Informasi dan Tips – informasitips.com

Mengapa Manusia Menguap?

informasitips.com – Pernahkah Kamu bertanya kenapa Kamu suka sekali menguap? Apakah menguap pertanda kalau Kamu mengantuk atau mungkin itu signal bahwa Kamu tengah mengalami kebosanan? Pada artikel ini Kami akan coba membahasa mengapa manusia suka sekali menguap, termasuk penulis (huuaaaaaaaaahhhhhhh….., ups sorry….)

Secara ringkas, berikut ini beberapa hal yang berkaitan dengan menguap pada manusia:

  • Menguap diawali dengan adanya signal yang muncul di otak, tepatnya di bagian PVN (Paraventricular Nucleus) dari Hypothalamus.
  • Menguap tidak berhubungan dengan peningkatan suplai oksigen ke dalam tubuh
  • Ketika Kamu merasa bosan, Kamu akan menguap lebih banyak dibandingkan ketika Kamu tidak sedang merasa bosan.
  • Kamu sadari atau tidak, ternyata menguap itu dapat menular loh.
  • Penelitian terbaru menyebutkan bahwa menguap merupakan cara tubuh dalam mendinginkan otak.

Kami akan mengupas satu per satu dari hal yang telah disebutkan di atas pada bagian di bawah ini. Selamat membaca.

mengapa Menguap

sumber gambar: www.tracsoft.com

Rangsangan menguap pada manusia diawali dengan adanya signal yang berasal dari bagian otak yang disebut PVN (Paraventricular Nucleus) yang terdapat pada bagian hypothalamus. Signal tersebut merangsang sel-sel otak yang lain, baik itu pada bagian batang otak ataupun hippocampus yang kemudian akan menghasilkan kontraksi otot yang kita kita kenal dengan menguap. Terjadinya pelepasan Adrenocorticotropic hormone atau ACTH oleh PVN juga merupakan penyebab mengapa manusia menguap. Hormon ACTH tersebut biasanya akan meningkat kadarnya secara dramatis selama Kamu tidur dan saat sebelum Kamu berjalan, mungkin karena itulah mengapa Kamu sering menguap di pagi hari.

Banyak orang berpikir bahwa menguap merupakan mekanisme tubuh dalam menyuplai oksigen ke dalam tubuh. Sebenarnya hal itu logis saja, karena pada saat menguap kita menghirup panjang udara dari luar, ditambah lagi kita membuka mulut lebar-lebar layaknya ingin mengambil udara dari lingkungan sekitar. Tetapi rupanya hal itu tidak benar, karena percobaan yang dilakukan menunjukkan bahwa subjek percobaan menguap sama banyak pada lingkungan yang kaya akan oksigen dengan lingkungan yang sedikit oksigen.

Jika ada orang yang mengatakan bahwa Kamu menguap karena Kamu sedang bosan, mungkin itu ada benarnya. Percobaan yang dilakukan terhadap mahasiswa yang memiliki rentang usia 17-19 tahun menunjukkan bahwa mereka yang mengalami kebosanan menguap dua kali lebih banyak disbanding mereka yang tidak bosan. Para mahasiswa itu dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok dikasih tontonan video music, sementara yang satu lagi diperlihatkan pola-pola warna yang berbentuk batang. Mereka yang menonton video music tentunya akan lebih bersemangat dibanding mereka yang hanya melihat pola-pola warna saja, alhasil para mahasiswa yang diperlihatkan pola-pola warna menguap dua kali lebih banyak dibandingkan mereka yang menonton video music.

Kebosanan bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi kenapa seseorang bisa menguap. Kamu sadari atau tidak, ternyata menguap itu bisa menular. Pernahkah Kamu mengamati ketika ada seseorang di kelas yang menguap, maka akan ada orang-orang lain selanjutnya yang juga akan menguap di dalam kelas tersebut. Peneliti yang menjadi pperintis dalam penelitian menguap, yaitu Robert Provine, mengatakan bahwa menguap sangat menular, ketika seseorang melihat orang lain menguap maka dia akan menguap, ketika seseorang membaca artikel tentang menguap maka dia juga akan menguap, begitu juga ketika seseorang memikirkan tentang menguap maka dia pun akan menguap. Hal tersebut mungkin dikarenakan menguap merupakan bentuk komunikasi sosial.

Penelitian terbaru mengenai menguap dilakukan oleh Andrew Gallup dari Princeton University dan Gary Hack dari University of Maryland. Mereka menyatakan bahwa menguap merupakan mekanisme tubuh dalam menurunkan suhu di otak. Mereka mengatakan, “Otak sangat sensitif terhadap terjadinya perubahan suhu, oleh karena itu harus dilindungi agar tidak overheat. Otak, layaknya komputer, akan optimal menjalankan fungsinya pada keadaan dingin”. Gallup dkk menemukan adanya penurunan suhu di otak tikus setelah mereka menguap. Hal yang sama juga ditemukan terjadi pada manusia. Apa dampak medis yang bisa diambil dari penelitian Gallup dan Hack itu? Gallup dan Hack memprediksi bahwa menguap yang berlebihan dapat digunakan untuk mendiagnostik adanya disfungsi pengaturan suhu tubuh, terutama pada organ otak. Hal tersebut berhubungan dengan keadaan-keadaan medis, seperti gangguan tidur atau kerusakan sistem saraf pusat.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

TEMUKAN KAMI DI:

NEWSLETTER

Mau berlangganan artikel Kami? Tulis Email Anda pada form di bawah ini.

Cek Email Anda setelahnya untuk mengaktifkan layanan newsletter. Terimakasih