Informasi dan Tips – informasitips.com

Jenis-jenis Turbulensi yang Sering Dialami Pesawat Terbang

informasitips.com – Turbulensi memang termasuk salah satu hal yang cukup ditakuti saat sedang naik pesawat terbang.

Tak jarang, turbulensi menyebabkan para penumpang dan kru yang ada di dalamnya mengalami cedera.

Ketika pesawat sedang mengalami turbulensi, penumpang dan para kru di dalam pesawat akan merasakan goncangan dan hentakan ke arah samping maupun atas. Intensitas goncangan dan hentakan tersebut bisa berbeda-beda, mulai dari yang ringan sampai goncangan yang sangat kuat.

Turbulensi disebabkan karena adanya pergerakan aliran udara yang tidak teratur, dan terkadang tidak bisa dideteksi sebelumnya.

Turbulensi biasanya terjadi akibat bertemunya berbagai massa udara yang berbeda kecepatan, arah, dan suhu.

Untuk lebih mengetahui apa pengertian turbulensi dan tingkatan intensitas turbulensi, silakan membaca artikel:

Apa Itu Turbulensi dan Pengaruhnya Bagi Pesawat?

Apakah turbulensi berbahaya?

Turbulensi yang dialami pesawat sebenarnya merupakan hal yang normal dan biasa terjadi. Meskipun demikian, turbulensi dapat pula dianggap sebagai sesuatu yang membahayakan dan bisa menimbulkan cedera penumpang, terutama untuk turbulensi dengan intensitas goncangan yang besar.

jenis-turbulensi-pesawat

Beberapa contoh kejadian turbulensi yang menimbulkan cedera penumpang misalnya adalah turbulensi yang baru saja dialami oleh pesawat Etihad Airways EY-474 dengan rute Abu Dhabi-Jakarta pada 4 Mei 2016 kemarin, sesaat sebelum pesawat mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Dilaporkan, 31 orang mengalami luka-luka akibat turbulensi hebat yang berlangsung sekitar 10 menit tersebut.

Dari 31 orang yang mengalami cedera dan luka-luka tersebut, 22 penumpang dirawat oleh paramedik bandara karena mengalami luka ringan, sementara 9 orang lainnya mengalami luka yang cukup berat sehingga perlu dilarikan ke rumah sakit.

Mengutip dari laman resmi BMKG, pesawat Etihad Airways mengalami turbulensi pada ketinggian sekitar 37.000 kaki di wilayah sekitar pulau Sumatera bagian selatan.

Turbulensi yang dialami pesawat Etihad Airways tergolong turbulensi tingkat parah (yaitu tingkat 3), yang merupakan kombinasi dari gelombang dekat pegunungan Bukit Barisan Sumatera bagian Selatan dengan Awan Cumulonimbus (Awan CB) di sekitar jalur penerbangan pesawat Etihad Airways.

Baca juga: Apa Itu Awan Cumulonimbus? Benarkah Berbahaya bagi Pesawat?

Selang beberapa hari dari kejadian turbulensi yang dialami pesawat Etihad Airways, peristiwa turbulensi parah kembali terjadi, yaitu pada pesawat Hongkong Airlines HX-6704 yang mengalami turbulensi di wilayah sekitar pulau Kalimantan.

Turbulensi parah yang dialami pesawat Hongkong Airlines pada 7 Mei 2016 tersebut menyebabkan 17 orang penumpang mengalami luka dan cedera.

Akibat mengalami turbulensi, pesawat Hongkong Airlines yang semula bertolak dari Bali menuju ke Hongkong itu terpaksa harus kembali lagi ke Bandara Ngurah Rai, Bali.

Sama halnya dengan kejadian yang dialami pesawat Etihad Airways, faktor pengaruh Awan Cumulonimbus (CB) di dekat lokasi kejadian turut memperparah turbulensi yang dialami pesawat Hongkong Airlines.

Menurut informasi yang dihimpun dari situs BMKG, faktor peralihan musim, di mana terjadi perbedaan suhu udara yang mencolok antara siang dan malam berpotensi besar menjadi penyebab timbulnya turbulensi.

Kejadian lainnya yang juga menimbulkan cedera penumpang akibat turbulensi adalah peristiwa turbulensi hebat yang dialami oleh pesawat Qantas Boeing 767-300 pada November 2013, sesaat sebelum mendarat di Bandara Sydney, Australia.

Berdasarkan informasi yang dilaporkan media news.com.au, pesawat tersebut mengalami turbulensi hebat selama kurang lebih 2 menit. Dilaporkan, seorang penumpang mengalami luka serius di kepala akibat tertimpa laptop yang jatuh dari bagasi atas pesawat, seorang penumpang lainnya mengalami luka di bagian tulang rusuk, dan satu orang lainnya mengalami luka ringan.

Pada dasarnya, pesawat terbang sudah dirancang khusus untuk bisa siap menghadapi goncangan akibat turbulensi, termasuk turbulensi dengan intensitas goncangan yang cukup besar sekalipun.

Dan, dari sekian banyak kasus turbulensi yang terjadi, hampir sebagian besar penumpang biasanya tidak mengalami cedera luka yang serius.

Walaupun demikian, penumpang pesawat tetap harus waspada. Karena, meski pesawat terbang komersil saat ini sudah dirancang untuk siap menghadapi berbagai bentuk turbulensi, namun, tubuh manusia tetap rentan terhadap berbagai benturan yang diakibatkan oleh goncangan turbulensi. Oleh karenanya, demi keselamatan, para awak kabin dan kru pesawat biasanya akan meminta para penumpang untuk mengenakan dan mengencangkan sabuk pengamannya saat turbulensi sedang terjadi.

Jenis Turbulensi Menurut Penyebabnya
Berdasarkan penyebabnya, setidaknya ada 4 jenis turbulensi yang perlu diketahui, yaitu:

  1. Thunderstorm turbulence

    Apa itu Thunderstorm tubulence?

    Turbulensi Thunderstorm adalah turbulensi yang terjadi akibat badai petir dan awan cumulonimbus.

    Jenis turbulensi ini tergolong cukup parah dan dapat menimbulkan goncangan yang besar, sehingga bisa sangat berbahaya.

    Turbulensi Thunderstorm ini mengakibatkan penumpang pesawat tiba-tiba terlempar ke atas, ke bawah, dan ke samping. Pesawat pun dapat hancur terbelah bila mengalami jenis turbulensi ini.

    Untungnya, dengan kecanggihan pesawat terbang komersil saat ini, ada banyak sistem peringatan awal dan radar cuaca yang dimiliki pesawat, sehingga pilot bisa mendapatkan peringatan daerah-daerah penerbangan mana saja yang berbahaya dan perlu dihindari.

    Bahkan, untuk jenis pesawat yang teknologinya lebih canggih lagi biasanya juga dilengkapi dengan radar yang dapat menunjukkan daerah-daerah mana saja yang sedang mengalami turbulensi. Pilot diharapkan menghindari penerbangan di dekat area badai petir dan awan cumulonimbus yang bisa menyebabkan Turbulensi Thunderstorm ini.

  2. Mountain wave turbulence

    Apa itu Mountain Wave Turbulence?

    Turbulensi Mountain Wave adalah turbulensi yang disebabkan karena adanya aliran udara (angin) yang kencang di sekitar pegunungan.

    Turbulensi Mountain Wave ini dapat berkekuatan kecil maupun besar. Aliran udara yang cukup kencang di daerah sekitar pegunungan dapat membentuk osilasi gelombang udara yang mampu mendorong pesawat ke atas dan ke bawah.

    Jenis turbulensi ini sering kali tidak memiliki indikator visual yang jelas, sehingga membuatnya sulit dideteksi terlebih dahulu oleh pilot.

    Namun, para ahli penerbangan mengungkapkan bahwa jenis turbulensi Mountain Wave ini cukup jarang terjadi, karena tidak semua daerah pegunungan memiliki potensi untuk mengalami jenis turbulensi ini.

    Beberapa area pegunungan yang biasanya sering mengalami turbulensi Mountain Wave adalah pegunungan Rocky di Amerika Utara, rangkaian pegunungan Sierra Nevada dan pegunungan Wasatch di Amerika Serikat.

  3. Wake Vortex turbulence

    Saat sebuah objek, katakanlah pesawat, bergerak di udara, maka objek tersebut sesungguhnya “mengganggu” keadaan udara dan dapat menghasilkan suatu pusaran, turbulensi yang seperti itu biasanya disebut wake turbulence.

    Jadi, turbulensi jenis ini disebabkan oleh pergerakan pesawat itu sendiri, serta dapat memengaruhi pesawat lain yang bergerak di dekatnya. Oleh karena itu, antar pesawat harus terdapat jarak tertentu yang tidak saling memengaruhi satu sama lain, pemisahan itu juga diterapkan di landasan pesawat di bandara.

  4. Clear air turbulence (CAT)

    Apa itu Clear Air Turbulence (CAT)?

    Turbulensi CAT adalah jenis turbulensi yang biasanya datang secara mengejutkan dan tidak bisa diprediksi, baik itu oleh pilot, air controller, ataupun peramal cuaca. Oleh karena itu, pilot harus siap menghadapinya kapanpun turbulensi jenis ini menghampiri.

    Turbulensi CAT datang tanpa ada peringatan sebelumnya dan bahkan dapat terjadi saat udara cerah, tidak ada awan.

    Turbulensi jenis ini kerap terjadi pada ketinggian yang tinggi, yaitu antara 23.000-39.000 kaki dari permukaan laut, dan biasanya berlangsung selama beberapa menit.

    Terjadinya Turbulensi Clear Air (CAT) terkait oleh pergerakan udara yang bergerak dengan kecepatan tinggi yang bervariasi, di mana pergerakannya berubah secara drastis. Aliran angin yang berubah secara drastis itu dapat disebabkan oleh adanya badai.

    Pada dasarnya, saat ada aliran udara yang bergerak dengan kecepatan tinggi, maka akan ada perubahan kecepatan yang sangat bervariasi akibat adanya shear (perbedaan arah dan kecepatan angin). Nah, saat terjadi shear pada aliran udara berkecepatan tinggi itu, maka akan terjadilah turbulensi.

    Jadi, posisi yang paling berbahaya bagi pesawat untuk mengalami turbulensi bukanlah berada pada pusat aliran udara dengan kecepatan tinggi, melainkan saat pesawat berada di sisi aliran udara tersebut.

Apa yang sebaiknya dilakukan penumpang agar terhindar dari cedera akibat turbulensi?

Untuk memperkecil kemungkinan terjadinya cedera parah akibat turbulensi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan penumpang, yaitu:

  1. Kenakan sabuk pengaman dan kencangkan sabuk pengaman saat Anda duduk.

    Kenakan sabuk pengaman di area sekitar pinggang. Semua cedera saat turbulensi umumnya terjadi manakala seseorang tidak duduk dalam posisi yang benar dan tidak mengencangkan sabuk pengaman.

    Karena turbulensi dapat terjadi secara tiba-tiba, maka sebaiknya Anda patuhi semua perintah yang ada di pesawat, terutama perintah mengenakan dan mengencangkan sabuk pengaman.

    Saat Anda tidak duduk, misal ketika ingin ke kamar kecil atau saat ingin meregangkan otot, maka sebaiknya saat terjadi turbulensi Anda berpegangan erat pada sandaran kursi agar Anda tetap aman saat pergerakan pesawat tidak dapat diduga.

  2. Selalu perhatikan dan patuhi setiap instruksi yang diberikan oleh awak pesawat, terutama instruksi keselamatan.

    Jika Anda memiliki bawaan, pastikan bawaan Anda tersimpan di lemari atas atau diletakkan di bawah kursi, agar jika terjadi turbulensi tidak sampai melayang dan melukai seseorang, apalagi Anda sendiri.

  3. Jangan lupa untuk selalu membaca kartu atau lembar keselamatan yang disediakan oleh pihak maskapai, karena menurut suatu survey, sebanyak 65 persen penumpang pesawat tidak pernah sama sekali membaca informasi yang tertera di kartu atau lembar keselamatan.

    Kartu atau lembaran tersebut berisi informasi keselamatan yang penting untuk diketahui oleh penumpang kapanpun mereka terbang menggunakan pesawat.



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FOLLOW INFORMASITIPS

ARTIKEL PILIHAN

NEWSLETTER

Dapatkan Informasi dan Tips terbaru langsung ke Email Anda. Masukkan alamat Email Anda di bawah ini, kemudian klik langganan: