Informasi dan Tips – informasitips.com

Menangani Ledakan Amarah (Temper Tantrum) Pada Anak

informasitips.com – Ledakan amarah (temper tantrum) biasa terjadi pada anak batita. Pada masa ini, perkembangan sosial dan emosional anak memasuki tahapan baru sejalan dengan perkembangan identitas dirinya Ia mulai ingin menentukan pilihan sendiri, melakukan kegiatan sendiri, dan tegas dalam mengekspresikan keinginannya. Pada beberapa anak, tantrum ini masih akan terus berlanjut sampai beberapa tahun, saat keinginannya tidak tercapai.

Anak-anak biasanya menunjukkan kemarahan saat sangat lelah, lapar, atau sakit. Terkadang, kemarahan (tantrum) yang dikeluarkan anak hanya merupakan cara mereka untuk menguji kesabaran atau demi mendapatkan perhatian orang dewasa di sekitarnya, terutama perhatian orang tua. Saat terjadi kemarahan, baik anak maupun orang tua bisa saja lepas kendali. Anak bisa melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya, sementara orang tua bisa bereaksi sangat keras ke anak, karena hilang kesabaran. Untuk menghindari hal tersebut terjadi, orang tua harus tahu bagaimana cara menyikapi kemarahan anak.

Ada banyak jenis kemarahan anak. Ada kemarahan karena lelah, lapar, lapar, sakit, frustasi, atau hanya ingin menguji kesabaran dan menarik perhatian. Untuk bisa memberikan reaksi penanganan yang tepat terhadap kemarahan anak, orang tua harus pandai mengidentifikasi jenis kemarahan anak. Yang pasti, apapun jenis kemarahan anak, usahakanlah untuk tetap tenang dan kendalikan diri Anda agar tidak terpancing emosi.

Jenis Kemarahan (tantrum) Pada Anak

  1. Lapar
    Beberapa anak tidak bisa menahan rasa laparnya dan melepaskannya dalam bentuk tantrum kepada orang sekitarnya. Jika Anda yakin anak marah karena merasa lapar, segera sediakan makanan untuknya secepatnya, meskipun saat itu bukan waktu makannya. Sebaiknya, selalu sediakan kudapan-kudapan sehat agar bisa cepat diberikan kepada anak.

  2. Lelah
    Anak bisa saja lelah karena terlalu banyak bermain atau terlalu banyak diberikan stimulasi. Jika Anda yakin bahwa anak marah karena ia kelelahan, maka hentikan segala aktivitas bermain, bicaralah sesedikit mungkin , dan dengan suara yang tenang. Luapan emosi anak menunjukkan bahwa ia sudah sangat jenuh dan lelah dengan segala aktivitas yang ada. Ia membutuhkan rehat atau istirahat untuk bisa tenang dan ceria kembali. Peluk dan timanglah anak, lalu bawa ia ke kamar tidurnya atau ke tempat dimana ia dapat secepatnya beristirahat.

  3. Sakit
    Luapan tantrum yang lebih keras lagi biasanya ditunjukkan anak yang sedang sakit. Biasanya tantrumnya terjadi cukup panjang dan sangat sukar dialihkan. Tetaplah bersikap tenang, dan bicaralah dengan suara yang pelan agar hatinya tentram. Jika anak menunjukkan tanda-tanda akan muntah, pastikan ada seseorang di dekat Anda yang bisa mengambilkan wadah atau tempat sampah berserta waslap hangat. Jika anak membutuhkan perawatan medis, segeralah bawa anak ke dokter atau rumah sakit.

    Jenis Tantrum dan Solusi Menangani Tantrum Pada anak

  4. Perubahan suasana
    Beberapa anak kesulitan menghadapai perubahan suasana, dan hal ini bisa jadi pemicu kemarahannya. Misalnya, saat bermain di taman, katakan lebih dahulu jika Anda dan ia akan segera pulang: “Kita harus pulang 10 menit lagi. Kamu masih mau bermain ayunan?” Pemberitahuan terlebih dahulu itu akan membantu anak mengatasi perubahan suasana dan mengurangi kemungkinannya untuk marah.

  5. Menguji kesabaran dan mencari perhatian
    Anak-anak sering meluapkan kemarahannya hanya untuk menguji kesabaran dan mencari perhatian orang tuanya. Bentuk kemarahan jenis ini biasanya ditunjukkan dengan sikap sok tahu, tidak mudah diberi pengertian. Meskipun orang tua sering kewalahan menangani jenis kemarahan ini, namun usahakanlah untuk tetap tenang dan tak terpancing emosi. Hindari beragumen dengan anak saat ia menunjukkan kemarahan yang seperti ini. Berargumen kepada anak terkadang malah semakin memperparah keadaan. Tetaplah sabar. Terkadang anak hanya butuh untuk didengarkan atau diberi perhatian lebih. Dengan suara tenang, cobalah untuk memberikan pengertian kepada anak dan ungkapkan bahwa Anda mengerti bahwa ia marah. Jika ia marah karena ingin didengarkan, cobalah dengarkan ia. Jika ia marah karena merasa diabaikan, cobalah beri perhatian lebih kepadanya.

  6. Memaksa meminta sesuatu yang tak bisa ia miliki
    Ada kalanya tantrum terjadi karena anak memaksa orang tua untuk memberikan apa yang ia inginkan. Ia berusaha terus meminta sesuatu yang tidak boleh dilakukan atau dimilikinya. Misalnya, anak ingin terus-terusan makan es krim, permen atau coklat. Saat seperti itu, bersikaplah tegas, konsisten, namun tetap lembut kepada anak. Anda bisa mengatakan “tidak” tanpa harus memarahinya.

Meskipun Anda harus bereaksi tenang saat anak marah, namun bukan berarti Anda harus mengalah terhadap segala keinginan anak. Anda tetap perlu memberikan aturan dan arahan mana yang boleh atau tidak boleh dilakukan anak. Tegas dan konsistenlah dengan aturan itu. Jika Anda tidak tegas, anak akan semakin memanfaatkan kelemahan dan ketidaktegasan Anda itu dengan cara sering meluapkan kemarahannya saat ia menginginkan sesuatu.

Tips Menangani Kemarahan (Tantrum) Pada anak:

  • Jangan gunakan kekerasan, seperti menampar atau memukul anak. Kekerasan justru hanya akan mengajarkan kepada anak bahwa ia bisa (boleh) melakukan kekerasan pula pada orang lain.
  • Jangan menahan anak secara fisik pada saat kemarahannya meledak, kecuali ia benar-benar ingin berlari ke jalan raya atau menyakiti dirinya sendiri. Menahan anak, misalnya memegang tangan anak saat ia marah, justru akan membuat kemarahannya semakin menjadi-jadi.
  • Jangan gunakan ancaman atau hukuman. Jika anak menjadi tidak rasional, ancaman dan hukuman tidak akan berhasil untuk anak. Itu hanya akan membuat anak semakin emosional dan tertekan.
  • Jangan berargumen. Lagi-lagi, berargumen dengan anak yang sedang tantrum justru akan semakin memperparah keadaan. Bila diperlukan, Anda dapat menjauh sejenak dari anak, daripada berargumen. Tapi, pastikan dulu bahwa anak berada dalam kondisi yang aman saat Anda tinggalkan, dan kemungkinan besar tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya.
  • Jangan mempermalukan anak atau mencela perilakuknya. Anda memang perlu memberi pengertian kepada anak bahwa tindakannya tidak benar. Namun, bukan berarti Anda harus mencela atau mengejeknya. Karena hal tersebut justru akan mengajarinya melakukan hal yang sama kepada orang lain kelak.

Untuk menghindari terjadinya tantrum pada anak, Anda bisa menerapkan strategi pengalihan perhatian. Jika tanda awal kemarahannya mulai muncul, Anda dapat mengalihkan perhatiannya pada sebuah permainan atau kejadian lainnya yang cukup menarik perhatian. Selain itu, Anda perlu menghindarkan hal-hal yang bisa memicu munculnya tantrum. Misalnya, agar ia tidak tantrum saat kelaparan, pastikan Anda selalu menyiapkan camilan kecil untuk anak, atau pastikan Anda memberi makan tepat waktu kepada anak agar ia tidak sampai kelaparan.

——————–

Baca juga artikel: Awas, Kebiasaan Memukul Anak Bisa Mengganggu Perkembangan Mental Anak



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *