Informasi dan Tips – informasitips.com

Bayi Telah Mengenal Rasa Adil dan Altruisme Sejak Umur 15 Bulan

Bayi altruisme sejak 15 bulanStudi baru menunjukkan kejadian pertama bahwa indra dasar untuk rasa adi dan altruisme, atau rasa mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri, muncul sejak bayi dalam kandungan. Bayi yang berumur 15 bulan menerima perbedaan antara adil dan tidak adil dalam penditribusian makanan, dan kesadaran pada rasio seimbang yang dihubungkan keinginan mereka untuk berbagi mainan.

“Penemuan kami menunjukkan bahwa norma-norma keadilan dan altruisme berkembang lebih cepat dari yang kita pikirkan,” ucap Jessica Sommerville, professor bidang psikologi di Universitas Washington.

Hasil riset kami juga juga menunjukkan hubungan antara keadilan dan altruisme pada janin, seperti bayi-bayi yang lebih sensitif pada pembagian distribusi makanan secara adil cenderung mau berbagi mainan yang mereka sukai.

Studi ini memiliki implikasi untuk mendidik nilai egaliter dan kerjasama dalam diri manusia. Jurnal PLoS ONE menerbitkan penemuan secara online adapa tanggal 7 Oktober lalu. Penulisnya adalah Marco Schmidt, mahasiswa doktoral di the Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology.

Studi sebelumnya memaparkan bahwa anak berumur dua tahun sudah mampu menolong orang lain – berdasarkan ukuran altruisme – dan pada umur sekitar 6 hingga 7 tahun, mereka mampu menujukkan nilai keadilan. Sommerville, seorang ahli dalam perkembangan anak, menduga bahwa kualitas ini bisa muncul bahkan pada usia lebih dini.

Bayi yang berumur sekitar 15 bulan mulai menunjukkan perilaku kooperatif, seperti secara spontan membatu orang lain. “Kami menduga bahwa keadilan dan altruism juga muncul, yang dapat mengindikasi awal munculnya nilai keadilan,” ujar Sommerville.

Selama percobaan, seorang bayi berumur 15 bulan duduk pada pangkuan orang taunya melihat video pendek berisi eksperimen tentang berbagi. Pada video pertama seorang penguji memegang mangkok yang berisi crackers yang didistribusikan makanan diantara penguji lain. Mereka melakukan alokasi makanan sebanyak dua kali. Yang pertama yaitu keduanya mendapatkan jumlah crackers yang sama dan yang berikutnya salah satu menerima lebih banyak.

Film kedua menampilkan plot yang sama, tetapi para penguji menggunakan sebotol susu untuk mengganti crackersnya.

Kemudian para penguji mengukur – 47 dari semua, melihat pembagian makanan. Berdasarkan fenomena yang disebut ‘pelanggaran dari yang diharapkan,’ para bayi lebih memperhatikan ketika terkejut. Maksudnya, para peneliti menemukan bahwa bayi-bayi memerhatikan lebih lama jika salah satu orang menerima lebih dari yang lain.

“Para bayi mengharapkan pembagian makanan yang lebih adil, dan mereka terkejut melihat salah seorang diberi lebih banyak crackers atau susu dari yang lain,” Sommerville menjelaskan.

Untuk melihat rasa keadilan pada bayi yang berhubungan dengan keinginan mereka untuk berbagi, para peneliti melakukan percobaan kedua dimana bayi dapat memilih dua mainan; mainan LEGO yang sederana atau lego yang lebih rumit. Apapun yang bayi itu pilih, para peneliti melabeli mainan yang lebih disukai.

Kemudian seorang penguji yang tidak pernah dilihat para bayi sebelumnya, mendekati ke arah mainan dan bertanya, “Bolehkah aku memintanya?” Sebagai jawabannya, sepertiga dari bayinya memberikan mainan yang mereka sukai dan sepertiga yang lain memberikan mainan yang kurang mereka sukai, yang kemungkinan takut berhapadan dengan orang asing atau memang tidak termotivasi untuk berbagi.

“Hasil dari eksperimen berbagi ini menunjukkan bahwa sejak awal kehidupan bayi telah menunjukan sifat altruism,” kata Sommerville.

Membandingkan hasil percobaan berbagi mainan dan pembagian makanan, para peneliti menemukan bahwa 92 persen bayi-bayi yang membagikan mainan yang mereka sukai—yang dinamai “altruistic sharers” atau yang lebih bersifat altruistik—menghabiskan waktu lebih banyak memperhatikan pada pembagian makanan yang tidak seimbang. Sebaliknya, 86 persen bayi yang membagikan mainan yang kurang mereka sukai, ‘selfish sharers’ atau lebih keras kepala, sangat mengejutkan, dan lebih memperhatikan ketika ada pembagian makanan yang adil.

“Para ‘altruistic sharers’ sangat sensitif pada keadilan pada sesi percobaan makanan,” kata Sommerville. Sementara itu, bayi yang ‘selfish sharers’ menunjukkan efek yang berkebalikan, ujarnya.



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FOLLOW INFORMASITIPS

ARTIKEL PILIHAN

NEWSLETTER

Dapatkan Informasi dan Tips terbaru langsung ke Email Anda. Masukkan alamat Email Anda di bawah ini, kemudian klik langganan: