Informasi dan Tips – informasitips.com

Bayi Sering Muntah (Penyebab dan Cara Mengatasinya)

Posted on by in , with 0 Comments

informasitips.com – Pada umumnya setiap bayi dan anak pasti pernah mengalami muntah yang terkadang membuat orang tua menjadi cemas. Muntah adalah pengeluaran isi lambung secara paksa melalui mulut akibat adanya kontraksi otot-otot perut yang kuat. Tapi sesungguhnya muntah adalah hal yang cukup normal dan tidak perlu dikhawatirkan bila terjadi selama satu hari lamanya.

Muntah menjadi hal yang mengkhawatirkan dan perlu diwaspadai apabila bayi/anak sering muntah (frekuensi muntah sering), muntah darah dan muntah yang terjadi berulang kali dalam jangka waktu lebih dari dua hari. Hal ini dikarenakan adanya bahaya dehidrasi yang dapat diderita bayi dan anak apabila tubuhnya secara terus menerus kekurangan cairan. Selain itu, muntah yang berlangsung lebih dari dua hari lamanya, bisa jadi pertanda adanya penyakit yang serius.

Beberapa kemungkinan penyebab bayi dan anak muntah:

  • Virus (biasanya terjadi pada kasus dimana bayi atau anak muntah secara tiba-tiba)
  • Adanya gangguan pada sistem pencernaan
  • Alergi terhadap suatu jenis makanan tertentu
  • Terlalu banyak udara di lambung
  • Mengenal suatu jenis tekstur dan rasa makanan yang baru dikenal
  • Keracunan makanan
  • Luka di bagian kepala
  • Mabuk kendaraan (misalnya ketika melakukan perjalanan jauh dengan kendaraan)
  • Pilek dan batuk



Cara mengatasi bayi dan anak yang muntah:

  • Usahakan untuk tetap tenang dan tidak panik.
  • Ketika berada di tempat tidur, posisikan tubuh anak dalam keadaan miring ke sebelah kiri atau kanannya. Hal ini untuk mencegah bayi dan anak tersedak muntahnya atau isi perut yang dikeluarkan oleh mulut masuk ke saluran pernapasannya, terutama paru-parunya.
  • Bila bayi dan anak muntah dalam kondisi duduk atau berdiri segera tundukkan kepalanya dan biarkan ia menuntaskan muntahnya. Jangan lupa untuk membersihkan mulut anak dan bagian tubuh lain yang terkena muntah dengan handuk kecil yang lembab.
  • Setiap kali anak selesai muntah, bantu ia berkumur dengan air putih yang berfungsi untuk membersihkan mulut dan menghilangkan rasa asam di mulutnya. Sementara pada anak bayi yang masih belum bisa berkumur, orang tua bisa memberikan beberapa sendok air putih ke bayi untuk diminum.
  • Pada umumnya muntah tidak menular, terkecuali muntah yang disebabkan oleh virus. Muntah yang disebabkan oleh virus dapat menular atau berpindah melalui kontak tangan dan kontak benda dengan penderita. Misalnya saja bayi atau anak lain menggunakan benda yang sama digunakan oleh penderita.

    Agar hal ini tidak terjadi, untuk sementara sebaiknya sampai si kecil sembuh pisahkan ia dari anak-anak lainnya. Terutama mereka yang berusia dibawah usia 2 tahun karena masih sangat rentan dan mudah tertular. Jangan lupa juga untuk tidak berbagi mainan dengan anak lain ketika si kecil masih sakit dan sebaiknya tidak lupa untuk selalu mencuci mainan anak terutama mainan yang biasa digigit atau dimasukkan ke dalam mulutnya.

  • Bayi dan anak yang mengalami muntah harus mendapatkan banyak istirahat.
    Bayi muntah, penyebab, solusinya

  • Untuk menggantikan cairan yang telah hilang dan mencegah bayi dan anak mengalami kekurangan cairan (dehidrasi), pastikan mereka mendapatkan jumlah cairan yang cukup. Pemberian cairan seperti air dan kaldu atau sup bening sebaiknya dilakukan sedikit demi sedikit tetapi sering agar perut bayi dan anak dapat mentolerir jumlah cairan yang masuk. Tingkatkan jumlah cairan untuk bayi dan anak apabila keadaannya mulai membaik dan frekuensi muntah semakin berkurang.
  • Makanan dengan kuah bersantan, minuman mengandung soda, dan jus buah yang memiliki rasa asam tidak disarankan untuk diberikan karena dapat memicu rasa mual dan muntah bayi dan anak.
  • Bila bayi masih menyusui, berikan ASI (Air Susu Ibu). Sementara untuk penderita yang masih bayi dan mengkonsumsi susu formula biasanya dokter menyarankan untuk memberikan susu formula yang agak encer atau memberikan oralit.
  • Untuk sementara hindari memberikan bayi dan anak makanan yang memiliki tekstur agak keras atau sulit dicerna seperti nasi. Sebaiknya berikan makanan yang tidak harus dikunyah dan yang memiliki tekstur lunak seperti bubur dan agar-agar.
  • Sebaiknya tidak memberikan obat muntah secara sembarang atau tanpa resep dari dokter.
  • Bila bayi muntah setelah makan suatu jenis makanan tertentu atau makanan dengan tesktur dan rasa yang baru saja dikenalnya, sebaiknya hentikan pemberian makanan tersebut dahulu. Periksakan ke dokter anak untuk mengetahui lebih pasti mengenai adanya kemungkinan bayi menderita alergi makanan tersebut atau tidak.
  • Bila muntah terjadi lebih dari dua hari, bawa segera anak ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Biasanya dokter akan memberikan obat untuk mengurangi frekuensi muntah dan mencari tahu penyebab muntahnya.
  • Pada muntah yang terjadi karena bayi atau anak keracunan makanan, muntahnya ini sebenarnya adalah upaya pengeluaran racun yang terdapat di lambungnya. Selain muntah, penderita terkadang juga mengalami diare dan bercak/bentol merah yang gatal di seluruh tubuh.

    Perlu pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter anak untuk mengatasi muntah dan mencari penyebab muntah, diare dan bercak gatal di seluruh tubuh bayi dan anak. Selain mencari penyebabnya, dokter biasanya memberikan obat yang dapat diminum untuk mengurangi frekuensi muntah, anti alergi dan salep untuk mengobati bercak/bentol merah yang gatal.

  • Muntah bisa juga terjadi pada kasus bayi dan anak yang menderita alergi suatu jenis makanan tertentu atau susu formula. Ada baiknya bagi orang tua untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter anak sebelum memberikan susu formula ke bayi.
  • Muntah karena batuk pada umumnya juga terjadi ketika bayi dan anak juga menderita pilek. Refleks muntah dapat timbul ketika anak batuk dengan hebatnya dan karena rasa mual yang disebabkan banyaknya dahak yang tertelan ke dalam lambung. Terkadang dahak atau lendir yang berada di dalam lambung bayi dan anak ikut keluar bersama muntahnya.
  • Untuk mengatasi anak mengalami mabuk kendaraan Anda bisa memberikan permen segar dengan rasa jeruk atau mentol yang dapat menghilangkan rasa mual anak. Pastikan perut anak sudah terisi (tidak dalam keadaan kosong) sebelum memulai perjalanan jauh dan sebaiknya selalu sedia makanan ringan menyehatkan saat bepergian jauh untuk si kecil. Bila perlu sesekali biarkan udara segar mengalir ke dalam mobil dengan cara membuka sedikit kaca jendela mobil.


Gumoh pada bayi terkadang diartikan muntah oleh sebagian ibu, terutama ibu muda atau wanita yang baru saja menjadi ibu. Sesungguhnya ada perbedaan antara gumoh dan muntah.

Gumoh pada bayi adalah hal yang wajar terjadi dan tidak berbahaya. Sementara muntah pada bayi yang terjadi dengan cara pengeluaran isi lambung secara paksa melalui mulut akibat kontraksi otot perut yang kuat, bisa jadi merupakan indikasi adanya gangguan kesehatan yang perlu ditangani dengan serius.

Gumoh bukan saja keluar dari mulut, tetapi juga terkadang karena gumohnya banyak bisa keluar lewat hidung bayi. Gumoh biasanya terjadi pada bayi yang berusia di bawah usia 6 bulan, cairan yang keluar dari mulut bayi dalam jumlah yang sedikit (kurang lebih satu sendok), tidak disertai diare, demam dan rewel.

Berikut beberapa kemungkinan penyebab terjadinya gumoh pada bayi:

  • Posisi menyusui yang kurang baik sehingga ASI yang seharusnya masuk ke dalam saluran pencernaan bayi justru masuk ke saluran pernapasan bayi.
  • Kurang pasnya ukuran dot botol susu bayi.
  • Lambung bayi terlalu penuh. ASI dan susu formula yang diminum melebihi kapasitas lambung bayi.
  • Saluran pencernaan bayi masih lemah dan belum berfungsi sempurna.
  • Bayi terlalu aktif atau bersemangat menghisap susu sehingga tersedak dan gumoh.
  • Orang tua bermain bersama bayi dengan mengangkat dan menaik-turunkan bayi berkali-kali.


Cara mengatasi dan mengurangi gumoh pada bayi :

  • Selalu bantu bayi mengeluarkan udara dari dalam lambungnya dengan cara menyendawakan bayi setelah setiap kali selesai minum ASI atau susu formula. Sebaiknya sendawakan bayi setelah selesai menyusu pada salah satu pay*d*ra ibu dan sebelum menyusu pada pay*d*ra lainnya.

    Hal ini bisa dilakukan dengan cara mendudukkan bayi dipangkuan Anda, lalu gunakan satu tangan untuk menyangga dadanya, sementara tangan lain mengusap sambil menepuk lembut daerah sekitar bahu dan punggung bayi.

    Cara lainnya adalah dengan menyandarkan kepala bayi pada salah satu bahu Anda. Gunakan satu tangan untuk menyangga bokong bayi, sementara tangan lain untuk mengusap dan menepuk lembut bahu dan punggung bayi.

  • Jangan tahan gumoh bayi, biarkan ia menuntaskan gumohnya.
  • Saat menyusui bayi sebaiknya posisi kepalanya lebih tinggi dari kakinya sehingga ASI atau susu formula yang diminumnya langsung turun ke bawah.
  • Lubang dot botol susu bayi sebaiknya tidak terlalu besar atau terlalu kecil. Bila lubang terlalu kecil dapat mengakibatkan bukan hanya saja susu yang masuk ke mulut bayi, melainkan udara juga turut tertelan saat bayi menghisap susu dari botol susunya. Hal ini tentu saja dapat menyebabkan perut bayi kembung.

    Sementara bila lubang dot terlalu besar maka aliran susu akan mengalir dengan cepat yang kemungkinan dapat membuat bayi tersedak dan gumoh.

  • Jika kondisi bayi dan anak terlihat melemah, pucat, sulit menerima asupan cairan apapun, muntah berulang kali tanpa henti, muntah karena kepalanya terbentur dengan keras, muntah disertai demam yang tinggi, muntah darah, muntah menyembur, perut terasa tegang atau keras, diare parah bercampur darah yang menyebabkan kondisinya semakin memburuk, sebaiknya jangan tunda lagi!

    Bayi dan anak Anda membutuhkan penangan yang cepat dan tepat. Periksakan segera ke dokter anak atau bawa bayi dan anak Anda ke Unit Gawat Darurat (UGD) di rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis yang lebih serius.

Semoga bermanfaat!

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

ARTIKEL TERBARU

NEWSLETTER

Mau berlangganan artikel Kami? Tulis Email Anda pada form di bawah ini.

Cek Email Anda setelahnya untuk mengaktifkan layanan newsletter. Terimakasih

OUR FRIEND