  • Infeksi HPV bisa terjadi ketika terdapat perlukaan pada permukaan leher rahim, seperti misalnya jika timbul lecet-lecet akibat hubungan . Namun tanpa ada hubungan pun seorang wanita masih dapat terinfeksi HPV.

Mengetahui fakta-fakta tersebut cukup mengagetkan, bukan? Jika semudah itu bagi wanita untuk terinfeksi HPV, maka seharusnya lebih dari setengah wanita di dunia akan terkena kanker serviks. Untungnya, tubuh manusia memiliki perlindungan terhadap serangan virus semacam ini. Kebanyakan dari wanita yang terinfeksi HPV akan sembuh sendiri, namun beberapa akan berkembang menjadi keganasan.

Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks:

  1. Pernikahan/hubungan pada usia muda
    Semakin muda usia ketika pertama kali melakukan hubungan , semakin besar resiko untuk terkena kanker serviks. Dari penelitian didapatkan bahwa perempuan yang melakukan hubungan s*ks pertama kali pada usia di bawah 17 tahun memiliki resiko 3 kali lebih besar dibanding yang berusia di atas 20 tahun. Hal ini disebabkan struktur mulut rahim yang lebih rentan terhadap infeksi belum terlindungi sepenuhnya ketika masih berusia muda. Karena itu virus akan lebih mudah menyerang sel-sel tersebut.

  2. Berganti-ganti pasangan
    Resiko terkena kanker serviks meningkat 10 kali lipat pada wanita dengan partner 6 orang atau lebih. Hal ini juga berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan penularan penyakit menular .
  3. Trauma kronis pada serviks
    Trauma ini misalnya akibat persalinan dengan penanganan yang tidak baik dan infeksi/radang menahun, termasuk infeksi penyakit menular .
  4. Penggunaan DES (dietilstilbestrol)
    DES merupakan obat hormonal yang banyak digunakan pada tahun 1940-1970.
  5. Defisiensi zat gizi
    Pada beberapa penelitian ditemukan bahwa defisiensi asam folat serta diet rendah karoten dapat meningkatkan resiko terkena kanker serviks.
  6. Merokok
    Wanita perokok memiliki resiko terkena kanker serviks 2 kali lipat lebih besar dibandingkan wanita yang tidak merokok. Dari penelitian ditemukan bahwa zat-zat yang ditemukan pada rokok juga ditemukan pada lendir di serviks, menurunkan daya tahan serviks serta merupakan karsinogen.



TANDA DAN GEJALA
Kanker serviks merupakan penyakit yang berkembang perlahan-lahan. Dibutuhkan waktu kurang lebih sepuluh tahun atau lebih dari sejak mulai terinfeksi HPV hingga berubah menjadi keganasan. Kanker serviks banyak ditemui pada wanita usia 45-49 tahun. Kemungkinan wanita-wanita tersebut terinfeksi HPV ketika berada di usia 20an. Semakin muda usia ketika kanker serviks memberikan gejala, semakin agresif sifat penyakit tersebut dan perkembangannya akan menjadi lebih cepat.

Pada tahap awal, kanker serviks tidak memiliki gejala. Pada tahap selanjutnya, dapat muncul gejala berupa:

  • Keputihan atau keluar cairan dari v*g*n*, yang semakin lama akan berbau busuk dan berwarna kekuningan akibat adanya infeksi dan kematian jaringan
  • Perdarahan dari v*g*n*
  • Perdarahan dari v*g*n* setelah berhubungan (post coital bleeding)
  • Perdarahan pasca menopause
  • Nyeri panggul
  • Jika perdarahan dari v*g*n* berlangsung terus menerus, dapat muncul gejala kurang darah seperti pucat, lemas, lesu

  • Jika sudah terjadi metastasis atau penyebaran kanker, dapat timbul gejala seperti nyeri berkemih, sulit BAB atau BAB berdarah, dan lain-lain. Selain itu, penderita juga akan kehilangan berat badan



DIAGNOSIS DAN PENGOBATAN
Diagnosis kanker serviks diambil berdasarkan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan jaringan untuk menentukan jenis sel-sel kanker. 2 bentuk sel keganasan yang biasanya muncul yaitu karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma.

Staging atau tahap dari kanker serviks ditentukan berdasarkan penilaian mengenai:
– Ukuran tumor
– Status kelenjar getah bening
– Invasi ke jaringan parametrium (jaringan di sekitar rahim)
– Kedalaman invasi
– Ada tidaknya invasi ke jaringan limfatik

Penentuan staging penyakit berguna untuk menentukan jenis pengobatan yang akan diberikan. Terdapat berbagai pilihan terapi yang penggunaannya tergantung staging dan kondisi pasien. Untuk pasien tahap awal dengan lesi kanker berukuran kecil , dapat dilakukan pemotongan bagian serviks yang sudah berubah menjadi ganas dengan teknik LEEP (Loop Electrosurgical Excision Procedure), konisasi atau krioterapi. Sedangkan untuk tahp lanjut atau kanker yang berukuran besar, dapat dilakukan operasi pengangkatan rahim (histerektomi) disertai dengan radioterapi.


PENCEGAHAN
1. Pencegahan primer

  • Menunda hubungan hingga setelah berusia 20 tahun dan berhubungan secara monogami
  • Penggunaan kontrasepsi barier. Namun penelitian terbaru menyatakan bahwa penggunaan kondom belum tentu mencegah penularan virus HPV sepenuhnya.
  • Vaksin HPV
    Vaksinasi HPV dapat diberikan pada usia 9-26 tahun. Pemberian vaksinasi dapat memberikan proteksi terhadap infeksi hingga >90%. Namun vaksinasi tersebut tidak memiliki efek pada individu yang sudah positif terinfeksi HPV. Karena itu, idealnya vaksinasi HPV dilakukan sebelum dimulainya aktivitas . Menurut penelitian, pemberian vaksin HPV pada anak berusia 12 tahun dapat memberikan proteksi hingga 100%. Tidak dianjurkan bagi wanita hamil untuk melakukan vaksinasi HPV, namun wanita menyusui boleh melakukan vaksinasi.

    Vaksin HPV diberikan dalam satu serial berisi 3 kali suntikan intramuskular dalam kurun waktu 6 bulan. Vaksin kedua diberikan 1 bulan setelah suntikan pertama, dan vaksin ketiga diberikan 6 bulan setelah suntikan pertama. Harga vaksin HPV masih terbilang cukup mahal, namun pertimbangkanlah manfaat yang bisa didapatkan serta pikirkan biaya tersebut sebagai investasi masa depan. Bagaimanapun, harga 3 kali vaksin HPV masih termasuk sangat murah dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengobati kanker serviks jika sudah terlanjur berkembang.

2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder tujuannya adalah untuk mendeteksi adanya lesi pada serviks, sehingga dapat diobati sebelum berkembang menjadi keganasan. Terdapat 2 pilihan tes yang dapat dilakukan:

  • Tes IVA (Inspeksi Visual menggunakan Asam Asetat)
    Pada tes ini serviks akan dioles dengan menggunakan larutan asam asetat (cuka). Jika terdapat lesi kanker maka akan tampak perubahan warna menjadi keputihan. Tes ini mudah dilakukan, alat dan bahan sederhana dan hasilnya bisa langsung diketahui
  • Tes PAP Smear
    Pada tes ini mulut rahim dan sedikit leher rahim akan diusap menggunakan suatu sikat khusus berukuran kecil yang halus. Hasil apusan tersebut kemudian diapuskan ke kaca objek, diberi pewarnaan khusus, lalu diteliti di bawah mikroskop untuk dilihat apakah ada perubahan sel ke arah keganasan. Hasil pemeriksaan PAP Smear lebih akurat dibandingkan tes IVA.

    Program pemeriksaan/skrining yang dianjurkan untuk kanker serviks menurut WHO: Skrining pada setiap wanita minimal satu kali pada usia 35-40 tahun. Jika fasilitas tersedia, lakukan tiap 10 tahun pada wanita usia 35-55 tahun. Jika fasilitas tersedia lebih, dapat dilakukan setiap 5 tahun pada wanita usia 35-55 tahun. Untuk yang ideal atau optimal, sebaiknya dilakukan setiap 3 tahun pada wanita usia 25-60 tahun.

    Bagi wanita yang memulai aktivitas sejak usia di bawah 18 tahun, atau memiliki beberapa pasangan , atau memiliki pasangan hubungan yang level aktivitas nya tidak diketahui, sebaiknya melakukan pemeriksaan PAP Smear setiap tahun dimulai sejak aktif berhubungan . Sedangkan bagi wanita yang memiliki riwayat penyakit menular berulang, sebaiknya dilakukan setiap 6 bulan.



    loading...
    Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FOLLOW INFORMASITIPS

ARTIKEL PILIHAN

NEWSLETTER

Dapatkan Informasi dan Tips terbaru langsung ke Email Anda. Masukkan alamat Email Anda di bawah ini, kemudian klik langganan: