Informasi dan Tips – informasitips.com

Penyebab Bintik-bintik Merah Pada Wajah dan Tubuh Bayi Serta Cara Mengatasinya

Posted on by in , with 20 Comments

informasitips.com – Para ibu muda biasanya akan panik dan khawatir ketika mendapati bintik-bintik merah atau bintil-bintil yang timbul di wajah dan tubuh bayi. Berbeda dengan kondisi kulit orang dewasa yang tebal, kulit bayi yang masih relatif tipis dan sensitif lebih rentan terhadap alergi, iritasi dan infeksi. Hal ini dikarenakan secara struktural kelenjar minyak pada kulit bayi masih belum berkembang secara sempurna.

Penyebab timbulnya bintik-bintik merah di wajah dan tubuh bayi ini sangat kompleks dan bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor dari dalam tubuh misalnya faktor keturunan, sementara faktor luar misalnya cuaca yang panas, lingkungan yang lembab, banyak debu dan lain sebagainya.

Bintik-bintik merah disertai kulit yang tampak kemarahan ini bisa menyebabkan rasa gatal yang tidak tertahankan. Karena bayi belum mampu menyampaikan dengan kata-kata apa yang dirasakannya, maka bayi akan rewel atau bahkan menangis tanpa henti.

Untuk mengetahui lebih lanjut, simak beberapa kemungkinan penyebab bintik-bintik merah pada wajah dan bagian badan bayi lainnya, serta bagaimana cara mengatasinya berikut ini:

  1. Bakat alergi (faktor keturunan)

    Penyebab:
    Kasus alergi kulit cukup banyak terjadi pada bayi yang sangat rentan terhadap reaksi alergi. Apabila Anda dan pasangan memiliki riwayat alergi, maka resiko si kecil menderita alergi sebesar 40-60 %. Tetapi jika hanya salah satu orang tua saja yang memiliki alergi, kemungkinannya anak Anda memiliki bakat alergi kecil yakni sebesar 25-40 %. Penyakit alergi hanya mengenai anak yang memiliki bakat alergi yang disebut atopik. Jika tidak ada riwayat alergi di keluarga, bayi Anda tetap memiliki resiko terkena alergi sebesar 5-15 %.

    penyebab dan cara mengatasi bintik merah pada wajah dan kulit bayi

    Cara mengatasi:
    Cara paling efektif untuk mengatasi alergi adalah dengan menjauhkan anak dari sumber pencetus alergi. Untuk itu, orang tua perlu jeli dan mengetahui makanan atau hal apa saja yang bisa menimbulkan reaksi alergi pada kulit bayi. Misalnya, bayi berusia 6 bulan ke atas sudah diberi makanan padat. Orang tua harus benar-benar hati-hati dalam memberikan makanan kepada bayi. Terlebih bila dalam keluarga memang ada riwayat alergi, maka kemungkinan besar bayi juga akan mengalami alergi. Cara mengetahui apakah bayi alergi atau tidak terhadap suatu jenis makanan tertentu yaitu dengan melihat gejala/tanda yang mungkin timbul selama kurang lebih 3 hari setelah makanan tersebut masuk ke dalam tubuh bayi.

    Misalnya, Anda memberikan telur kepada bayi. Coba perhatikan gejala-gejala alergi yang mungkin timbul selama 3 hari ke depan, bisa berupa bintik-bintik merah di kulit, gatal-gatal atau gangguan pencernaan. Bila memang ternyata bayi alergi terhadap telur, maka sebaiknya Anda menunda memberikan telur kepada bayi. Tunggu sampai usia bayi agak besar karena alergi telur biasanya akan hilang dengan sendirinya. Begitu pula untuk jenis makanan yang lain. Orang tua harus mencoba dan melihat reaksi yang timbul, lalu mencatat apa saja yang bisa membuat bayi alergi.

    Orang tua juga bisa melakukan semacam tes alergi terhadap anak ke dokter untuk mengetahui alergen apa saja yang perlu dihindari bayi.

    Pemberian obat-obatan biasanya tidak terlalu dianjurkan, karena bayi dianggap masih terlalu kecil. Selain itu, masih banyak cara penangan lain yang lebih baik dan aman dilakukan. Kalaupun harus diberikan biasanya pemberian obat untuk bayi dilakukan melalui Air susu Ibu (ASI). Ibu meminum obat dan obat tersebut akan masuk ke tubuh bayi melalui ASI sewaktu bayi menyusu pada ibunya.

    Untuk pengobatan oles pada kuli misalnya dengan pemberian krim biasanya yang mengandung steroid rendah, tapi hal ini harus sesuai dengan anjuran dokter. Berbeda dengan penyakit, alergi tidak dapat disembuhkan dengan obat-obatan. Alergi hanya akan hilang bila sumber pencetusnya disingkirkan atau dijauhi. Sebaiknya optimalkan pemberian ASI ekslusif karena ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi Anda yang cukup efektif mencegah dan meringankan alergi.

  2. Faktor makanan

    Penyebab:
    Pada bayi makanan yang paling sering menimbulkan alergi adalah protein pada susu sapi. Hal ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuhnya menyadari bahwa kandungan protein pada susu formula anak sebagai zat yang berbahaya dan mencoba untuk melawannya. Tanda yang harus Anda perhatikan adalah selain timbulnya bintik-bintik merah, juga muntah dan terkadang disertai diare. Reaksi setiap anak berbeda-beda. Bahan makanan lain yang juga sering menyebabkan alergi pada bayi adalah telur, seafood dan kacang-kacangan.

    Cara mengatasi:
    Seperti yang sudah sedikit dijelaskan di atas, untuk mengetahui reaksi alergi akibat suatu makanan tertentu, orang tua disarankan untuk mengingat kembali makanan bayi apa yang sebelumnya diberikan ke bayi. Apabila Ibu masih memberikan ASI kepada buah hati, ada baiknya untuk mengingat kembali makanan yang Anda makan untuk diketahui makanan atau minuman pencetus alerginya, karena kemungkinan alergi didapat melalui ASI yang bayi minum.

    Jika diakibatkan oleh zat-zat pada ASI, ibu yang alergi harus menghentikan konsumsi makanan pencetus alerginya (alergen) agar ASInya tidak menyebabkan masalah pada kulit bayinya. Apabila Anda tidak sanggup memberikan ASI karena sesuatu hal, dan bayi Anda memiliki alergi pada susu formula Anda bisa berkonsultasi dengan dokter anak agar dapat mengetahui alternatif sumber kalsium dan nutrisi penting lainnya yang dapat menggantikan bahan makanan pencetus alergi tersebut.

    Perlu diketahui juga, Seiring dengan bertambahnya usia bayi, biasanya reaksi alergi ini bisa berkurang dan mereda karena daya tahan tubuh dan jaringan kulit anak akan semakin kuat jaringan membuat anak tidak akan mudah terkena alergi lagi.

  3. Biang keringat

    Penyebab:
    Bintik-bintik merah karena biang keringat atau keringat buntet pada wajah dan tubuh bayi bisa terjadi karena adanya sumbatan pada pori-pori kulit bayi yang disebabkan sistem untuk mengatur suhu tubuhnya belum berkembang secara sempurna. Hal ini mengakibatkan pengeluaran keringat yang tidak lancar pada bayi, terlebih lagi karena Indonesia yang memiliki suhu tropis menyebabkan bayi cepat merasa kegerahan atau kepanasan.

    Cara mengatasi:
    Usahakan agar bayi tidak memakai baju yang berlapis-lapis dan pilih pakaian dari bahan yang menyerap keringat seperti bahan katun. Gunakan yang nyaman dipakai dan tidak terlalu sempit untuk mengurangi panas. Bersihkan wajah dan tubuh bayi dari keringat dengan cara menyekanya dengan lap basah dan mengeringkannya dengan handuk bayi yang lembut. Pastikan kamar bayi Anda bersih dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Jika perlu, pilih deterjen yang tidak keras untuk mencuci pakaian bayi dan usahakan agar pakaian bayi benar-benar bersih dari deterjen ketika membilasnya. Sebaiknya hindari pemberian pemutih, pewangi dan pelicin pakaian yang berlebihan. Gunakan lotion calamin untuk mendinginkan dan mengurangi rasa gatal. Bila kondisi kulit bayi Anda semakin parah segera hubungi dokter.

  4. Terlambat mengganti popok, terutama ketika bayi buang air besar

    Penyebab:
    Tinja bayi bersifat lebih asam daripada air seni bayi. Bakteri dan amonia pada tinja serta air seni bayi dapat menghasilkan zat yang bisa melukai dan membuat iritasi kulit bayi.

    Cara mengatasi:
    Rajin mengganti popok atau diaper sangat disarankan, terutama segera ganti popok bayi ketika basah dan bayi selesai buang air besar. Berikan krim anti ruam popok yang mengandung zinc atau gunakan baby oil untuk melindungi air seni tidak mudah meresap ke dalam kulit. Bagian yang biasa tertutup oleh popok sebaiknya diangin-anginkan agar kulit cukup kering atau tidak terlalu lembab.

  5. Ruam popok karena kualitas popok tidak baik atau terlalu kecil

    Penyebab:
    Kemungkinan popok/diaper bayi yang selama ini digunakan kualitasnya tidak baik atau ukurannya terlalu kecil untuk buah hati Anda. Ruam popok yang tidak diatasi segera bisa menyebabkan kondisi semakin parah seperti bintil-bintil kecil yang melepuh dan pecah. Jika sudah pecah, maka bayi Anda akan semakin rentan terkena infeksi.

    Cara mengatasi:
    Anda bisa mengganti merek diapernya dengan yang memiliki kualitas lebih bagus atau membeli popok yang ukurannya sesuai dengan usianya. Cara pemakaiannya juga diperhatikan agar tidak terlalu ketat sehingga kulit tidak tergesek.

  6. Jerawat bayi

    Penyebab:
    Sisa hormon yang masih terbawa bayi sejak masih berada dalam rahim.

    Cara mengatasi:
    Gangguan yang biasanya timbul di sekitar pipi, dagu, dan dahi biasanya akan menghilang dengan sendirinya ketika bayi berusia di atas 3 bulan. Rajin bersihkan wajah bayi dan keringkan dengan baik. Usahakan untuk menggunakan handuk bayi yang berbahan lembut dan tidak memencet jerawatnya karena dapat menimbulkan iritasi serta infeksi yang cukup parah.

  7. Eksim bayi

    Penyebab:
    Dikenal juga dengan nama eksim susu, tapi bukan berarti eksim ini timbul karena ASI, lho! Perlu diketahui bahwa apapun itu, sisa ASI, susu formula, makanan bayi yang dikonsumsi,atau air liur apabila dibiarkan menempel di kulit bayi, dan tidak segera dibersihkan maka berpeluang menghasilkan reaksi yang dapat menyebabkan timbulnya iritasi. Penyebab iritasi ini akan bereaksi terutama pada bayi yang memang sudah memiliki bakat alergi.

    Cara mengatasi:
    Jika Anda mengetahui dengan persis bahwa bayi Anda memiliki bakat alergi, sebaiknya segera jauhkan dari bahan pemicunya (alergennya). Misalnya segera bersihkan wajah bayi sehabis kontak dengan ASI atau susu formula. Rajinlah mengganti baju bayi jika ia sering mengeluarkan air liur dari mulutnya yang terkadang membuat bajunya sampai basah.

  8. Gigitan serangga

    Penyebab:
    Gigitan atau sengatan serangga misalnya nyamuk, dapat menyuntikkan racun yang tersusun dari protein dan substansi lain yang memicu reaksi alergi kepada bayi. Bintik merah yang disertai bengkak dan rasa gatal adalah gejala yang sering ditemui.

    Cara mengatasi:
    Bintik merah ini sebenarnya tidak perlu diobati karena akan hilang dengan sendirinya. Anda juga bisa mengoleskan minyak kayu putih, minyak telon atau minyak tawon apabila diperlukan untuk menghindari gigitan serangga berikutnya.

  9. Debu rumah

    Penyebab:
    Debu yang berasal dari karpet dan boneka-boneka berbulu sering juga menjadi pemicu alergi pada bayi dan anak-anak.

    Cara mengatasi:
    Rajin membersihkan rumah, mainan anak (dari kain atau bulu binatang) dan menggunakan alat penghisap debu untuk menyedot debu karpet. Penyedot debu membuat debu beterbangan, oleh karenanya usahakan agar bayi tidak berada dekat Anda saat Anda sedang membersihkan ruangan dengan penyedot debu. Apabila perlu gulung dan simpanlah karpet sampai bayi Anda tumbuh besar dan berkurang kesensitifannya terhadap debu.

  10. Kutu busuk di tempat tidur

    Penyebab:
    Kutu busuk yang menyelinap di sela-sela sprei dan tempat tidur menggigit anak Anda. Gigitan kutu busuk umumnya mirip dengan bekas gigitan nyamuk.

    Cara mengatasi:
    Alasi kasur dengan perlak atau kain pelindung kasur yang bersih yang tidak dapat menjadi sumber kutu busuk atau ngengat. Cuci sprei, sarung bantal, selimut dengan teratur. Sesekali jemur bantal, guling dan kasur agar kutu busuk dan larva di dalamnya terbunuh oleh panasnya cahaya matahari. Berikan bayi Anda sarung tangan untuk mencegahnya menggaruk kulitnya yang gatal untuk menghindari terjadinya infeksi. Lakukan langkah-langkah pembasmian agar tempat tidur bayi bebas ngengat. Bila langkah ini tidak berhasil kemungkinan Anda harus membuang kasur bayi Anda dan menggantinya dengan yang baru.

  11. Virus

    Penyebab:
    Nama penyakit ini mungkin jarang terdengar, padahal Roseola infantum merupakan penyakit menular yang cukup sering menyerang bayi dan anak – anak yang masih sangat kecil. Penyebabnya adalah virus jinak yang bisa menyebar melalui percikan ludah penderita, misalnya saat pemeriksaan kesehatan atau imunisasi di rumah sakit. Gejala yang timbul yaitu demam hingga 39,5 derajat Celsius selama beberapa hari. Setelah demamnya hilang, mulai timbulnya bintik – bintik merah yang tidak berubah menjadi bernanah dan tidak gatal. Disertai rewel, kehilangan selera makan dan cepat mengantuk.

    Terkadang terjadi salah diagnosis karena gejalanya mirip dengan campak. Yang perlu diketahui, bedanya dengan campak adalah bintik – bintik merah pada bayi dan anak kecil timbul setelah demamnya turun (bisa terjadi 2 – 3 kali dalam usia anak), sementara pada campak muncul pada saat demam sedang tinggi (terjadi 1 kali seumur hidup).

    Gejalanya juga mirip dengan demam berdarah, bedanya anak yang terkena demam berdarah setelah demamnya turun kondisi tubuhnya tetap melemah, sementara anak yang terkena roseola infantum keadaannya akan semakin membaik.

    Cara mengatasi:
    Jangan khawatir karena penyakit yang disebabkan herpes virus tipe 6 dan 7 ini tidak berbahaya. Walaupun virus ini berasal dari keluarga yang sama (herpes simplex viruses), virus herpes ini tidak menyebabkan herpes di sekitar mulut dan alat kelamin. Turunkan panasnya dengan obat penurun demam yang aman untuk anak – anak bila diperlukan. Kompres anak Anda dengan lap bersih yang dibasahi dengan air hangat. Jangan mandikan si kecil dengan air dingin dan banyak – banyaklah memberikan cairan, bisa berupa ASI, air putih atau oralit. Sebaiknya bayi dan anak memiliki istirahat yang cukup. Bila kesadaran menurun dan si kecil mengalamin kejang, segera bawa ke dokter. Pada umumnya bintik – bintik merah akan menghilang dengan sendirinya dalam beberapa hari.

Apabila kondisi kulit bayi Anda semakin parah dan Anda tidak dapat menemukan penyebabnya, berkonsultasilah dengan dokter anak untuk menemukan sumbernya. Untuk mengetahui apakah penyebabnya memang alergi, dokter anak biasanya akan menyarankan tes darah atau merujuk ke spesialis atau dokter ahli. Dokter ahli alergi akan melakukan tes kulit dengan menyuntikkan bahan pencetus alergi yang dicurigainya ke bayi Anda. Bila bayi Anda memberikan reaksi alergi, maka sumbernya sudah dipastikan dan diketahui cara mengatasi yang patut untuk dilakukan.

Related Posts

20 thoughts on “Penyebab Bintik-bintik Merah Pada Wajah dan Tubuh Bayi Serta Cara Mengatasinya

  1. putra

    bu…saya mau tanya, apakah bintik merah pada bagian atas bibir bayi yang berbentuk melingkar setengah lingkaran( tidak berbentuk bulat ) ini salah satu bentuk alergi. krn dibagian tubuh lain tidak ditemukan lg bercak merah itu. Hanya diatas bibirnya aja…
    1. alergi apa yah bu?

  2. Arif

    Mohon bimbingan ya!karena umur Anak sAya mulai umur 1 sampai 8 hour udah keluar bintik putih di kepalA terus di punggung munCul bintik nanah….mohon gmn cara nya penyegahan atAu pengobatanya lagiAn sayA pribadi kasian menglihAtnya……mAkaSi

  3. fia

    <3 ŁhΔñk ♈☺Ʊ‎​​ <3 infox yaa!! Sy akan ikuti sarannya…. Kbetulan anak sy umur 13hr tp mukax banyak tumbuh bintik'' kcil merah n beisi air!! Skali lg thank's

  4. fia

    <3 ŁhΔñk ♈☺Ʊ‎​​ <3 infox yaa!! Anak sy umur 13 hr n mengalami tumbuh bintik'' merah dipipi n dahi,, insyaallah sy akan ikuti saranx..

  5. syaharia

    Seprtinya anak ku kena virus herpes, krn pernh di gendong oleh tetangga yg kena herpes, semoga Alloh segera mnyembuhkan

  6. Andika

    Baby saya usia 8 bulan, di area yng tertutup pampers ada bintik” merah. Ini ruam atau krn pampersnya? Saya beri caladin klo pagi; klo mlm saya beri salep u/ ruam.

  7. admin

    Bintik2 merah atau ruam di sekitar area popok bayi adalah hal yang umum terjadi. Teruskan saja memberikan krim khusus untuk bayi di sekitar are popoknya. Usahakan juga untuk selalu menjaga agar area popoknya tetap kering dengan cara sering mengganti popok atau tidak terlalu lama membiarkan kotoran (pipis) menumpuk di popok. Bisa juga dengan cara tidak terlalu ketat memakaikan popok ke bayi agar sirkulasi udara di area popok cukup baik. :-)

  8. nanda

    anak saya seperti nya terkena virus..kamis-sabtu badan ny panas..sabtu sore sudah turun panasnya..tp mulai minggu sore badan ny mulai ada bintik2 merah tp tidak gatal

  9. ika avisha

    anak saya 20 bln.,2 hari yang lalu ada bintik merah di dada dan perut,,hari ini bintikNya nambah di bagian punggung tapi dia gak rewel badanNya juga gak demam.,masih aktif juga.,sepertiNya gak gatal soaLnya dia gak pernah garuk2.,kira2 kenapa ya min..saya khawatir sekali..

  10. ridho

    Anak saya umur 1 bulan, semenjak disuntik BCG sekitar seminggu yang lalu dan kulitnya keluar bintik-bintik merah seperti tampek. Tetapi suhu badannya normal. Kira-kira apa penyebabnya admin?

  11. dwi

    Baby sy skr umur 3month..di leher byk timbul merah2 bintik2 tapi ndk kasar. Mngkin krn biang keringat..krn anaknya gendut jadi leher ketutup ampe berlipat.gimana ya sebaiknya…

  12. erni

    anak saya dikatakan dokter alergi susu sapi sejak berusia 1 bln karna di pipimya merah2,setelah sya ganti susu soya bintik merah di pipinya masih ada, setelah saya tanya ke dokter lagi malah di katakan anak saya alergi minyak telon, gmna ya sebaiknya, saya jadi bingung….

  13. cindy

    Makasih bgt saran untuk mngatasi nya.. anak saya usia 7 bulang skr sdng mngalami virus yg serupa dgn campak. kalo boleh saya tanya kira2 brp hari biasa nya bayi mengalami virus yg serupa dgn Campak?

  14. fatma

    anak saya baru usia 7hr,utuk awal ia sy beri susu sapi,setelah saya lihat anak saya ternyata bintik” merah disekitar muka dan leher,lalu sy berasumsi bahwa anak sy alergi sufor sapi sy beralih ke sufor soya namun hal itu juga terjadi,setelah 4 hr air asi sy keluar sy hentikan sufor soya,namun hal itu tetap terjadi,badan baby saya sering bintik” merah di wajah leher badan serta kaki,terkadang badanya bentol” gak jelas penyebabnya,karna saya pastikan iya terlindung dr gigitan nyamuk..mohon pencerahannya ini termasuk alergi apa ya

  15. admin

    Halo Ibu Fatma, sebelumnya Kami ucapkan selamat atas kelahiran bayi Ibu….

    Mengenai kasus Ibu, mungkin saja bayi Ibu alergi susu sapi dan/atau komponen lain yang terkandung dalam sufor sapi atau soya yang Ibu berikan. Contohnya DHA yang berasal dari ikan laut biasanya bisa menyebabkan alergi jika memang bayi Ibu alergi terhadap makanan laut, untuk lebih amannya pilihlah sufor yang mengandung DHA yang berasal dari mikroalga C.cohnii. Komponen lain, selain DHA, adalah jagung. Umumnya, sufor soya mengandung sari pati jagung yang juga bisa menyebabkan alergi.

    Hal yang harus ibu lakukan adalah periksa komposisi sufor sapi atau soya yang telah ibu berikan ke bayi. Perhatikan apakah ada komponen2 yang mungkin bisa menyebabkan alergi. Kalau sudah tahu, carilah sufor soya yang tidak mengandung komponen2 yang ibu curigai itu. Pastikan juga kalau bayi Ibu memang benar alergi terhadap susu sapi, jika tidak alergi, pilih saja sufor sapi yang tidak mengandung komponen2 yang ibu curigai tadi. Dalam hal ini, Ibu seperti coba2 sufor mana yang cocok untuk bayi Ibu.

    Untuk lebih amannya, periksakan bayi Ibu untuk mengetahui komponen-komponen apa saja yang menyebabkan alergi dan mana yang tidak. Dengan begitu Ibu bisa mencari sufor yang memang tidak mengandung komponen yang menyebabkan bayi Ibu alergi. Metode pemeriksaan alergi yang aman untuk bayi bisa dilakukan dengan metode Bicom (coba cek bio-e.net ya), ini bukan promosi karena Kami tidak ada hubungannya dengan bio-e. Ini semata sharing, karena Kami pernah memeriksakan anak Kami ke klinik mereka dan hasilnya Kami jadi tahu komponen apa saja yang menyebabkan alergi pada anak Kami dan mana yang tidak.

    Kalau anak Kami tidak mengonsumsi makanan yang menyebabkan alergi, Alhamdulillah dia bisa berbulan-bulan tidak sakit (meski di saat musim hujan). Tetapi, begitu Kami coba kasih ikan, walau hanya sedikit demi sedikit, maka dia akan panas badannya atau demam. Jadi, jangan beranggapan bahwa kalau anak dikasih makan ikan (yang bisa menyebabkan alergi) terus menerus, maka lama-kelamaan dia akan tahan. So, ketahui bayi Ibu alergi apa dan hindari komponen2 itu, InsyaAllah bayi Ibu akan selalu sehat.

    Semoga berhasil ya Ibu Fatma…..

  16. Renti

    Anak saya umur 2 bulan,muncul bintik merah benanah,awalnya dikepalah,kemudian merambat sampai punggungx,,,,,mohon informasix kira2 alergi apa yach?

  17. admin

    Halo Ibu Renti,

    Agak susah untuk menentukan anak ibu alergi apa jika hanya berdasarkan gejala yang muncul.

    Apakah ibu menyusui dan tidak mencampurnya dengan sufor? Jika ya, maka bisa jadi sumber alerginya berasal dari makanan yang ibu konsumsi. Sangat disarankan agar ibu lebih memerhatikan apa yang ibu makan. Nah, ketika gejala alergi itu muncul, ibu bisa menduga2 kira2 bayi ibu alergi jenis makanan apa.

    Apakah ibu juga memberi sufor? Jika ya, maka selain memerhatikan asupan makanan ibu, periksa juga komposisi sufor yang ibu beri ke bayi. Dengan mengamatinya, ibu bisa membuat dugaan mengenai alergi pada bayi Anda.

    Apakah keluarga ibu atau suami memiliki riwayat alergi? Jika iya, maka kemungkinan besar gejala nanah itu adalah memang akibat alergi. Perlu dipastikan lagi, apakah benar2 itu karena alergi atau mungkin hal yang lain. Sebaiknya, periksakan bayi ibu mengenai kemungkinan2 makanan apa saja yang menyebabkan alergi pada dia. Sekali lagi, Kami menyarankan ibu melihat ke bio-e.net. Mereka bisa mendeteksi kemungkinan2 makanan atau yang lainnya yang menyebabkan alergi pada bayi Anda

    Selalu sabar dan berusaha ya Bu Renti. Masalah alergi pada bayi banyak dialamai oleh orangtua2 lain di luar sana….

    Semoga solusinya cepat ditemukan. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

JOIN US ON

NEWSLETTER

Mau berlangganan artikel Kami? Tulis Email Anda pada form di bawah ini.

Cek Email Anda setelahnya untuk mengaktifkan layanan newsletter. Terimakasih

OUR FRIEND