Informasi dan Tips – informasitips.com

Mengatasi Anak yang Sulit Diatur

informasitips.com – Orangtua yang memiliki anak dalam masa pertumbuhan sepertinya memang memerlukan tenaga ekstra, karena mereka akan dihadapkan pada beberapa kasus mengenai perubahan si buah hati. Tidak jarang anak yang tadinya penurut berubah menjadi pembangkang, agresif, mudah marah atau hiperaktif. Ada juga yang tadinya periang berubah menjadi cengeng, pendiam, pemalu, penakut atau menarik diri dari lingkingan sekitarnya. Pada saat inilah, kesabaran orangtua diuji dan tidak sedikit para orangtua menjadi stres. Namun, perlu diketahui bahwa sifat-sifat tersebut merupakan hal yang normal. Layaknya orang dewasa, anak-anak pun bisa bersikap buruk dan tidak menyenangkan. Untuk itu, para orangtua perlu mengajarkan anak batas-batas tindakan yang tidak boleh dilanggar oleh anak.

Untuk lebih mengenal karakter anak, tentunya orangtua perlu mengetahui bagaimana fase pertumbuhan pada anak. Pada masa dua tahun pertama, sesuai dengan keterbatasan tubuhnya, si anak hanya dapat menerima apa yang diberikan oleh orangtuanya. Pada masa ini anak bersikap pasif menanti apa yang akan diberikan oleh orangtuanya, seperti menerima susu, makan, dimandikan, menerima perawatan kesehatan dan lain-lain.

Selanjutnya, pada dua tahun berikutnya fase anak berubah lagi. Sesuai dengan perkembangan fisiknya, anak mulai berupaya untuk lebih aktif dan banyak bergerak, bermain, memiliki keinginan besar untuk mengenal segala sesuatu di sekitarnya. Selain itu, anak juga mulai menunjukkan sikap banyak meminta. Pada fase inilah orangtua harus mulai mendisiplinkan anak, karena pada usia ini keinginannya mulai meningkat.

Mengatasi anak sulit diatur

Bila orangtua membiarkan dan cenderung selalu memberikan apa yang diinginkan oleh anak, maka akan tumbuh sikap berhak dalam diri anak atas apa yang diinginkannya. Jika hal ini terus terjadi, kemungkinan suatu saat anak akan bersikap marah dan menuntut ketika orangtua tidak memberikan apa yang diinginkannya.

Terbiasa selalu mendapatkan apapun yang diinginkannya juga akan membuat anak menjadi semakin sulit diatur manakala keinginannya tidak terpenuhi. Untuk itu, para orangtua perlu selektif dan lebih bijak dalam menyikapi keinginan anak .

Ada kalanya, orangtua tidak perlu menuruti keinginan anaknya. Terlebih bila hal yang diinginkan anak merupakan sesuatu yang bisa berdampak tidak baik bagi anak. Sikap tidak selalu mengabulkan keinginan anak dapat melatih anak memiliki sikap mampu “merelakan”.

Adalah hal yang wajar bila pada awalnya anak akan kecewa bila ia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Kekecewaannya itu biasanya akan melahirkan sikap-sikap negatif seperti marah dan membangkang. Keadaan menjadi sulit ketika si anak sudah terlanjur memiliki sikap sulit diatur. Namun, melalui pengajaran disiplin yang tepat dari orangtua, anak akan belajar untuk mengelola energi dan hasratnya dalam menginginkan atau melakukan sesuatu.

Lalu, apa yang perlu dilakukan orang tua dalam menghadapi kondisi seperti itu? Berikut ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh para orangtua dalam mengatasi anak yang sulit diatur:

  • Kontrol Emosi
    Tidak jarang para orangtua berteriak memarahi anaknya ketika anak rewel atau menangis karena menginginkan sesuatu. Terkadang, orang tua juga lebih memilih untuk menuruti apa yang diinginkan anak karena tidak ingin mendengar tangisan anak-anaknya. Seharusnya, tidak perlu seperti itu. Selama keinginan anak bukan sesuatu yang penting dan tidak harus dituruti, orangtua berhak untuk menolaknya.

    Biasanya anak akan mengutamakan keinginannya ketimbang menuruti kata-kata orangtua. Dengan begitu, para orangtua harus bisa mengontrol emosi ketika anak mulai marah dan kesal. Mengapa demikian? Karena dengan begitu si anak akan belajar bahwa mereka tidak selamanya bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan cara marah-marah, menangis atau merengek-rengek kepada orangtuanya. Mereka akan belajar mengembangkan kesadaran diri dan ego serta mulai menerima ketika merasa kenyataan yang dihadapinya berbeda dengan apa yang dipikirkan dalam benaknya.

  • Memberi Kesempatan
    Dalam melatih kecerdasan intrapersonal anak, sebaiknya para orangtua tidak lagi menyuruh anak untuk selalu mengikuti intruksi dan berhentilah mengatakan “tidak boleh”, “jangan”, atau “diam” pada anak. Mulailah memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang. Biarkan anak menghadapi akibatnya jika dia tetap ngotot mengutamakan keinginannya ketimbang mendengarkan larangan orangtua. Misalnya, ketika dia bersikeras mengenakan pakaian Ibunya yang kebesaran, padahal sudah dilarang. Biarkan dia merasakan betapa besar kemungkinan dia terjatuh. Apabila dia terjatuh, sebaiknya orangtua tidak memarahi atau bahkan mengomeli anak. Biarkan anak belajar menerima akibatnya. Secara tidak langsung, dia belajar bahwa ternyata ada alasan mengapa orangtua melarangnya. Berikan toleransi ketika anak melakukan kesalahan dan berikan kesempatan anak dalam bertindak. Namun, jika orangtua melarang maka ajarkan anak secara tegas tanpa harus marah-marah atas apa yang tidak boleh dilanggar oleh anak.

  • Alihkan Perhatian
    Emosi orangtua mulai berubah ketika si buah hati mulai berulah, menangis karena menginginkan sesuatu, ngotot ingin pergi ke suatu tempat atau merengek bahkan marah minta dibelikan sesuatu. Cara yang perlu dilakukan orangtua adalah mengatur emosi agar lebih tenang. Selanjutnya, cobalah untuk mengalihkan perhatian si buah hati. Jika anak sedang menangis, orangtua bisa melakukan cara seperti menyanyikan lagu kesukaannya atau mengajaknya bermain. Biasanya suasana hati anak akan berubah. Atau jika konflik terjadi di ruang tamu, orangtua bisa memindahkan anak dengan cara membawanya ke kamar atau ke taman halaman rumah. Perpindahan ruangan juga dapat megalihkan perhatian anak.

Itulah beberapa cara yang bisa dilakukan orangtua dalam mengatasi anak yang sulit diatur. Pola pendidikan yang diterapkan orangtua pada anak sedari kecil merupakan pembentukan karakter anak di masa depan. Apakah si buah hati akan tumbuh besar dengan pribadi yang baik, jujur, penuh kasih sayang, hormat pada orangtua, mandiri, sabar atau akan menjadi pribadi mudah putus asa, tempramental, tidak bisa menghargai dan sikap buruk lainnya. Semua itu tergantung pada pendidikan yang diterima anak, terutama dari Ayah dan Ibunya.



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *