Informasi dan Tips – informasitips.com

Awas, Kebiasaan Memukul Anak Bisa Mengganggu Perkembangan Mental Anak

informasitips.com – Awas, peringatan keras bagi orang tua yang suka menghukum dan memukuli anaknya, “hentikan kebiasaan menghukum dan memukuli anak, karena kebiasaan buruk tersebut bisa berdampak negatif bagi perkembangan mental anak!”

Sebuah penelitian di Universitas Manitoba, Kanada mengungkapkan bahwa anak-anak yang sering mendapatkan perlakuan buruk dan kasar semasa kecilnya, misalnya dipukuli, dihukum, ditampar, diabaikan, diterlantarkan, atau sering mendapatkan kekerasan (hukuman) fisik akan mengalami gangguan mental ketika usia dewasanya nanti. Gangguan mental yang bisa terjadi misalnya, depresi, mudah merasa cemas dan takut, perilaku buruk seperti penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, melakukan tindak kriminalitas, bahkan bisa berujung pada timbulnya gangguan kepribadian dan perilaku seperti antisosial dan psikopat. Kekerasan yang sering diterima anak dapat mengganggu perkembangan emosional dan mental anak. Menurut studi tersebut, hukuman fisik yang dilakukan terhadap anak dapat meningkatkan resiko timbulnya masalah depresi sebesar 49% dan masalah penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan sebesar 51%. Masih menurut studi tersebut, sekitar 2 – 7% orang-orang yang menderita gangguan mental ternyata pernah/sering mendapatkan perlakukan buruk (kekerasan) semasa kecilnya dulu.

Penelitian yang dilakukan di Kanada itu bukanlah satu-satunya penelitian yang mengungkap adanya kaitan antara gangguan mental dan kekerasan yang terjadi pada anak. Sebelumnya, telah banyak penelitian-penelitian lainnya yang juga menyatakan hal serupa bahwa perlakuan buruk terhadap anak bisa merusak mental dan kepribadian anak. Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Tulane, Amerika menyebutkan bahwa anak-anak usia 3 tahun yang sering dipukul cenderung bisa menjadi pribadi yang agresif pada usianya 5 tahun nanti.

Penelitian lainnya yang dilakukan di Universitas Duke, Amerika juga mengungkapkan bahwa anak-anak yang sering dipukul dan mendapatkan kekerasan pada usia 1 tahun beresiko tinggi menjadi lebih agresif pada usia 2 tahun nanti. Efek kekerasan terhadap anak menurut studi tersebut tak hanya bisa memengaruhi mental anak, melainkan juga mempengaruhi kemampuan anak dalam berpikir.

Kekerasan terhadap anak mengganggu perkembangan mental anak

Sangat disayangkan, perlakuan buruk yang diterima anak-anak terkadang dilakukan oleh orang terdekat yang sehari-harinya selalu bersama anak, misalnya orang tua atau pengasuh anak. Orang tua atau pengasuh yang tidak sabar “terbiasa” membiarkan dirinya dikuasai oleh emosi dan amarah manakala sesuatu hal yang dilakukan anak tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Akibatnya, tak jarang mereka langsung menghukum anak dengan hukuman fisik, misalnya memukul, mencubit, menampar, dan mengurung anak. Tak jarang pula orang tua melakukan kekerasaan terhadap anak sebagai pelampiasan atas masalah-masalah yang sedang dialami orang tua. Berbagai masalah dan beban hidup yang berat yang harus ditanggung orang tua membuat emosi orang tua menjadi tak terkendali sehingga menjadi mudah marah saat menghadapi anak.

Di sisi lain, ada juga orang tua atau yang melakukan kekerasan terhadap anak seperti memukul, menghukum, dan lain sebagainya dengan dalih ingin mendisiplinkan anaknya. Padahal tentu, cara tersebut adalah salah dan tidak dapat dibenarkan. Metode kuno orang tua dalam mendisiplinkan anak dengan cara yang keras seperti itu sudah selayaknya ditinggalkan, karena yang lebih dibutuhkan dalam mendisiplinkan anak adalah ketegasan, bukan kekerasan. Cara-cara yang terlalu keras seperti itu tidaklah efektif untuk membuat anak menjadi disiplin. Yang terjadi nantinya, anak bukannya menjadi disiplin malah justru bisa menjadi pribadi yang keras dan suka memakai cara kekerasan dalam menyikapi apapun.

(Baca juga Bagaimana cara mendisiplinkan anak? )

Selain kekerasan, tindakan buruk lainnya yang dialami anak misalnya sering diabaikan, diterlantarkan, ditinggalkan, diolok-olok ternyata juga bisa memberikan dampak buruk bagi perkembangan mentalnya. Tindakan-tindakan buruk tersebut juga digolongkan sebagai bentuk tindak kekerasan terhadap anak. Anak-anak yang sering mendapatkan perlakuan buruk tersebut beresiko tinggi menjadi pribadi yang rapuh, mudah depresi, mengalami kriris percaya diri, dan berbagai gangguan mental lainnya.

Di Indonesia sendiri, pemerintah dan pihak-pihak yang peduli terhadap anak, salah satunya adalah Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menaruh perhatian khusus akan masalah kekerasan terhadap anak ini. Kepedulian pemerintah terhadap perlindungan anak salah satunya tertuang dalam Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak bahwa. Ancaman keras dan serius bagi mereka yang melakukan tindak kekerasan terhadap anak adalah bisa dikenai sanksi hukum berupa pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp. 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).

Undang-undang tersebut berlaku bagi siapapun tanpa terkecuali, termasuk orang tua si anak. Adanya undang-undang dan ancaman hukum dari pemerintah tentulah menunjukkan keseriusan bahwa hak-hak anak haruslah dilindungi. Pemerintah juga tentu memerhatikan efek negatif yang bisa ditimbulkan dari tindak kekerasan terhadap anak. Untuk itu, bila Anda termasuk orang tua yang masih sering melakukan tindak kekerasan terhadap anak, mulai saat ini, hentikan kebiasaan buruk tersebut. Kebiasaan buruk dan emosi sesaat Anda bisa berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak Anda. Sayangi anak dengan tulus, perlakukanlah mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang tak hanya harus pandai secara akademis, namun juga harus pandai dan sehat secara fisik maupun mentalnya. Stop kekerasan terhadap anak!

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2012


loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FOLLOW INFORMASITIPS

ARTIKEL PILIHAN

NEWSLETTER

Dapatkan Informasi dan Tips terbaru langsung ke Email Anda. Masukkan alamat Email Anda di bawah ini, kemudian klik langganan: