Informasi dan Tips – informasitips.com

HIV/AIDS dan Kehamilan (1)

informasitips.com – HIV/AIDS masih menjadi penyakit paling menyeramkan bagi masyarakat Indonesia. Hingga saat ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkan penyakit ini secara mutlak. Pengobatan yang ada baik kimia, akupuntur, maupun herbal hanya berfungsi memperlambat perjalanan virus.

Perempuan dengan HIV/AIDS tentu memiliki hak yang sama dengan manusia lainnya, termasuk untuk memiliki keturunan. Banyak kasus membuktikan pengidap HIV bisa memiliki keturunan bahkan merawatnya hingga beberapa tahun. Terkadang seorang wanita menyadari dirinya mengidap HIV saat ia mengandung. Tentu HIV/AIDS bukanlah alasan untuk menggugurkan janin atau tidak memiliki keturunan, meski pilihan hamil dan melahirkan juga beresiko.

Beda HIV dan AIDS
Sebelum membahas lebih jauh mengenai ibu hamil dengan HIV/AIDS kita perlu mengetahui perbedaan antara keduanya. Hal ini penting karena berkenaan dengan perawatan kehamilan, cara persalinan, maupun pilihan untuk menyusui atau tidak.

Wanita HIV/AIDS memiliki keturunan (anak)

Gambar : lovecoverprotect.co.nz


HIV yang merupakan kependekan dari Human Immunodevisiensi Virus adalah keadaan dimana seseorang sedang terinfeksi sebuah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Di dalam tubuh kita terdapat sel darah putih yang berfungsi melawan segala macam bibit penyakit (virus, bakteri, jamur, parasit, dan lain-lain). Dalam sel darah putih ada bagian yang dinamakan CD4 yang berfungsi memberitahu adanya bibit penyakit sehingga tubuh mengeluarkan antibodi.Virus HIV menyerang bagian ini dengan cara membajak, kemudian merusaknya. Setelah satu CD4 rusak, dia akan berpindah ke CD4 yang lain hingga jumlah CD4 kurang dari 200. Pada masa inilah tubuh tidak bisa lagi melawan berbagai kuman sehingga kuman yang biasanya tidak mengganggu menjadi penyakit. Penyakit ini disebut infeksi oportunistik. Nah, sampai keadaan ini terjadi baru disebut AIDS. Perjalanan dari HIV sampai pada AIDS membutuhkan waktu lama, bahkan ada yang sampai sepuluh tahun.

Mengidap HIV/AIDS apakah boleh hamil?
Tidak ada bukti yang menyatakan kehamilan mengganggu kesehatan Odha (orang dengan HIV/AIDS). Ibu dengan HIV yang hamil memang mengalami penurunan jumlah CD4, namun jumlah tersebut akan meningkat setelah melahirkan.

Biasanya ibu dengan HIV/AIDS khawatir akan menularkan penyakit tersebut pada bayinya. Kini ada terapi ART yang bisa menurunkan resiko penularan HIV ke bayi hingga hampir nol persen. Jadi kehamilan dengan HIV/AIDS menjadi sangat mungkin dilakukan.

Hal yang perlu diperhatikan adalah kapan ibu itu hamil, apakah ketika CD4 masih dalam batas normal, atau saat ibu sudah mulai terjangkit AIDS. Sebenarnya saat jumlah CD4 kurang dari 200 pun masih bisa menjalani hidup sehat dan hamil dengan terapi ART, apalagi jika jumlah CD4 masih tinggi.

Terapi ART bisa dimulai sejak awal kehamilan, namun ada beberapa ibu yang mengkhawatirkan efek terapi terhadap janinnya. Jika demikian terapi bisa dilakukan setelah trimester pertama dengan syarat jumlah CD4 mencukupi dan ibu tidak terjangkit infeksi oportunistik.


Hamil dulu, baru positif HIV
Jika anda mengalami keadaan ini sebaiknya konsultasikan dengan dokter dan tetap bersikap tenang. Mengetahui positif HIV saat hamil memang bukan hal yang mudah karena anda mendapatkan dua masalah sekaligus. Tapi mengetahuinya masih lebih baik daripada tidak. Dengan mengetahui HIV sejak dini berarti pengobatan dan pencegahan tertularnya virus ini ke janin lebih bisa dicegah.

Cara mendapatkan keturunan
Bila seorang penderita HIV/AIDS ingin mendapatkan keturunan harus memperhatikan beberapa hal seperti apakah pasangan juga terinfeksi, cara aman untuk tidak menularkan pada pasangan, dan sebagainya. Jika penderita HIV/AIDS adalah laki-laki dan pasangannnya negatif maka mendapatkan anak menjadi lebih sulit karena virus ini berada pada cairan laki-laki dan cairan v*g*n*. Salah satu cara yang disarankan adalah cuci sperma karena sperma tidak terinveksi virus, namun anda harus mengeluarkan banyak uang. Cara lain bisa menggunakan kondom yang dilubangi ujungnya, namun tidak menjamin aman bagi pasangan. Jika ingin menggunakan cara kedua sebaiknya dilakukan saat perempuan sedang masa subur dengan jumlah viral load laki-laki hampir tidak terdeteksi sebagai upaya pencegahan.

Bila penderita HIV/AIDS adalah perempuan dan pasangannya negatif maka kehamilan lebih mudah didapat tanpa menularkan virus ini dengan cara insenminasi. Sperma laki-laki dimasukkan dalam gelas atau spuit lalu dimasukkan dalam rahim perempuan. Cara ini aman karena tidak perlu terjadi kontak langsung. Apabila kedua pasangan adalah ODHA maka pembuahan bisa dilakukan dengan menggunakan kondom yang dilubangi ujungnya. Berhubungan tanpa kondom beresiko terinfeksi virus HIV yang lain sehingga memperparah keadaan.

Baca juga lanjutannya di artikel HIV/AIDS dan Kehamilan (2)



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FOLLOW INFORMASITIPS

ARTIKEL PILIHAN

NEWSLETTER

Dapatkan Informasi dan Tips terbaru langsung ke Email Anda. Masukkan alamat Email Anda di bawah ini, kemudian klik langganan: