Apa Itu Fluoresensi?

informasitips.com – Fluoresensi adalah karakteristik suatu molekul yang ditunjukkan oleh kemampuannya untuk mengabsorbsi (menyerap) suatu cahaya untuk kemudian memancarkan cahaya lagi, namun cahaya yang dipancarkan kembali itu memiliki warna yang berbeda dengan warna cahaya awalnya. Jika molekul itu menerima cahaya hijau, maka fluoresensi dari molekul itu akan menghasilkan warna kuning atau oranye atau warna merah. Tidak mungkin bagi molekul itu berfluoresensi dengan memancarkan cahaya berwarna biru atau ungu, mengapa demikian?

Mekanisme Terjadinya Fluoresensi

Fenomena fluoresensi terjadi manakala sebuah molekul menyerap suatu cahaya yang memiliki energi tinggi, sehingga akibatnya elektron dari molekul itu tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi dibanding tingkat ground (ground state).

Elektron yang tereksitasi ke tingkat energi yang tinggi itu kemudian akan melepaskan sebagian energi yang tadi diperolehnya dan akan berada dalam keadaan relaksasi. Setelah itu, elektron akan kembali ke ground state sambil memancarkan cahaya.

Nah, cahaya yang dipancarkan oleh elektron yang kembali ke ground state itu memiliki ENERGI YANG LEBIH RENDAH dibandingkan dengan cahaya yang diabsorbsi. Selisih energi itu, yaitu energi yang diserap dan energi yang dipancarkan, disebut dengan Stokes shift. Oleh karena itu, jika cahaya yang diserap berwarna hijau, maka tidak mungkin suatu molekul berfluoresensi dengan memancarkan cahaya biru atau ungu, karena warna biru atau ungu memiliki energi yang lebih tinggi ketimbang warna hijau.

Berikut ini gambar ilustrasi dari proses fluoresensi, seperti yang dijelaskan di atas:

Apa itu Fluoresensi

Warna Dan Energi

Dalam fenomena fluoresensi, warna cahaya yang dipancarkan oleh suatu fluorofor (molekul yang berfluoresensi) memiliki energi yang lebih rendah dibandingkan dengan warna cahaya yang diserap. Nah, untuk mengetahui tingkat energi dari deretan warna, maka Kamu bisa melihat pada gambar di bawah ini:

Frekuensi Energi dan Warna

Pada gambar di atas, warna yang berada di sisi paling kiri (warna ungu) memiliki tingkat energi tertinggi, sementara pada sisi yang paling kanan (merah) tingkat energinya paling rendah. Oleh karena itu, pada proses fluoresensi, cahaya yang dipancarkan selalu memiliki warna yang ada di sisi lebih kanan dari warna cahaya yang diserap, seperti yang bisa dilihat pada gambar di atas.

Aplikasi Fluoresensi Pada Kehidupan

Salah satu penerapan prinsip fluoresensi dalam kehidupan sehari-hari adalah saat memeriksa keaslian lembaran uang. Pada umumnya, di berbagai kasir terdapat alat pendeteksi uang palsu yang menggunakan prinsip fluoresensi. Alat tersebut dilengkapi oleh lampu UV (energi tinggi) yang akan digunakan untuk menyinari uang yang diperiksa. Jika uang itu asli, maka akan tampak tanda (watermark) pada uang itu yang berfluoresensi memberikan sinar berwarna biru (energinya lebih rendah dibandingkan sinar ultraviolet).

Prinsip fluoresensi juga digunakan sebagai alat pada kegiatan penelitian, contohnya penggunaan Green Fluorescent Protein (GFP) yang diisolasi dari Ubur-ubur (Aequorea victoria). Protein GFP umum digunakan pada berbagai kegiatan penelitian di bidang Biologi Molekular.

Loading...

Rekomendasi

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>