Informasi dan Tips – informasitips.com

Fenomena Bully di Social Media

informasitips.com – Manusia yang merupakan makhluk sosial, perlu bergaul dan berinteraksi dengan lingkungan. Tidak jarang dalam aspek sosialisasi tersebut timbul banyak perbedaan yang seringkali memicu munculnya diskriminasi atau bahkan konflik antar sesama. Tentu saja kejadian ini sering kita jumpai dalam berbagai aspek kehidupan di masyarakat, baik itu di lingkungan pendidikan, dunia kerja atau kehidupan bermasyarakat yang lebih luas lagi. Konflik yang di dalamnya mengandung unsur kekerasan atau pelecehan baik secara fisik maupun psikis, biasanya disebut dengan bullying.

Ada banyak sekali bentuk perilaku bullying yang dilakukan. Secara fisik biasanya dengan cara memukul, menampar, mendorong atau menendang. Secara verbal misalnya dengan memberikan panggilan yang bersifat mengejek, memarahi, menghina atau mencela. Secara mental, misalnya melakukan pengancaman atau intimidasi dan secara sosial yakni mengucilkan. Sungguh ironis memang, manusia yang seharusnya bisa bersosialisasi dengan baik justru memiliki sikap yang jauh dari sebutan sebagai makhluk yang berakal dan beradab.

fenomena bully di social media

Aksi bullying tidak terlepas dari karakter pribadi pelaku. Berdasarkan penelitian, pelaku bullying memiliki kepribadian otoriter, ingin dipatuhi, ingin mengontrol dan menguasai orang lain, sulit melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, kurang memiliki rasa empati, berperilaku impulsif, agresif dan intimidatif.

Lalu, apa yang menjadi alasan seseorang melakukan bullying?
Hal ini didasari dari timbulnya rasa benci, iri, atau dendam. Selain itu, ada juga untuk menyembunyikan rasa malu atau mendorong rasa percaya diri dalam dirinya dengan menganggap bahwa orang lain tidak ada artinya. Untuk itu, dia akan mencari sasaran aksi bullying dengan cara mencari kelemahan atau sesuatu yang berbeda dalam diri target, misalnya latar belakang sosialnya, fisiknya, budayanya, agamanya atau intelektualnya.

Dampak yang terjadi pada korban bullying sangat berbahaya. Hasil studi yang dimuat dalam jurnal Psychologycal Science mengungkapkan bahwa anak yang menjadi korban bullying akan mengalami hambatan dalam perkembangan mentalnya, tidak percaya diri, takut bersosialisasi, traumatis, hingga depresi. Semua masalah itu bahkan dapat berlanjut hingga dewasa. Tidak hanya itu, dalam jangka panjang korban bullying dapat menderita masalah emosional dan perilaku, menimbulkan perasaan tidak aman, terisolasi, rendah diri, stress, bahkan bisa berakhir dengan bunuh diri.

Pesatnya perkembangan teknologi saat ini membuat aksi bullying tidak hanya dilakukan di dunia nyata saja, namun juga di dunia maya. Bully yang seperti ini bisa disebut juga dengan Cyber bully. Contoh cyber bully yang paling marak saat ini bully lewat sosial media. Kejahatan yang terjadi dalam konteks social media ini pada awalnya memang terbatas pada bullying secara verbal seperti perang kata-kata, mengirim pesan berupa hinaan atau ancaman, menyebarkan gosip, membuat akun palsu target dan melakukan aktivitas seperti update status, mengirim pesan atau komentar yang merusak nama baik target, mengunggah informasi pribadi target tanpa ijin dan masih banyak lagi aksi lainnya. Namun, ternyata hal ini bisa berujung pada kriminalitas, seperti percobaan pembunuhan, bahkan tidak sedikit korban bullying lewat social media berakhir bunuh diri.

Ada banyak sekali kasus bullying lewat social media yang pada akhirnya membuat korban mengambil keputusan untuk melakukan bunuh diri karena tidak tahan dengan tekanan yang dialaminya di media online. Kasus bunuh diri karena bullying lewat social media sudah banyak terjadi. Salah satu contohnya yang terjadi di Indonesia adalah kasus Yoga Cahyadi, seorang promotor musik Effort Creative Yogyakarta yang bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke kereta api Sri Tanjung Yogyakarta. Ketua event organizer acara ini melakukan tindakan nekat tersebut karena tekanan dan hujatan akibat gagalnya acara musik Lockstock Fest2 yang diselenggarakan di stadion Maguwoharjo 25-26 Mei 2013.

Pada awalnya akan ada 120 band yang akan tampil dalam acara ini. Namun, rupanya hanya ada sekitar 60 band. Beberapa band yang tidak hadir mengutarakan alasan mereka batal tampil lewat social media. Hal ini umumnya terkait karena masalah pembayaran yang belum jelas. Dari 10 band nasional, hanya ada 1 band yang bersedia naik ke panggung. Tidak hanya itu, tiket yang diharapkan bisa terjual 5000 buah per harinya, ternyata hanya terjual 1000 tiket. Dengan begitu, Yoga dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas gagalnya acara ini. Sebelum kematiannya, Yoga sempat menuliskan “Trimakasih atas sgala caci maki @locstockfest2..ini gerakan..gerakan menuju Tuhan…salam”, di twitternya.

Kisah miris ini menjadi sebuah pelajaran penting bagi siapa pun. Perilaku bullying yang dilakukan baik di dunia nyata maupun dunia maya (online) rupanya sama menyakitkannya bagi korban. Penghinaan secara terus menerus, menyalahkan, merendahkan, dan intimidasi yang membuat hilangnya kepercayaan diri seseorang memiliki dampak yang sangat buruk dan berbahaya.

Fenomena bully di media online

Kasus di atas hanyalah salah satu contoh aksi bully yang terjadi di Indonesia. Masih banyak kasus lainnya yang terjadi tak hanya di negara kita, tapi juga marak terjadi di luar negeri. Melihat begitu berbahayanya dampak yang bisa ditimbulkan dari bully, sudah sepatutnya kita sebagai makhluk berakal dan beradab untuk tidak melakukan hal-hal yang buruk seperti itu.

Untuk mengindarinya, diperlukan tindakan tegas agar pelaku bully menghentikan tindakannya. Berikut beberapa tips untuk menghindar dari tindakan bullying di social media:

  • Tidak perlu merespon komentar yang bersifat intimidatif, cacian, hinaan, ejekan atau celaan. Biasanya apabila target menunjukkan reaksi tersebut, maka pelaku akan merasa puas dan ia akan melakukan aksinya kembali secara terus menerus.
  • Hindari membalas perilaku bullying. Ini tidak akan menyelesaikan masalah, justru tanpa disadari akan membuat target menjadi pem-bully yang baru. Dengan begitu, rantai bullying akan terus berlangsung dan melahirkan para pem-bully baru.
  • Simpanlah bukti bullying, baik itu berupa foto, pesan atau komentar-komentar sebagai bukti yang nantinya bisa ditunjukkan kepada pihak yang berwenang, seperti polisi, guru atau orangtua.
  • Jika perilaku bullying di social media terus berulang, maka segera laporkan pada pengelola social media terkait. Apabila terbukti bersalah, maka akun pelaku bisa mereka hapus.
  • Untuk membantu mengatasi aksi bully, cobalah untuk menceritakan kepada orangtua, guru atau pihak yang bisa memberikan dukungan mental atau memberikan solusi dalam menyelesaikan permasalahan ini.
  • Hindari mengunggah gambar atau foto dengan pose yang dapat menarik perhatian yang bisa menimbulkan terjadinya kejahatan seksual.
  • Selektiflah dalam memposting tulisan atau mengupload foto di social media.
  • Disarankan tidak menulis secara detail profil pada social media, seperti alamat rumah, nomor ponsel dan hal pribadi lainnya yang sekiranya tidak benar-benar diperlukan untuk diposting.
  • Tidak sembarangan menerima pertemanan.
  • Untuk keamanan, sebaiknya selalu log out setiap keluar dari situs atau surel pribadi yang sudah digunakan.

Beberapa tips di atas bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya tindakan aksi bullying lewat social media. Hendaknya kita perlu berhati-hati karena tidak menutup kemungkinan di dunia maya kita bisa saja bertemu dengan orang-orang tidak bertanggung jawab yang memiliki niat tidak baik dengan menggunakan data-data pribadi kita.

Apabila terlanjur sudah menjadi korban bullying, maka gunakanlah akal sehat kita dalam berpikir. Hidup ini terlalu berharga untuk terus diratapi dalam kesedihan. Tak perlu terus-menerus larut dalam komentar-komentar negatif yang mengarah ke kita, baik itu berupa hinaan, ejekan, celaan atau bahkan cacian yang sangat menyakitkan. Kuat dan bangkitlah. Masih banyak hal lain yang lebih baik dan mungkin akan sangat bermanfaat untuk dilakukan daripada terus berlarut-larut dalam keterpurukan. Jangan pernah berpikir untuk mengambil jalan pintas seperti bunuh diri, karena tidak tahan dengan tekanan yang ada. Carilah tempat atau seseorang yang dapat membantu untuk berbagi segala beban dan perasaan.

Untuk para orang tua, mengingat begitu maraknya kasus bully terjadi pada anak-anak sekolah (pelajar) dan remaja, maka orang tua harus bisa lebih sensitif mengamati segala perkembangan dan perubahan yang terjadi pada anak. Bentuklah kedekatan yang kuat dengan anak agar anak mau untuk lebih terbuka menceritakan segala permasalahan dan kesedihannya. Jangan biarkan korban bully “merasa sendirian“. Orang tua, keluarga, dan teman adalah orang-orang yang paling dibutuhkan oleh korban bully untuk tetap bisa kuat dan bertahan. Carilah solusi untuk menghentikan tindakan bullying yang sedang terjadi, dan bila perlu laporkan segala tindakan bullying yang terjadi kepada pihak yang berwenang.



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

One thought on “Fenomena Bully di Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *