Mengatasi Diare Pada Anak Bayi dan Balita

informasitips.com – Anak bayi dan balita termasuk kelompok yang cukup rentan terkena Diare. Hal ini dikarenakan sistem pencernaan bayi dan balita yang masih dalam tahap berkembang, sehingga lebih sensitif terhadap berbagai infeksi parasit, bakteri, dan virus yang bisa menyebabkan diare.

Meskipun diare umum terjadi pada anak-anak, namun orangtua sebaiknya tidak menganggap remeh persoalan diare ini. Dampaknya bisa cukup parah, dapat menyebabkan dehidrasi, bahkan tidak sedikit pula terjadi kasus diare yang berujung pada kematian. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), diare merupakan salah satu penyebab kematian balita tertinggi di dunia. Untuk di Indonesia, menurut Kementrian Kesehatan RI, diare menempati peringkat kedua penyebab kematian balita tertinggi setelah penyakit pneumonia (radang paru).

Karena masih tingginya angka kejadian dan angka kematian akibat diare, maka sudah sepatutnya para orangtua berusaha untuk lebih mengenal dan mengetahui apa saja gejala, penyebab dan bagaimana cara penanganan diare yang tepat agar tidak sampai berakibat fatal.

cara-mengatasi-diare-pada-bayi-anak

Diare biasanya juga disertai dengan keluhan mual, muntah, dan sakit perut.

Pola Buang Air Besar (BAB) Normal Pada Bayi dan Anak Balita
Pada anak bayi (terutama bayi yang mengonsumsi ASI), maka frekuensi BAB nya bisa dikatakan cukup sering, yaitu bisa sekitar 8-10 kali dalam sehari dengan bentuk tinja yang encer, berbuih dan berbau asam. Selama berat badan bayi meningkat dengan normal, maka kondisi seperti itu tidak tergolong diare, tetapi merupakan bentuk intoleransi laktosa sementara akibat belum sempurnanya perkembangan saluran cerna bayi.

Sementara pada anak balita, pada umumnya anak akan BAB sesering-seringnya adalah sebanyak 3 kali dalam sehari, dan sejarang-jarangnya adalah sekali dalam 3 hari dengan bentuk tinja normalnya adalah “berbentuk”, tidak encer, dan tidak keras.

Gejala dan Penyebab Diare Pada Bayi dan Balita
Anak disebut mengalami diare bila dalam 24 jam anak buang air besar (BAB) “lebih sering” dan “lebih encer” dari biasanya. Feses atau tinja anak yang diare dapat pula mengandung lendir dan darah, bergantung pada penyebab diare. Tanda dan gejala lainnya yang mungkin juga muncul adalah anak mengalami mencret diawali dengan sakit perut, mual, muntah dan demam.

Penyebab diare pada bayi dan balita bisa bermacam-macam, diantaranya adalah akibat infeksi parasit (misalnya, parasit Giardia dan Cryptosporidium), infeksi bakteri (misalnya bakteri Salmonella non thypoid dan Escherichia coli), dan infeksi virus (terutama akibat Rotavirus). Infeksi tersebut dapat terjadi salah satunya melalui konsumsi makanan atau minuman yang tidak terjaga kebersihannya yang di dalamnya mengandung kuman-kuman penyebab diare (anak mengonsumsi makanan yang terkontaminasi kuman penyebab diare).

Kebiasaan anak yang sering memasukkan tangan, mainan atau berbagai macam benda yang belum tentu terjaga kebersihannya ke dalam mulutnya juga dapat memungkinkan terjadinya diare. Selain itu, diare pada bayi dan anak-anak juga dapat disebabkan karena anak/bayi mengalami alergi terhadap obat atau makanan tertentu, intoleransi makanan (intoleransi laktosa), terlalu banyak makan makanan yang berbumbu dan terlalu banyak mengonsumsi jus buah.

(Baca juga: Jus Buah untuk Bayi, Jangan Kebanyakan Ya)

Waspada Gejala Dehidrasi
Saat terjadi diare, maka tubuh anak akan kehilangan banyak cairan dan sejumlah mineral penting, seperti natrium, kalium, dan klorida. Di sisi lain, ketika mengalami diare, biasanya anak kerap kehilangan nafsu makan, dan seringkali juga tidak mau minum. Akibatnya, cairan yang masuk dan keluar dari tubuh tidak seimbang. Dampaknya, anak dapat mengalami dehidrasi (kekurangan cairan tubuh), dan bila dibiarkan terus bisa berujung pada kematian, terutama pada bayi yang baru lahir.

Bayi, khususnya yang berusia di bawah 6 bulan, butuh penanganan ekstra saat mengalami diare, karena lebih rentan mengalami dehidrasi. Oleh karena itu, orangtua perlu waspada dan mengenali dengan jelas gejala-gejala dehidrasi yang mungkin terjadi saat anak mengalami diare.

Apa saja gejala dehidrasi akibat diare yang perlu diwaspadai?

  • Bagian mulut dan bibir tampak kering.
  • Kulit pucat dan kering.
  • Turgor kulit berkurang.
    Cara mengetahuinya, coba cubit sedikit secara perlahan kulit bayi/anak. Bila setelah dicubit kulit bayi tidak langsung cepat kembali normal (seperti semula), berarti bayi/anak mengalami dehidrasi.

  • Urin berwarna sangat kuning, dan buang air kecil (kencing) lebih sedikit dari biasanya akibat produksi urin yang berkurang.
  • Tidak ada air mata yang keluar saat anak menangis.
  • Mata tampak cekung. Ubun-ubun juga jadi lebih cekung dari biasanya.
  • Anak tampak lemas.
  • Nafas jadi cepat dan denyut jantung meningkat.
  • Nadi melemah sampai tidak teraba.
  • Kesadaran menurun, bahkan dapat juga mengalami hilang kesadaran.
    Cairan sangat penting untuk metabolisme tubuh. Bila cairan tubuh berkurang (akibat diare), maka seluruh sistem kerja organ tubuh menjadi terganggu dan otak tidak berfungsi secara sempurna.

  • Dapat pula terjadi kejang, akibat kekurangan elektrolit tubuh.
  • Terjadi penurunan berat badan sebanyak 5% dari berat asal bayi/anak.

Cara Mengatasi Diare

1. Untuk diare yang belum terjadi dehidrasi
Jika anak menderita diare, segeralah berikan penanganan di rumah, agar tidak sampai terjadi dehidrasi. Bentuk penanganan pertama yang harus dilakukan orangtua adalah, berikan minum sebanyak 10 ml per kilogram berat badan setiap kali anak mencret/BAB (untuk mengganti cairan tubuh yang hilang bersama feses) agar tidak terjadi dehidrasi.

Bagaimana untuk bayi atau anak yang masih menyusui (ASI)? Untuk bayi/anak yang mengalami diare namun masih minum ASI, teruslah berikan ASI kepada bayi/anak untuk menggantikan cairan yang banyak hilang saat anak buang air besar. Bahkan, pemberian ASI perlu dilakukan lebih sering dari biasanya. Ada kalanya juga diare disertai dengan keluhan muntah pada bayi. Bila bayi yang diare muntah setelah disusui, tunggulah sebentar sekitar 10 menit, kemudian baru susui kembali.

Selain air minum, berikan pula oralit untuk menggantikan elektrolit tubuh yang banyak terbuang saat anak mencret. Sebaiknya, berikan cairan oralit yang sudah tersedia di pasaran (ikuti petunjuk pemberiannya). Pemberian oralit saat anak diare merupakan sesuatu yang sangat penting, karena saat diare, bukan hanya cairan tubuh saja yang hilang, namun elektrolit (garam) dalam tubuh juga ikut hilang bersamaan dengan feses saat anak buang air besar (mencret).

Bila tidak ada oralit, Anda dapat juga memberikan larutan gula-garam atau larutan garam-tajin.

Bagaimana cara membuat larutan gula-garam dan larutan garam-tajin?

  • Larutan gula-garam: terdiri dari 1 sdt gula pasir, ¼ sdt garam dapur, dan 1 gelas (200 ml) air matang. Aduk rata semua bahan dalam gelas, kemudian dapat langsung diberikan ke anak.
  • Larutan garam-tajin: terdiri dari 6 sdm tepung beras, 1 sdt garam dapur, 2 liter air. Masak semua bahan hingga mendidih, sehinga didapat larutan garam-tajin, dan siap diberikan ke anak.

    Beberapa penelitian menyebutkan bahwa air tajin mengandung glukosa polimer, yaitu gula yang mudah diserap dan dicerna tubuh. Kandungan poliglukosa yang terdapat dalam air tajin juga dapat membantu membuat feses menjadi lebih padat.

Selain pemberian air minum, oralit/larutan gula-garam/larutan garam-tajin, pemberian bakteri baik (probiotik) juga dapat membantu untuk meringankan keluhan diare pada bayi/anak.

2. Untuk diare yang sudah terjadi dehidrasi
Jika anak mengalami diare dan mulai menunjukkan gejala-gejala dehidrasi (seperti gejala-gejala dehidrasi yang disebutkan di atas), maka berarti bayi/anak perlu mendapatkan penanganan yang lebih serius. Bila diperlukan, mungkin Anda perlu juga untuk mempertimbangkan apakah bayi/anak perlu juga dibawa ke dokter atau rumah sakit. Namun, sebelum diare menjadi semakin bertambah parah, segeralah berikan pertolongan pertama, berupa:

  • Berikan oralit
    Bila telah terjadi dehidrasi, jangan tunda lagi, segera beri oralit untuk menggantikan elektrolit tubuh yang hilang. Berapa banyak oralit yang harus diberikan? Untuk diare yang sudah mengalami dehidrasi, pertama berikan oralit sebanyak 50-100 ml (tergantung berat ringannya dehidrasi) per kilogram berat badan dalam 3 jam untuk mengobati dehidrasinya, selanjutnya setelah 3 jam, berikan oralit dengan takaran 10 ml per kilogram berat badan setiap anak BAB (mencret).

  • Tetap beri makanan
    Tetaplah berikan makanan kepada anak yang mengalami diare. Meskipun mungkin anak/bayi akan menolak makanan yang diberikan kepadanya, namun usahakanlah agar ada makanan yang masuk ke dalam tubuh anak. Makanan berfungsi untuk memberikan energi/tenaga pada tubuh anak, dan juga untuk mencegah agar anak/bayi tidak banyak kehilangan berat badan.

    Jenis makanan seperti apa yang perlu diberikan kepada bayi/anak yang mengalami diare? Berikanlah makanan yang lunak dan mudah dicerna seperti bubur nasi atau bubur kacang hijau. Namun, untuk bayi yang masih menyusui ASI saja, pemberian makanan tidak diperlukan, berikan ASI saja dengan frekuensi lebih sering.

Bagaimana mengetahui keadaan anak sudah membaik dan tidak perlu dibawa ke dokter/rumah sakit? Caranya adalah dengan melihat perkembangan kondisi anak setelah diberikan pertolongan pertama. Bila terlihat adanya perbaikan gejala-gejala dehidrasi seperti yang disebutkan di atas, misalnya, kesadaran anak mulai membaik, rasa hausnya menghilang, mulut dan bibirnya mulai basah, kencing banyak, dan turgor kulitnya membaik, maka berarti kondisi anak sudah membaik dan tidak perlu segera dibawa ke dokter atau rumah sakit.

Hal yang harus dihindari saat anak diare

  • Saat anak/bayi diare, jangan memberikan jus buah, susu, dan minuman yang berkarbonasi, karena jenis minuman tersebut dapat memperparah kondisi diare yang dialami anak/bayi.
  • Saat anak/bayi diare, hindari memakaikan pakaian yang tebal yang bisa membuat bayi/anak banyak berkeringat. Pada kondisi diare seperti ini, sebisa mungkin jaga agar jangan sampai bayi/anak terlalu banyak berkeringat agar tidak terjadi dehidrasi. Cara lain untuk mencegah agar bayi/anak tidak berkeringat terlalu banyak adalah dengan mengondisikan ruangan selalu sejuk, nyaman, dan tidak panas.
  • Hindari juga jenis makanan berikut ini, yaitu makanan yang terlalu berminyak, makanan yang terlalu berbumbu, makanan manis, makanan tinggi lemak, makanan yang merupakan produk susu, dan makanan yang tinggi serat.

Kapan Harus Dibawa ke Rumah Sakit?
Bila setelah diberikan pertolongan pertama di rumah kondisi anak/bayi tidak juga kunjung membaik, maka segeralah bawa anak ke dokter atau rumah sakit terdekat.

Tanda-tanda kondisi yang semakin memburuk dan perlu segera dibawa ke rumah sakit adalah:

  • Diare terjadi lebih dari 2 hari, dan tidak ada perbaikan kondisi, meskipun sudah dilakukan penanganan di rumah.
  • Anak/bayi terlihat mengalami dehidrasi berat dan setelah diberikan pertolongan pertama tidak juga menunjukkan adanya perbaikan. Pada kondisi seperti ini, cara penanganan yang tepat adalah pemberian cairan lewat infus.
  • Anak/bayi terlihat sangat lemas, pusing, sering mengantuk, tidak merespon orangtua, atau kehilangan kesadaran.
  • Bayi/anak mengeluarkan feses atau tinja yang kehitaman, mengandung nanah, atau tinja yang disertai dengan warna kemerahan (hal tersebut dapat merupakan pertanda bahwa feses sudah bercampur darah).
  • Anak/bayi yang mengalami diare disertai muntah-muntah terus-menerus, sehingga sulit menerima asupan oralit dan cairan.
  • Bayi berusia kurang dari 1 bulan namun sering mengalami diare (bisa 3 kali atau lebih).
  • Tidak buang air kecil dalam waktu 6 jam (untuk bayi), atau dalam waktu 12 jam (untuk anak-anak).
  • Bayi/anak mengalami sakit perut yang cukup parah dan berlangsung lama lebih dari 2 jam.
  • Anak/bayi yang mengalami diare disertai demam tinggi, terlebih lagi bila bayi/anak tidak mau minum, terlihat sangat lemas, dan demamnya tidak kunjung turun setelah lebih dari 2 hari, maka perlu segera dibawa ke rumah sakit.
  • Dalam 1 jam, anak beberapa kali mengeluarkan feses cair (mencret berkali-kali dalam 1 jam).
  • Untuk anak bayi usia kurang dari 6 bulan, bila mengalami diare yang disertai muntah-muntah, sakit perut, terlihat lesu/lemas, dan demam tinggi lebih dari 39 derajat Celcius, maka harus segera dibawa ke rumah sakit. Sementara, untuk anak dengan usia lebih dari 6 bulan, bila diare juga disertai dengan demam dengan suhu lebih dari 38 derajat Celcius, maka perlu juga untuk dibawa ke rumah sakit.

Penanganan di rumah sakit biasanya meliputi pemberian cairan lewat infus, pemberian antibiotik atau obat antiparasit untuk menangani bakteri atau parasit penyebab diare, dan disertai juga dengan pemberian oralit.

Tips Mencegah Diare pada Anak Bayi dan Balita

  • Menjaga kebersihan adalah salah satu cara terbaik untuk mencegah diare. Biasakan anak untuk selalu mencuci tangannya sebelum ia makan, setelah ia selesai bermain, dan setelah ia selesai dari toilet.
  • Selalu menjaga kebersihan lingkungan tempat bayi/anak sering bermain dan beraktivitas. Pastikan juga bahwa lingkungan tempat tinggal dan rumah Anda selalu dalam keadaan bersih, terutama kamar mandi, karena kamar mandi yang kotor dapat menjadi sarang berbagai kuman penyakit.
  • Selalu menjaga kebersihan makanan/minuman dan alat-alat makan bayi/anak.
  • Orang dewasa yang merawat bayi/anak pun perlu menjaga kebersihan dirinya dan juga harus rajin mencuci tangan agar tidak menularkan mikroorganisme penyebab diare ke bayi/anak.
  • Perhatikan makanan dan minuman yang akan diberikan kepada bayi/anak. Cuci bersihlah terlebih dahulu bahan-bahan makanan yang akan diberikan kepada anak, olahlah makanan dengan cara yang benar, yaitu dimasak hingga benar-benar matang. Jangan pernah memberikan makanan dan minuman yang setengah matang kepada bayi/anak, karena kuman dan bakteri dapat pula berasal dari makanan dan minuman yang tidak dimasak dengan baik. Memasak hingga matang dapat membunuh berbagai kuman dan bakteri berbahaya.
  • Lebih hati-hati dalam memberi susu kepada anak, karena beberapa anak memiliki risiko alergi dan intoleransi laktosa yang terdapat pada susu. Alergi dan intoleransi ini dapat mengganggu pencernaan dan menyebabkan diare pada bayi/anak. Bila anak/bayi positif alergi atau intoleransi laktosa, sebaiknya ganti susunya dengan jenis susu lain, misalnya susu kedelai.
  • Jangan sembarangan memberikan obat kepada bayi/anak, karena beberapa obat dapat menyebabkan diare.
  • Pemberian vaksin Rotavirus juga dapat melindungi (memperkecil risiko) bayi dan anak-anak dari infeksi virus Rotavirus yang seringkali menjadi penyebab diare pada bayi dan anak-anak.

Loading...

Rekomendasi

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>