Informasi dan Tips – informasitips.com

Mekanisme Otak dalam Mengenali Bau (Aroma)

Ketika mendengar makanan favorit Anda disebutkan, durian misalnya, secara langsung otak Anda akan mempersiapkan sistem sensorinya pada bau makanan yang Anda kenal itu. Riset terbaru dari Northwestern University menunjukkan gejala yang kuat bahwa otak menggunakan coding predictive untuk menghasilkan “gambaran prediktif” atau bau yang spesifik, membangun ekspetasi mental pada sebuah bau sebelum Anda benar-benar membauinya.

Predictive coding sangat penting karena menyajikan manusia perkembangan secara behavioral, bahwa mereka dapat bereaksi lebih cepat dan lebih akurat ke stimuli pada lingkungan sekitar.

Studi ini, yang dipublikasikan pada jurnal Neuron tanggal 6 Oktober lalu yang dipimpin oleh Christina Zelano, seorang mahasiswi S3 di laboratorium Jay Gottfried M.D. , juga bekerja sama dengan professor bidang Neurologi di Northwestern University Feinberg School of Medicine dan melibatkan seorang ahli fisika di Northwestern Memorial Hospital.

mekanisme otak mengenali bau

Para peneliti menggunakan teknik MRI fungsional dan cutting-edge, analisis pola dasar untuk mengidentifikasi keberadaan coding predictive pada korteks olfaktori di otak, dimana indra penciuman berada.

Tetapi itu mungkin saja tidak jelas bahwa gambaran pada system olfaktori memberikan manfaat behavioral manusia jaman sakarang, Zelano berkata orang-orang sering mengabaikan kekuatan indera penciuman.

“Jika seseorang memberimu sebotol susu dan bertanya, ’Apa susu ini telah basi?’ mungkin tidak ada petunjuk visual untuk membantu menentukan secara akurat apakah susu ini telah basi, lalu Anda menggunakan indra penciuman Anda,” ujar Zelano. “Studi kami mengindikasi bahwa otak Anda bisa membentuk gambaran bau susu yang basi, dan Anda akan menentukan secara akurat bahwa susu tersebut telah basi dan Anda tidak jadi sakit. Gambaran prediksi inilah yang akan memberikan manfaat yang penting.”

Pada studi ini, subyek menampilkan “odor smell tasks” atau bau mencari masalahnya dan dimonitor dalam scanner MRI. Esensi yang digunakan adalah esensi semangka dan esensi dengan bau seperti Play-Doh, lilin mainan warna-warni anak-anak.

Sebelum percobaan dimulai, para subyek diberitahu bau yang akan mereka identifikasi. Penghitungan mundur secara visual dilakukan, menginformasikan para subyek bahwa mereka harus siap dengan bau yang diberikan kemudian, setelah membaui, mereka mengindikasi dengan menekan tombol apakah mereka pikir target bau mereka muncul atau tidak. Kadang-kadang target bau yang dicobakan sama dengan yang diramalkan, kadang berbeda, dan kadang target bau tersembunyi pada campuran bau lain.

Para peneliti bisa melihat pola aktifitas pada otak sebelum bau tersebut muncul dan menemukan bahwa, target percobaan yang hasilnya sama, pola aktifitasnya lebih berkorelasi daripada ketika hasilnya berbeda.

“Studi kami menegaskan keberadaan mekanisme predictive coding pada bagian penciuman,” kata Gottfried, penulis senior pada studi ini. “Kami menemukan bahwa keseluruhan korteks olfaktori yang kami lihat benar-benar melakukan gambaran prediktif yang sangat spesifik pada bau yang ditargetkan.”

Gambaran prediktif telah dipelajari di sistem visual, tetapi ini studi pertaman yang menguji evolusi spatiotemporal pada pola aktifitas pada bagian otak korteks olfaktori manusia.



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FOLLOW INFORMASITIPS

ARTIKEL PILIHAN

NEWSLETTER

Dapatkan Informasi dan Tips terbaru langsung ke Email Anda. Masukkan alamat Email Anda di bawah ini, kemudian klik langganan: