Informasi dan Tips – informasitips.com

Hapus Kekerasan di Sekolah, Mendikbud Resmi Larang MOS Dilakukan Oleh Siswa

Kegiatan MOS atau Masa Orientasi Sekolah merupakan salah satu kegiatan yang biasa dilaksanakan di sekolah setiap kali memasuki tahun ajaran baru. Selama ini, kegiatan MOS dilakukan oleh kalangan siswa lama (kakak kelas) terhadap siswa baru atau adik kelasnya yang baru masuk sekolah.

Pada dasarnya, kegiatan MOS memiliki tujuan yang baik, yaitu untuk mengenalkan lingkungan sekolah kepada para siswa baru. Namun pada praktiknya, kegiatan MOS kerap kali diwarnai dengan aksi perpeloncoan yang sering mengarah ke tindakan “bullying” dan kekerasan, baik itu kekerasan fisik maupun psikis, yang dilakukan oleh para senior (siswa lama) ke adik kelasnya.

Beberapa senior bahkan banyak yang memanfaatkan ajang MOS sebagai kesempatan “balas dendam”, karena sebelumnya mereka pun pernah mendapatkan perlakuan pelonco dari para senior mereka terdahulu.

Baca juga: Fenomena Bully di Social Media

Tak jarang, aksi “balas dendam” itu dilakukan sampai di luar batas hingga menimbulkan korban, bahkan di beberapa sekolah banyak juga yang sampai menimbulkan kematian.

Menyikapi maraknya aksi perpeloncoan yang sering terjadi saat MOS, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Anies Baswedan secara resmi melarang pelaksanaan kegiatan MOS dilakukan oleh kalangan siswa atau pelajar.

Seperti yang dikutip dari ANTARA (12-7-2016), Menteri Anies mengungkapkan bahwa kegiatan MOS yang diselenggarakan di sekolah hanya boleh dilakukan oleh para guru atau pengajar, bukan oleh para senior (kakak kelas) untuk menghindari terjadinya tindakan kekerasan dan perpeloncoan yang marak terjadi di sekolah. Hal itu diatur dalam Permendikbud nomor 18 tahun 2016, tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi Siswa Baru.

“Salah satu problem utama adalah soal praktek perpeloncoan di hari pertama sekolah. Saya tegaskan praktek perpeloncoan harus dihentikan.”

“Meski pelaksananya anggota OSIS akan tetap kami larang. Mulai tahun ini harus dilakukan oleh guru atau pengajar”, demikian ungkap Menteri Anies pada sebuah konferensi pers di Kantor Kemdikbud, Jakarta, Senin, 11-7-2016.

Pelarangan tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya tindakan kekerasan di lingkungan sekolah, yang salah satunya sering terjadi pada masa orientasi sekolah (MOS).

Mendikbud menilai perlu untuk mengambil keputusan pelarangan tersebut mengingat banyaknya laporan kekerasan -baik fisik maupun psikis- yang selama ini kerap dialami siswa baru saat mengikuti kegiatan MOS setiap memasuki tahun pertama sekolah.

“Ini tidak bisa lagi dibiarkan, karena tidak ada orangtua yang ingin mengantar anaknya ke sekolah dalam kondisi bahagia, tetapi menjemputnya dengan kondisi yang menyedihkan,” tutur Anies.

Menurut Anies, konsep pengenalan lingkungan sekolah sudah saatnya harus diubah dengan cara memutus aksi kekerasan di sekolah. Hal ini bukan berarti melarang pelaksanaan kegiatan MOS di sekolah, namun pada konsep baru ini kegiatan MOS akan lebih diatur dan ditertibkan lagi, di mana yang akan menjadi pelaksana kegiatan pengenalan lingkungan sekolah MOS adalah guru sekolah yang bersangkutan, bukanlah siswa senior. Pelaksanaan MOS oleh para guru atau pengajar pun harus dilakukan pada saat jam-jam belajar, serta di dalam lingkungan sekolah.

Menteri Anies juga menekankan bahwa meskipun dilakukan oleh para guru atau pengajar, kegiatan MOS yang tujuan utamanya adalah untuk mengenalkan lingkungan sekolah kepada siswa baru haruslah bersifat edukatif dan dilakukan dalam suasana yang menyenangkan. Selain itu, pada saat kegiatan MOS berlangsung, para siswa baru yang mengikutinya haruslah tetap berpakaian seragam sekolah biasa, tidak boleh menggunakan aksesoris yang aneh-aneh lagi.

“Siswa pun harus pakai seragam seperti belajar sehari-hari. Tidak perlu pakai aksesoris yang aneh-aneh, harus pakai atribut sekolah,” ungkap Menteri Anies.

Masyarakat Harus Melaporkan Kekerasan di Sekolah

Tak hanya saat MOS, sebenarnya praktik perpeloncoan yang mengarah ke tindakan bullying dan kekerasan juga marak terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan ekstrakulikuler di sekolah. Terkait hal ini, Menteri Anies juga meminta kepada sekolah untuk wajib meminta izin tertulis kepada orangtua bila siswa ingin mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Ia juga mengungkapkan perlu adanya guru pendamping sekolah untuk kegiatan ekstrakulikuler yang dilaksanaan di luar sekolah.

Anies juga menghimbau masyarakat untuk melapor bila masih menemukan tindak kekerasan atau perpeloncoan di sekolah. Masyarakat dapat melaporkan tindakan kekerasan di sekolah dengan menghubungi nomor telepon 0811976929 atau 021-59703020. Tak perlu khawatir untuk melapor, karena identitas pelapor akan dilindungi. Selain melalui dua nomor pengaduan tersebut, masyarakat juga dapat melaporkan berbagai tindak kekerasan yang terjadi di sekolah melalui website resmi yang diluncurkan oleh Kemdikbud, yaitu: sekolahaman.kemdikbud.go.id

Kemdikbud akan menyelidiki setiap laporan yang masuk, dan akan memberikan sanksi tegas bila memang masih terdapat tindak perpeloncoan dan kekerasan di sekolah. Sanksi akan diberikan kepada siswa yang melakukan perpeloncoan, berupa teguran tertulis atau tindakan lainnya yang bersifat edukatif. Sanksi juga akan diberikan kepada pihak sekolah, yaitu kepada kepala sekolah dan guru-guru, berupa teguran atau bahkan pemecatan, dan sekolah yang bersangkutan juga dapat diturunkan akreditasinya, tidak mendapat bantuan dari pemerintah, bahkan bisa ditutup.

Keputusan pelarangan perpeloncoan dan penertiban kegiatan MOS di sekolah ini merupakan langkah bagus yang diambil oleh Kemdikbud untuk memutus rantai kekerasan berulang yang hampir setiap tahun terjadi di lingkungan sekolah.

Sebagai masyarakat, tentunya kita mengharapkan agar keputusan tersebut dapat diterapkan oleh seluruh sekolah di Indonesia agar sekolah benar-benar dapat menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa untuk menempuh pendidikan, baik pendidikan akademik, maupun pendidikan non akademik seperti pendidikan mental, akhlak, dan budi pekerti.

(Sumber: ANTARA, KOMPAS)



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FOLLOW INFORMASITIPS

ARTIKEL PILIHAN

NEWSLETTER

Dapatkan Informasi dan Tips terbaru langsung ke Email Anda. Masukkan alamat Email Anda di bawah ini, kemudian klik langganan: