Informasi dan Tips – informasitips.com

Bayi Kuning atau Jaundice: Jangan cemas ya….

informasitips.comBayi kuning atau jaundice adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah tinggi dan terjadi pada minggu pertama kehidupan sang bayi. Kadar bilirubin dalam darah bersifat toksik bagi perkembangan sistem saraf pusat bayi, hal tersebut dapat mengakibatkan kerusakan saraf yang tidak bisa diperbaiki lagi. Oleh karena itu, kuning pada bayi butuh penanganan dokter dengan segera dan tepat.

Hampir 60% bayi yang baru lahir akan terlihat kuning pada minggu pertama setelah mereka lahir. Sekitar 5-10% dari mereka membutuhkan penanganan khusus karena kadar bilirubinnya yang secara signifikan tinggi, sehingga dibutuhkan fototerapi. Tetapi jangan khawatir, pada kebanyakan kasus, kondisi tersebut tidak berbahaya sehingga tidak dibutuhkan penanganan khusus.

  1. Jaundice Fisiologi.
    Jaundice atau kuning fisiologi disebabkan oleh ketidakmampuan bayi dalam menangani terjadinya peningkatan produksi bilirubin, karena fungsi-fungsi organnya yang belum sempurna. Bayi akan terlihat kuning pada kurun waktu 24-72 jam setelah lahir.

    Normalnya kadar bilirubin dalam darah pada bayi yang lahir cukup bulan akan mencapai puncaknya di level 6-8 mg/dL pada hari ketiga lalu akan turun di hari berikutnya. Sedangkan bayi dikatakan mengalami jaundice fisiologi jika peningkatan kadar bilirubin mencapai 12 mg /dL, dan tidak lebih dari 15 mg/dL. Setelah hari ke-14 bayi sudah tidak tampak kuning lagi.

    Dalam keadaan jaundice fisiologi sebenarnya tidak dibutuhkan perawatan, hanya saja peran sang ibu sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, ibu harus senantiasa menyusui bayinya. Bayi yang kuning harus disusui secara eksklusif, tanpa tambahan asupan yang lain, baik itu air ataupun dextrose.

    Pada dasarnya, jaundice fisiologi tidak berbahaya, pemberian ASI akan sangat membantu bayi dalam menangani tingginya kadar bilirubin dalam tubuhnya. Tetapi perlu diingat, jika kuningnya sudah menyebar sampai bagian kaki, maka bayi harus segera dibawa lagi ke rumah sakit, karena hal itu pertanda bahwa kadar bilirubin sudah semakin tinggi dan segera butuh penanganan tim medis.

  2. Jaundice Patologi.
    Pada keadaan ini kadar bilirubin sudah melebihi 17 mg/dL, sehingga harus segera diobservasi penyebabnya dan juga dibutuhkan penanganan khusus, seperti fototerapi. Jika bayi terlihat kuning dalam kurun waktu 24 jam, peningkatan kadar bilirubin melebihi batas normal (5 mg/dL/hari), dan bayi masih terlihat kuning bahkan setelah 3 minggu usia kelahirannya, maka hal tersebut sudah dikategorikan sebagai jaundice patologi.

    Tidak hanya itu, feses bayi yang seperti tanah liat dan urine-nya yang berwarna gelap sehingga pakaian bayi menjadi kuning adalah tanda lain dari jaundice patologi. Pada jaundice patologi juga akan didapati kadar bilirubin yang lebih dari 2 mg/dL ketika sampel darah diambil kapan saja / direct bilirubin (tidak ada interval waktu).

    Semua bayi yang mendapat perawatan fototerapi harus melalui serangkaian pengujian, seperti tes golongan darah dan Coombs’ test (uji deteksi antibodi dan protein komplemen pada penyakit hemolitik pada bayi yang baru lahir, untuk lebih lengkapnya lihat di Wikipedia); perhitungan darah komplit dan smear for hemolysis serta morfologi sel darah merah; perhitungan retikulosit dan estimasi enzim G6PD. Hal tersebut dilakukan guna mengetahui penyebab jaundice pada si kecil. Pengulangan pengukuran kadar bilirubin dalam darah, biasanya pada interval 24 jam, harus dilakukan selama bayi difototerapi.

  3. Hemolytic Jaundice.
    Ada beberapa tanda dari hemolytic jaundice atau kuning hemolitik, yaitu kuning muncul dalam waktu 24 jam, bayi tampak pucat, terjadinya hepato-splenomegali, meningkatnya jumlah retikulosit (>8%), peningkatan bilirubin yang cepat (>5 mg/dL dalam waktu 24 jam atau > 0,5 mg/dL/jam), serta adanya riwayat jaundice pada keluarganya. Hemolytic jaundice (kuning hemolitik) disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya seperti penyakit hemolitik rhesus (Rh), ABO inkompatibiliti, serta defisiensi enzim G6PD.

    Bayi yang lahir dari ibu dengan Rh-negatif dan ayah Rh-positif harus dilakukan identifikasi Rh dan uji Direct Coombs’. Begitu juga dengan bayi yang lahir dari ibu dengan golongan darah O dan Rh-positif harus terus dimonitor dan dilakukan serangkaian pengujian, seperti test golongan darah dan uji direct antibody.

    Hemolitik jaundice akibat ABO inkompatibiliti biasanya muncul dalam waktu 24 jam pertama (ciri yang sama dengan jaundice patologi). Penanganan hemolitik jaundice akibat defisiensi G6PD serupa dengan hemolitik jaundice akibat ABO inkompatibiliti. Pemeriksaan defisiensi G6PD harus ditegakkan pada bayi yang diberikan terapi cahaya (fototerapi), baik itu pada bayi yang lahirnya cukup waktu (full-term) ataupun yang hampir cukup waktu (near-term).

  4. Menyusui dan jaundice.
    Jaundice (kuning) pun bisa terjadi pada bayi yang disusui oleh ibunya. Jaundice ini biasanya muncul antara 24-72 jam dengan puncaknya pada hari ke-5 sampai hari ke-15 dan akan hilang pada minggu ketiga.

    Studi yang dilakukan Schneider menunjukkan bahwa 13% bayi yang menyusui memiliki kadar bilirubin puncak sebesar 12 mg/dL atau lebih tinggi 4% jika dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu formula. Hal tersebut dapat terjadi bukan karena kandungan zat di dalam ASI, tetapi lebih karena pola menyusui yang belum optimal.

    BAyi-Kuning-Jaundice-Cemas

    Frekuensi menyusui yang kurang dapat menyebabkan munculnya jaundice fisiologi. Oleh karena itu, ibu harus selalu senantiasa berusaha untuk menyusui bayinya, meskipun terkadang pada awal-awal kelahiran ASI ibu belum keluar. Itulah sebabnya dukungan suami mutlak diperlukan mengingat perannya yang tidak sedikit.


  5. Breast Milk jaundice.
    Sekitar 2-4% bayi yang secara eksklusif disusui oleh sang ibu memiliki jaundice dengan kadar bilirubin lebih dari 10 mg/dL pada minggu ketiga. Jaundice yang tetap ada setelah 3 minggu pertama kehidupan seorang bayi disebut prolonged jaundice (jaundice diperpanjang). Bunda jangan khawatir, bunda cukup menyusui si buah hati secara teratur. Seiring dengan waktu kadar bilirubin akan berkurang. Tetapi jika si kecil semakin kuning (sudah sampai ke kaki) atau kadar bilirubin sudah melebihi 20 mg/dL segera hubungi dokter.

  6. Penanganan jaundice (kuning pada bayi)
    Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi jaundice atau kuning pada bayi, salah satunya adalah terapi cahaya (fototerapi). Fototerapi dilakukan dengan cara meletakkan bayi yang hanya mengenakan popok (untuk menutupi daerah genital) dan matanya ditutup di bawah lampu yang memancarkan spektrum cahaya hijau-biru dengan panjang gelombang 450-460 nm.

    Selama fototerapi bayi harus disusui dan posisi tidurnya diganti setiap 2 jam. Pada terapi cahaya ini bilirubin dikonversi menjadi senyawa yang larut air untuk kemudian diekskresi, oleh karena itu harus senantiasa disusui (baik itu langsung ataupun tidak langsung). Keuntungan dari fototerapi ini adalah non-invasiv (tidak merusak), efektif, relatif tidak mahal, dan mudah dilaksanakan.

Dengan sedikit pengetahui tentang jaundice (kuning) ini, semoga kita semua bisa jadi lebih tahu apa yang harus dilakukan ketika bayi kita mengalami hal itu.

Semoga bermanfaat. (ST)



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

6 thoughts on “Bayi Kuning atau Jaundice: Jangan cemas ya….

  1. Kelisea

    Saya kelisea, bunda kenjiro,,

    Anak saya baru lahir 28 Mei 16. Terima kasih banyak informasinya.
    Anak saya di vonis dokter kuning dg bilirubin tinggi 17. Dan diharuskan fototerapi 24 jam, namun turunnya hanya sedikit menjadi 12, lalu dilakukan fototerapi lagi selama 12 jam, turun lg 6.7, namun kata dokter harus di fototerapi lagi 24 jam spya turun dibawah 5. Alhasil nya tdk sesuai dg prediksi, bilirubin naik lagi menjadi 10. Diminta lagi fototerapi dan tes cmv.

    Disini saya bolehkah bertanya, jika bilirubin seperti yg saya sampaikan diatas, apakah tdk normal?

  2. informasitips.com Post author

    Ibu Kelisea, sebelumnya Kami ingin mengucapkan rasa simpati Kami atas keadaan bayi ibu.

    Bayi kuning atau jaundice adalah hal yang kerap banyak dialami oleh bayi yang baru lahir. Anak Kami waktu itu jugat terlahir jaundice.

    Untuk bayi jaundice, hal yang paling perlu diperhatikan adalah asupan cairan ke tubuhnya. Jika ASI ibu sudah lancar dan banyak, maka Ibu harus sesering mungkin memberikan ASI kepada bayi Anda. Namun, jika ASI Ibu belum banyak dan tidak lancar, maka sebaiknya pertimbangkan untuk memberikannya susu formula.

    Pemberian cairan kepada bayi jaundice sangat disarankan, karena bilirubin akan terbuang lewat urin, jadi semakin banyak minum, semakin banyak pula bayi membuang urin, maka akan semakin banyak bilirubin yang terbuang dari tubuh bayi Anda. Hal itu akan mengurangi intensitas warna kuning pada kulit bayi Anda.

    Untuk tes CMV, dokter mempertimbangkan ada kemungkinan bayi Anda membawa CMV bawaan dari lahir. Bayi dengan CMV bawaan akan menunjukkan gejala kuning atau jaundice. Sebaiknya Ibu juga memperhatikan hasil tes CMV yang nanti keluar, semoga hasilnya negatif. Namun, jika hasilnya positif, maka langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menghilangkan jaundicenya terlebih dahulu.

    Untuk mengetahui mengenai CMV dan pengobatannya, Ibu bisa membaca artikel Kami, yaitu Artikel TORCH

  3. jane

    saya jane ,saya mau tanya anak saya sudah 1bulan lebih tetapi masih kuning diwajah dan di mata,waktu usia 3 minggu sudah saya bawa kedokter tapi kata dokter bilirubinnya masih normal hanya kurang asupan asi,tapi saya sudah memberi asi sesering mungkin dan menjemurnya setiap pagi tapi sampe saat ini kuningnya blm hilang,apa bahaya??

  4. informasitips.com Post author

    Dear Ibu Jane,

    Sblmnya Kami ingin bertanya, seberapa banyak ASI Anda diproduksi? Apakah cukup banyak? Atau malah kurang?

    Jalur utama pembuangan bilirubin adalah melalui urin atau melalui BAB, namun urin lbh dominan. Jika si kecil bnyk mndapat asupan urin tentu urinasinya pun jd smkn sering, dengan demikian bilirubin akan terbuang dari tubuh, dan bayi Anda tidak akan tampak kuning lagi.

    Jika memang asupan cairan dari ASI masih kurang, maka pertimbangkan untuk memberikan cairan tambahan, agar bilirubinnya terbuang melalui urin.

    Kiranya itu yg bisa disampaikan. Semoga si kecil sll dlm keadaan sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *