Informasi dan Tips – informasitips.com

Mengapa Perut Bunyi Saat Lapar?

informasitips.com – Pertanyaan ini mungkin menjadi salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan oleh anak-anak ataupun oleh orang dewasa. Perut berbunyi ketika seseorang merasa lapar merupakan hal yang wajar, malah sebenarnya perut selalu berbunyi loh, bahkan di saat Kamu tidak merasa lapar. Mengapa seperti itu?

Normalnya, perut memang selalu berbunyi layaknya bunyi yang kamu dengar atau rasakan saat Kamu merasa lapar, hanya saja bunyi atau rasa itu akan teredam jika keadaan perut atau saluran cerna terisi oleh makanan. Namun, di saat perut atau saluran cerna itu kosong, atau di saat Kamu merasa lapar, bunyi atau rasa itu akan menjadi lebih terdengar atau lebih terasa. Itulah sebabnya mengapa saat Kamu lapar, maka Kamu akan mendengar bunyi atau merasakan “raungan” dari perut Kamu. Nah, sekarang pertanyaan yang muncul adalah darimana sebenarnya bunyi atau “raungan” itu berasal? Apakah berasal dari cacing-cacing yang ada di perut Kamu? Tidak, bukan itu jawabannya, mari Kita bahas lebih lanjut.

Asal-Usul Bunyi di Perut Ketika Lapar

Bunyi yang kerap didengar saat perut terasa lapar sebenarnya terjadi juga saat perut terisi penuh (kenyang) ataupun terisi sebagian. Bunyi itu berasal dari gerakan otot-otot di perut serta di usus halus pada saat perut dan usus halus meremas-remas (baca: mencerna) makanan, cairan dan gas yang ada di sana. Namun, gerakan mencerna tersebut tidak terlalu terasa dan tidak terdengar bunyinya manakala perut dan usus halus terisi oleh makanan, baik itu penuh ataupun sebagian. Tetapi, jika di perut dan usus halus tidak terdapat makanan, maka bunyi itu akan lebih terasa dan akhirnya dapat didengar, baik itu oleh kamu ataupun orang lain yang berada di dekatmu. Hal itu sangat bisa dimengerti, coba bayangkan jika Kamu berteriak dalam ruangan yang penuh atau berisi barang, lalu bandingkan dengan Kamu berteriak di dalam ruangan yang kosong atau di dalam goa, maka hasilnya akan berbeda ‘bukan? Suara teriakan di dalam ruang kosong atau di goa tentu akan lebih terdengar nyaring ketimbang suara teriakan di dalam ruangan yang penuh barang.

Jadi, suara atau bunyi perut yang terjadi saat lapar itu bukanlah sesuatu yang hanya terjadi di saat lapar saja, namun hal itu merupakan “kebiasaan” perut dan usus halus yang terjadi secara teratur, baik itu ada makanan, terlebih lagi jika tidak ada. Bunyi itu berasal dari gerakan otot-otot yang, terutama, terdapat di perut dan usus halus. Secara umum, saluran pencernaan manusia itu bisa dikatakan sebagai sebuah tabung panjang yang berawal di mulut dan berakhir di anus, nah dinding tabung itu tersusun atas lapisan-lapisan otot-otot halus. Saat dinding saluran cerna teraktivasi, maka gerakan-gerakan meremas materi yang ada di dalam saluran cerna (seperti makanan) akan dihasilkan, gerakan itulah yang kemudian dirasakan sebagai “raungan” perut dan dapat terdengar bunyinya. Gerakan yang seperti itu kita kenal juga sebagai gerakan peristaltik, terdengar familiar ‘bukan?

Bunyi di Perut adalah Gerakan Peristaltik

Seperti yang telah dijelaskan di atas, perut yang bunyi saat lapar sebenarnya merupakan gerakan peristaltik yang terjadi manakala perut telah kosong. Gerakan peristaltik adalah gerakan kontraksi dan relaksasi otot-otot saluran cerna yang mengarahkan massa makanan ke arah yang berlawanan dengan arah mulut ke arah saluran pembuangan akhir atau anus. Gerakan peristaltik ini sebenarnya merupakan gerakan refleks, artinya bukan merupakan gerakan yang diperintahkan atas kesadaran kita, namun terjadi secara tak sadar dan merupakan gerakan instan yang terjadi sebagai akibat dari merespon suatu stimulus.

Gerakan peristaltik dihasilkan dari adanya fluktuasi potensial elektrik pada otot-otot halus di dinding saluran cerna. Fluktuasi potensial elektrik itu disebut juga dengan nama Basic Electrical Rhythm (BER) dan dihasilkan oleh aktivitas sistem saraf enterik yang berada pada dinding saluran cerna. BER akan menyebabkan terciptanya irama gerakan yang teratur pada perut dan usus halus layaknya irama detak jantung, namun yang ini terjadi lebih lambat. Pada perut gerakan itu terjadi sebanyak 3 kali per menit, sedangkan pada usus halus terjadi sebanyak 12 menit per kali. BER tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas sistem saraf enterik, namun juga turut dipengaruhi oleh faktor hormon.

Ada atau Tidaknya Makanan Memengaruhi Gerakan Peristaltik

Gerakan peristaltis ternyata akan terjadi lebih kencang saat terdapat makanan pada saluran cerna, begitu juga pada saat perut dan usus halus telah kosong selama 2 jam. Pada saat perut kosong, ada reseptor pada dinding perut dan usus halus yang dapat mendeteksi ketidak-adaan makanan, sehingga dihasilkan lah gerakan refleks yang disebabkan oleh adanya aktivitas listrik pada sistem saraf enterik. Jadi, keberadaan makanan pada saluran cerna sangat memengaruhi kekuatan dan frekuensi gerakan peristaltik yang terjadi. Saat perut lapar atau kosong, maka kontraksi akan terjadi selama 10 hingga 20 mmenit dari pertama kali kontraksi dimulai, dan akan berulang lagi setiap 1 hingga 2 jam sampai makanan tersedia di saluran cerna. Nah, berarti bunyi perut yang keras saat lapar itu bukan hanya disebabkan oleh perut yang kosong, tetapi juga disebabkan oleh menguatnya gerakan peristaltik saat perut kosong atau saat terasa lapar.



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FOLLOW INFORMASITIPS

ARTIKEL PILIHAN

NEWSLETTER

Dapatkan Informasi dan Tips terbaru langsung ke Email Anda. Masukkan alamat Email Anda di bawah ini, kemudian klik langganan: