Informasi dan Tips – informasitips.com

Pengaruh Pakaian yang Dikenakan Terhadap Psikologi Seseorang

informasitips.com – Salah satu acuan utama dalam menilai seseorang adalah dilihat dari penampilannya, terutama jika orang tersebut baru pertama kali kita kenal. Hal yang menjadi perhatian yakni dengan melihat gaya berpakaiannya, bentuk tubuhnya, wajah, tingkah laku, gerak-gerik, tatanan rambut yang kesemuanya dapat menimbulkan berbagai kesan baik positif maupun negatif. Penampilan fisik sering menimbulkan persepsi mengenai karakteristik seseorang, seperti gambaran mengenai kepribadiannya atau kompetensi yang dimilikinya. Bahkan dengan hanya melihat fisiknya saja bisa menimbulkan pengaruh terhadap sebuah hubungan interpersonal. Tentu saja hal ini akan berpengaruh kepada interaksi di masa mendatang.

Terkadang dengan melihat penampilanya saja dapat menimbulkan kesan yang bahkan bisa menutupi bagaimana kualitas orang tersebut yang sebenarnya. Salah satu yang dikaitkan dengan penampilan seseorang yaitu gaya berbusana. Pakaian yang dikenakan seseorang menandakan ciri-ciri penting dari pemakainya. Disadari atau tidak, tujuan dari cara berpakaian seseorang adalah membuat kesan pribadi yang bervariasi. Mungkin saja pakaian yang dikenakannya mencerminkan diri yang cerdas, s*ksi, santai, pendiam, bertanggung jawab, fashionable dan lain-lain. Hal ini tentunya menjadi simbol bagi pribadi yang ingin ditunjukkan.

Dalam sebuah penelitian menyatakan bahwa apa yang kita kenakan tidak hanya berdampak bagi orang lain, tetapi juga berdampak pada diri pribadi. Hajo dan Galinsky memperkenalkan istilah “enclothed cognition” dalam penelitian mereka yang dilaporkan dalam Journal of Experimental Social Psychology. Istilah “enclothed cognition” mengacu pada pengaruh pakaian terhadap proses psikologis kita. Dalam penelitian ini, mereka melakukan serangkaian percobaan mengenai pakaian yang mereka kenakan dengan menghubungkan dua faktor yaitu makna simbolis dan pengalaman aktual terhadap pakaian yang mereka pakai. Dalam tesnya mereka memakai jas labolatorium yang dikaitkan dengan kejelian dan perhatian, kemudian mereka membuat hipotesis bahwa dengan memakai jas ini akan berdampak pada perhatian masyarakat terhadap tugas mereka. Selanjutnya, mereka menemukan bahwa secara fisik mengenakan jas lab meningkatkan perhatian secara selektif dibanding tidak memakai jas lab.

Penelitian lainnya mengenai “enclothed cognition” yaitu NIMHA cross-sectional descriptive study menggunakan metodologi survei yang dilakuakn kepada 500 pasien dan pengunjung di ruang tunggu sebuah klinik rawat jalan penyakit dalam. Responden diberi pertanyaan terkait preferensi mereka mengenai baju dokter serta kepercayaan dan kesediaan untuk membahas isu-isu sensitif. Hasil tes dari penelitian ini responden sangat mendukung dokter dalam pakaian profesional dengan jas putih dan melaporkan bahwa hal ini memiliki pengaruh positif pada kepercayaan dan keyakinan. Kesimpulan dari penelitian ini yakni menguatkan makna simbolis dari jas lab putih dalam pengaturan medis yang sebenarnya. Selain itu, apakah kita memakai pakaian tertentu atau menanggapi orang memakainya, pakaian mempengaruhi perasaan kita, pikiran kita dan respon kita.

Semakin seseorang mampu berbusana dengan baik, tepat, sesuai dan serasi maka pengaruh yang timbul dalam dirinya adalah meningkatnya kepercayaan diri. Tidak menutup kemungkinan dengan gaya berbusana yang baik akan membuat dirinya semakin dihargai dan dihormati. Seberapa besar pengaruh pakaian terhadap psikologi seseorang tergantung kepada sebaik apa pakaian tersebut yang menampilkan karakteristik di mana dapat diterima secara signifikan di lingkungan sosialnya serta sebaik apa pakaian tersebut digunakan sesuai dengan keperluan pemakainya. Jadi, selain sebagai simbol untuk menunjukkan siapa pribadi kita, pakaian juga mempengaruhi bagaimana perasaan kita, cara berpikir kita dan respon kita.



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *