Informasi dan Tips – informasitips.com

Hipertensi (Darah Tinggi), Si “Silent Killer” yang Perlu Diwaspadai

informasitips.com – Hipertensi atau darah tinggi merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal. Secara umum, seseorang dikatakan menderita hipertensi bila tekanan darah sistolik/diastoliknya melebihi 140/90 mmHg. Bila sudah terkena penyakit jantung, diabetes dan ginjal, batasan tekanan darah normalnya menjadi lebih rendah lagi yaitu 130/80 mmHg, karena penyakit-penyakit tersebut sudah merusak pembuluh darah. Sistolik adalah tekanan darah pada saat jantung memompa darah ke dalam pembuluh nadi (saat jantung mengkerut). Diastolik adalah tekanan darah pada saat jantung mengembang dan menyedot darah kembali.

Hipertensi termasuk salah satu penyakit berbahaya yang perlu diwaspadai. Penyakit ini dikenal dengan sebutan “Silent Killer” karena diam-diam bisa mengakibatkan kematian. Penyakit ini dapat meningkatkan resiko timbulnya berbagai penyakit lain seperti penyakit jantung, stroke, kerusakan otak, ginjal, diabetes, yang kesemuanya itu bisa memperbesar resiko kematian. Hipertensi dapat mengurangi angka harapan hidup penderitanya. Misalnya jika ia seharusnya berumur sampai 70 tahun, dengan adanya hipertensi orang tersebut akan meninggal lebih cepat yaitu di umur 60 tahun.

Layaknya penyakit jantung dan diabetes, hipertensi juga dapat diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Jika salah satu orang tua terkena hipertensi, maka resiko si anak untuk menderita hipertensi juga akan lebih besar dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki orang tua penderita hipertensi. Namun, resiko tersebut bisa diperkecil bila si anak terus menerapkan pola hidup sehat.

Jenis Hipertensi
Ada dua tipe jenis/klasifikasi hipertensi:

  1. Hipertensi Esensial/Primer
    Merupakan suatu kondisi dimana terjadinya peningkatan darah tinggi tetapi tidak diketahui penyebabnya. Namun, sebagian besar berpendapat jika hipertensi jenis ini terjadi sebagai dampak dari gaya hidup yang buruk.
    Selain itu, banyak juga faktor lainnya yang diduga turut berperan sebagai penyebab Hipertensi Primer, seperti bertambahnya umur, stress, psikologis, kegemukan (obesitas), dan hereditas (faktor keturunan).

  2. Hipertensi Sekunderhipertensi

    Merupakan suatu kondisi dimana terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi sebagai akibat seseorang mengalami/menderita penyakit lainnya seperti gagal jantung, gagal ginjal, atau kerusakan sistem hormon tubuh.
    Biasanya penyakit hipertensi jenis ini dialami oleh mereka yang berusia sekitar 30-40 tahun. Namun, belakangan ini kerap terjadi kasus hipertensi pada anak muda akibat pola hidup yang buruk seperti merokok atau memakan segala jenis makanan (tidak mengonsumsi makanan yang sehat), serta kurangnya kesadaran untuk berolahraga.

Sekitar 90% penderita hipertensi tergolong jenis Hipertensi Primer, sementara 10%-nya tergolong Hipertensi Sekunder.

Tanda (Gejala) Hipertensi
Beberapa tanda umum hipertensi yang perlu diwaspadai adalah:
– Pusing
– Sakit kepala
– Tengkuk terasa pegal
– Jantung berdebar
– Mimisan
– Penglihatan kabur
– Darah dalam urin (hematuria)

Pencegahan Hipertensi
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kemungkinan seseorang terkena hipertensi akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia, yaitu 10% pada usia antara 20-30 tahunan, dan 50% pada usia 50 tahunan ke atas. Oleh karena itu, deteksi dini dan berbagai tindakan pencegahan hipertensi sangat perlu dilakukan. Kesadaran untuk menjaga pola hidup sehat dan melakukan kontrol rutin tekanan darah dapat membantu menekan resiko hipertensi sampai 50%.

Hipertensi dapat dicegah dengan pengaturan pola makan yang baik dan aktivitas fisik yang cukup. Hindari stress, cukup istirahat dan rajinlah berolahraga karena olahraga dapat melancarkan peredaran darah sehingga mampu menurunkan tekanan darah. Perbanyak pula konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan yang memiliki peranan penting dalam mencegah hipertensi.

Di samping itu, hindari pula kebiasaan buruk lainnya seperti merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol. Minuman beralkohol dapat meningkatkan kadar trigliserida dalam darah. Trigliserida merupakan kolesterol jahat yang berpotensi meningkatkan tekanan darah.

Batasi konsumsi kafein seperti kopi, teh, tidak lebih dari 5 cangkir teh atau kopi per harinya. Kurangi konsumsi makanan berlemak terutama lemak jenuh. Kurangi pula jumlah konsumsi garam per harinya agar tidak terlalu banyak. Rekomendasi dari WHO, konsumsi asupan sodium per harinya sebaiknya tidak lebih dari 5-6 gram garam. Jumlah ini setara dengan takaran satu – satu setengah sendok teh per harinya. Pilah-pilihlah makanan yang akan Anda konsumsi. Hindari mengonsumsi makanan junk food yang memiliki kadar garam tinggi.

(Baca juga: 8 Cara Menurunkan Tekanan Darah Tinggi)

Penanganan dan Pengobatan Hipertensi
Secara garis besar, ada dua metode pengobatan hipertensi, yaitu tanpa obat-obatan (non farmakologis) dan dengan obat-obatan (farmakologis).

1. Penanganan hipertensi secara non farmakologis
Pada beberapa kasus, penanganan tanpa obat-obatan (non farmakologis) dapat mengontrol tekanan darah penderita sehingga penanganan secara farmakologis (dengan obat) menjadi tidak diperlukan atau setidaknya ditunda. Namun, untuk beberapa kondisi lain dimana penanganan dengan obat-obatan benar-benar diperlukan, penanganan hipertensi secara non farmakologis berfungsi sebagai pelengkap metode penanganan farmakologis agar didapat hasil yang lebih baik lagi.

Penanganan hipertensi secara non farmakologis diantaranya adalah:

  • Mengurangi asupan garam
    Cara ini merupakan metode umum untuk menurunkan tekanan darah. Penderita benar-benar harus memperhatikan kebiasaan makan. Cara pengobatan ini sebaiknya tidak dipakai sebagai pengobatan tunggal, tetapi lebih baik dipakai sebagai pelengkap pengobatan farmakologis.

  • Menciptakan kondisi rileks
    Berbagai cara relaksasi seperti yoga dan meditasi dapat mengontrol sistem saraf yang pada akhirnya membuat penderita menjadi lebih tenang dan tidak stres. Menjaga agar penderita tidak stres sangatlah penting karena kondisi stres justru dapat meningkatkan tekanan darah.

  • Berolahraga
    Melakukan olahraga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali seminggu juga dapat membantu mengontrol tekanan darah.

2. Penanganan dengan obat-obatan (Penanganan Farmakologis)
Untuk pengobatan hipertensi secara farmakologis (dengan obat-obatab), bisa dilakukan dengan cara mengonsumsi obat-obatan kimia maupun obat herbal (alami).

  • Pengobatan dengan Obat-obatan kimia
    Untuk pengobatan hipertensi dengan obat-obatan kimia tentunya harus dilakukan dengan adanya pengawasan dari dokter. Ada beberapa jenis obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah, yaitu yang bersifat:

    1. Diuretik
      Obat-obatan jenis ini bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh lewat kencing sehingga volume cairan di tubuh berkurang yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih ringan. Contoh obatnya adalah Hidroklorotiazid.

    2. Vasodilator
      Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos (otot pembuluh darah). Yang termasuk dalam golongan obat ini adalah Prasosin, Hidralasin. Efek samping yang mungkin terjadi adalah sakit kepala dan pusing.

    3. Betabloker
      Mekanisme kerja obat ini melalui penurunan daya pompa jantung. Jenis obat betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap gangguan pernapasan seperti asma bronkial. Contoh obat yang bersifat betabloker adalah Metoprolol, Propranolol, dan Atenolol.


  • Pengobatan hipertensi dengan Obat Herbal (Alami)
    Beberapa bahan alami (herbal) diyakini memiliki kemampuan untuk menurunkan tekanan darah, diantaranya adalah:

    1. Kentang, kaya akan kalium yang dapat menurunkan tekanan darah
    2. Beras merah, rendah kolesterol, kalori dan garam, dan juga kaya akan kalsium yang efektif menenangkan sistem saraf dan meringankan gejala tekanan darah tinggi.
    3. Kemangi, banyak mengandung magnesium yang dapat membantu merilekskan jantung dan pembuluh darah.
    4. Bawang putih, dapat melancarkan peredaran darah karena kemampuannya dalam mencairkan sel-sel darah yang pekat.
    5. Minyak ikan, kaya akan DHA (docohexaenoic acid) yang dapat menurunkan tekanan darah.
    6. Seledri, mengandung phthalides yang mampu menurunkan tekanan darah 12-14 %. Seledri juga mengandung flavonoid yaitu apigenin yang berperan sebagai agen anti peradangan dan membantu menurunkan hormon stres di dalam darah. Hal ini pada akhirnya akan mengendurkan arteri dan menurunkan tekanan darah.
    7. Daun sirsak, kaya akan antioksidan yang memiliki manfaat melenturkan dan melebarkan pembuluh darah serta menurunkan tekanan darah.

—–

Baca juga:

Hipertensi Saat Hamil

Penyakit Hipertensi (Darah Tinggi)



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *