Informasi dan Tips – informasitips.com

Intervensi Dapat Mendiagnosa Autis Sejak Dini

Intervensi diagnosa dini autismeAnak autis biasanya terdeteksi pada umur 2 hingga 3 tahun. Tetapi penemuan baru menemukan gejala kelainan spectrum pada bayi yang berumur satu tahun. Jika anak dapat didiagnosa lebih dini, sangat mungkin untuk membantu mereka, dan bahkan menghilangkan dampak autis yang lebih parah, hal itu diungkapkan pada laporan yang baru diterbitkan padaCurrent Directions in Psychological Science, a sebuah journal Asosiasi untuk Ilmu Psikologi.

“Di lapangan, ini adalah hal menarik,” ungkap Brooke Ingersoll dari Michigan State University. “Kami sedang memulai untuk mendapatkan gambar bagaimana gejala autis pada tahun pertama.” Karena seorang autis biasanya tidak terdiagnosa hingga seorang balita terlihat lambat dalam berbicara dan gejala lain yang sering muncul setelah umur dua tahun, sangat sulit untuk mengenali balita umur satu tahun. Sampai saat ini, para ahli psikologi hanya mampu mempelajari perilaku anak pada bayi dan balita dengan menanyai orang tuanya, dan kadang-kadang dari cara ia melihat film.

Tetapi hasil studi sekarang yang melibatkan anak berumur 6 bulan hingga 3 tahun, saat diagnosa normal, dapat ditentukan. Beberapa anak kemudian menjadi autis dan yang lainnya tidak. “Kelompok anak-anak yang akhirnya berkembang menjadi autis ada kelainan pada spektrumnya yang berbeda dengan perkembangan anak secara umum,” kata Ingersoll. Pada umur 12 bulan, anak-anak yang nantinya menjadi autis kurang menunjukan “perilaku memperhatikan” – memperhatikan pada mainan dan orang lain, misalnya. Mereka juga jarang meniru. Pada kasus ini, sulit untuk menggunakan informasi ini untuk mendiagnosa individu anak pada umur sedini mungkin; ada spektrum yang besar pada perilaku normal yang perbedaanya hanya muncul ketika para peneliti membandingkan banyak anak. Tetapi para ahli sekarang mampu untuk mendiagosa kelainan pada umur 18 hingga 24 bulan – lebih dini dari gejala autis yang didiagnosa.

Jika seorang anak memiliki masalah dengan lingkungan sosial, hal itu mungkin menjelaskan beberapa gejala yang nantinya menjadi autis – jika mereka tidak meniru, misalnya, hal itu dapat membantu menjelaskan kenapa seorang anak mengalami kesulitan dalam bicara, ujar Ingersoll. “Jika ada gangguan pada mekanisme yang terkait dalam pembelajaran sosial, anak-anak memiliki kesempatan yang lebih sedikit untuk mempelajari lingkungannya,” ujarnya.

Pembelajaran sosial sangat penting, beberapa ahli psikologi mencoba untuk mengembangkan cara untuk meneliti balita yang menunjukkan gejala autis. Contohnya, beberapa intervensi telah dikembangkan untuk mengajari perhatian anak dan perilaku imitasi pada balita dengan ASD. Pada salah satu intervensi, pelatihan imitasi resiprokal, seorang ahli terapi bermain dengan anak dengan menirukan apa yang ia lakukan, kemudian meminta anak tersebut untuk menirukannya. “Kami mencoba untuk mengajari mereka, menirukan perilaku orang lain adalah perilaku sosial yang penting,” ungkap Ingersoll. Teknik ini juga diajarkan kepada orang tua untuk melakukannya di rumah untuk memperluas kesempatan belajar.

Hasil awal cukup memuaskan, walaupun studi tentang intervensi ini tidak akan selesai dalam beberapa tahun saja. “Kami rasa banyak harapan jika kita telah mengenali perilaku sejak dini, dan cukup melakukan intervensi cukup dini pula, kita mungkin bisa mencegah anak menjadi autis.”



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FOLLOW INFORMASITIPS

ARTIKEL PILIHAN

NEWSLETTER

Dapatkan Informasi dan Tips terbaru langsung ke Email Anda. Masukkan alamat Email Anda di bawah ini, kemudian klik langganan: