Informasi dan Tips – informasitips.com

Stunting, Indikator Gizi Kurang

Posted on by in , with 0 Comments

informasitips.com – Gizi baik dan gaya hidup sehat merupakan hal yang penting sepanjang siklus kehidupan untuk menjamin kesehatan optimal bagi individu dan generasi berikutnya. Ketika anak kehilangan hal tersebut, maka akan menjadi anak pendek (stunting). (Ferrari FBM, 2002).

Indikator yang paling baik untuk menggambarkan kekurangan gizi pada anak balita adalah stunting, karena dapat mengungkap akar masalah kekurangan gizi. Stunting adalah kegagalan untuk mencapai pertumbuhan optimal yang diukur dengan TB/U (tinggi badan menurut umur). Stunting dapat terjadi akibat kekurangan penyediaan pangan (kelaparan) yang lama, pemeliharaan kesehatan ibu dan anak yang tidak adekuat, atau karena kejadian penyakit infeksi yang berulang. Stunting dapat menjadi determinan kemiskinan dibanding indikator antropometrik lain, karena stunting mengindikasikan adanya gangguan kronis pada pertumbuhan anak akibat tidak terpenuhinya suplai makanan dalam waktu lama, adanya penyakit infeksi, atau kondisi kesehatan lingkungan buruk yang disebabkan oleh kemiskinan (SCN Task Force, 2008).

Stunting adalah Kurangnya Tinggi Badan Menurut Umur, indikator Gizi Kurang

sumber gambar: www.unicef-irc.org

Stunting juga dapat menyebabkan mental yang berkembang tidak maksimal. (Barker, 2007). Stunting harus dicegah sejak dalam uterus dan masa kanak-kanak. (UNICEF, 2003).

Stunting menimbulkan berbagai konsekuensi, baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang. Pada jangka pendek, stunting, wasting berat, dan IUGR secara bersama-sama bertanggungjawab pada kematian 2.2 juta kematian anak balita dan 21% disability-adjusted life-years (DALYs). Untuk jangka panjang, analisis data pada 5 negara berpendapatan rendah-sedang menunjukkan bahwa stunting pada masa anak berkorelasi kuat dengan postur pendek saat dewasa, rendahnya kehadiran di sekolah, berkurangnya fungsi intelektual, dan rendahnya berat lahir keturunannya nanti (Black et.al. 2008).

Di Indonesia, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar, stunting mencapai 35,6%, (Riskesdas 2010). Unicef (2008) mencatat bahwa Indonesia menempati urutan ke lima terbanyak balita stunting setelah India, Ukraina, Pakistan, dan Bangladesh.

Stunting berhubungan pula dengan menurunnya produktivitas ekonomi atau berkurangnya pendapatan pada usia produktif. Dampak ini menunjukkan bahwa kekurangan gizi yang disebabkan oleh kemiskinan, kelak akan melahirkan generasi kurang produktif secara ekonomi sehingga menyebabkan kemiskinan tadi terus berkelanjutan. Gizi, dengan demikian dapat menjadi indikator ekonomi, baik sebagai akibat maupun sebagai faktor penyebab tinggi rendahnya laju pertumbuhan ekonomi suatu bangsa (Alderman H. 2008).

Lingkaran setan kemiskinan akan terus menerus tak bisa dihentikan bila intervensi gizi tidak dilakukan dengan tepat. Periode 1000 hari pertama kehidupan adalah kesempatan emas untuk melakukan pencegahan kekurangan gizi beserta akibatnya (Barker 2007).

Untuk mengatasi stunting, intervensi gizi harus dilakukan bersama-sama dengan memperbaiki determinan gizi seperti kemiskinan, pendidikan, penyakit infeksi, dan pemberdayaan perempuan (Bhutta ZA. 2008).

Karena kekurangan gizi terkait erat dengan kemiskinan, maka penanggulangan stunting tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja, tetapi harus melalui kerjasama yang terencana dengan baik antara pemangku kepentingan seperti sektor kesehatan, pendidikan, pertanian, serta infrastuktur. Pengalaman di negara-negara Afrika, intervensi multisektor seperti ini selama 3 tahun dapat menurunkan stunting sebesar 43% dibanding sebelum adanya program (Remans et al. 2011).

Copyright secured by Digiprove © 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

ARTIKEL TERBARU

NEWSLETTER

Mau berlangganan artikel Kami? Tulis Email Anda pada form di bawah ini.

Cek Email Anda setelahnya untuk mengaktifkan layanan newsletter. Terimakasih