Informasi dan Tips – informasitips.com

Waspada Anemia Pada Anak Bisa Turunkan Semangat Belajar

informasitips.com – Anemia adalah kondisi dimana seseorang mengalami kekurangan darah, terutama hemoglobin (Hb). Anemia tak hanya terjadi pada orang dewasa. Anak-anak juga bisa mengalami anemia. Dampaknya cukup mengkhawatirkan yaitu bisa menurunkan semangat dan prestasi belajar anak. Oleh karena itu, anemia pada anak sangat perlu dicegah.

Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), anak balita menderita anemia (kurang darah) bila kadar hemoglobinnya di bawah 11 g/dl, sementara anak-anak usia 5 tahun ke atas sampai usia remaja menderita anemia bila hemoglobinnya di bawah 12 g/dl. Peluang terjadinya anemia pada anak-anak bisa dikatakan tidak kecil, yaitu sekitar 39% terjadi pada anak balita, dan 24% pada usia 5-11 tahun.

Dilihat dari penyebabnya, terdapat beberapa jenis anemia. Anemia yang sering menyerang balita dan anak adalah anemia yang disebabkan karena kekurangan zat besi. Sementara kekurangan zat besi dalam tubuh anak dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain, berkurangnya zat besi dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari oleh anak, meningkatnya kebutuhan zat besi karena pertumbuhan yang cepat pada usia 6-18 tahun, adanya cacing tambang di dalam usus, atau seringnya anak terkena penyakit infeksi.

Fungsi Zat Besi

Zat besi atau ferro (Fe) adalah salah satu unsur zat gizi mikro yang penting bagi tubuh. Disebut zat gizi mikro karena hanya diperlukan tubuh dalam jumlah yang sedikit. Meskipun begitu, peranannya bagi tubuh sangatlah penting karena mineral ini merupakan unsur utama pembentuk hemoglobin sel darah merah. Untuk itu, tubuh tidak boleh sampai kekurangan zat besi, karena kekurangan zat besi akan menyebabkan turunnya produksi hemoglobin.

Kebutuhan Zat Besi Pada Anak

Kebutuhan zat besi tiap orang dibedakan berdasarkan kelompok usia dan jenis kelamin. Untuk balita, kadar zat besi yang dibutuhkannya per hari adalah antara 3-5 mg per hari. Sementara anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan membutuhkan 1.5 mg zat besi per hari, dan remaja membutuhkan sekitar 1.4 mg zat besi per hari.

Berikut kebutuhan zat besi harian untuk manusia berdasarkan usia dan jenis kelaminnya:
– Balita : 3-5 mg/hari
– Anak-anak : 1.5 mg/hari
– Remaja pria/wanita : 1.4 mg/hari
– Dewasa pria : 1 mg/hari
– Dewasa wanita : 1.4 mg/hari
– Wanita hamil : 5-6 mg/hari

Disebut anemia bila kadar hemoglobin:
– Anak usia 6 bulan – 5 tahun (balita) : < 11 g/dl - Anak 5-11 tahun : < 12 g/dl - Anak 11 tahun - remaja : < 12 g/dl - Pria dewasa : < 13 g/dl - Wanita dewasa : < 12 g/dl - Wanita hamil : < 11 g/dl

Dampak Anemia Kekurangan Zat Besi Pada Anak

Anak yang kekurangan zat besi akan menunjukkan gejala mudah lelah, lesu, pucat, kurang bersemangat, dan nafsu makannya menurun. Itulah sebabnya mengapa anak yang menderita anemia kekurangan zat besi semangat belajarnya menurun sehingga prestasi belajarnya pun ikut menurun. Daya tahan tubuh anak penderita anemia kekurangan zat besi juga rendah sehingga ia akan lebih mudah terserang sakit.

Kondisi yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah bila anemia kekurangan zat besi terjadi pada anak balita, karena bisa mengganggu tingkat kecerdasan anak. Dampak lain anemia pada balita adalah saat anak memasuki usia sekolahnya nanti, maka daya ingat anak dan kemampuan konsentrasinya anak cenderung rendah. Kapasitas memecahkan masalah juga rendah.

Sebenarnya, sejak lahir bayi sudah memiliki cadangan zat besi. Namun, jumlahnya sangat terbatas. Bayi yang lahir cukup bulan memiliki cadangan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya sampai usia 6 bulan. Tetapi, pada bayi yang lahir prematur (tidak cukup bulan), cadangan zat besi tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhannnya sampai usia 2-3 bulan.

Cara Mencegah Anemia Zat Besi Pada Anak

Mengingat dampaknya yang cukup berbahaya, maka anemia kekurangan zat besi tidak boleh sampai terjadi pada anak-anak. Oleh karena itu, orang tua perlu memastikan dan menjaga agar pasokan zat besi yang diperlukan anak tercukupi. Anda sebagai orang tua harus mencegah agar anak tidak sampai menderita anemia. Pencegahan yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah menghindari faktor pencetus anemia, yaitu menghindari infeksi penyakit. Selain itu, upayakan juga agar anak jangan sampai terkena cacing tambang. Penularan cacing dapat terjadi bila anak mengonsumsi makanan yang terkontaminasi telur cacing atau dapat juga melalui tangannya yang kotor. Oleh sebab itu, sangat penting untuk menjaga kebersihan makanan, dan sarankan anak untuk selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum makan.

Berikan anak nutrisi yang lengkap dan seimbang untuk menjamin terpenuhinya zat-zat gizi bagi tubuh. Zat besi dapat diperoleh dari sumber makanan hewani seperti daging, telur, ikan, dan hati. Zat besi yang terkandung dalam makanan hewani lebih mudah diserap tubuh, yaitu sekitar 20-30% zat besi akan diserap oleh tubuh. Sementara zat besi yang berasal sumber makanan nabati lebih sulit diserap tubuh. Hanya sekitar 10% zat besi dari sumber nabati yang bisa diserap tubuh. Sumber-sumber nabati yang kaya akan zat besi diantaranya adalah sayuran hijau seperti singkong, bayam, kangkung, sawi hijau, kacang-kacangan dan hasil olahannya seperti, kacang hijau, kacang merah, kacang kedelai, tahu, dan tempe.

Untuk mencegah timbulnya anemia kekurangan zat besi pada bayi, maka sejak bayi berusia 6 bulan disarankan untuk memberikan bayi makanan tambahan, yaitu MPASI (Makanan Pendamping ASI), terutama yang kaya akan kandungan zat besi. Pemberian ASI harus terus dilakukan sampai anak berusia 2 tahun agar kecukupan gizi bagi tubuhnya terpenuhi.



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *