Informasi dan Tips – informasitips.com

Anak Meniru Hal Negatif dari Orang Tua

informasitips.com – Banyak orang, termasuk para ahli, berkata bahwa anak lahir bagaikan sebuah wadah kosong yang dapat diisi oleh apapun, sehingga anak terbentuk menjadi pribadi sesuai dengan isiannya. Semua orang tua tentu berharap bahwa anaknya kelak menjadi pribadi yang baik yang berguna bagi orang banyak. Jika memang begitu, maka orang tua harus mengisi wadah kosong itu (anak mereka) dengan isian yang baik-baik. Namun, para orang tua sering tidak sadar kalau ternyata mereka mengisi wadah kosong itu justru dengan hal yang tidak mereka inginkan. Anak banyak meniru hal-hal negatif yang seringkali malah dipertontonkan oleh orang tuanya sendiri. Berikut ini 4 sikap orang tua yang berpotensi mengajarkan hal negatif kepada anak:

  • Bertengkar di depan anak

    Para orang tua kerap kali tidak sadar ketika mereka menunjukkan pertengkarannya di depan anak. Hal itu dikatakannya terjadi dengan spontan, sehingga berlangsung begitu saja tepat di depan anak. Ribut-ribut atau berkeras-kerasan dengan pasangan di depan si kecil seharusnya jangan sampai terjadi. Keadaan yang seperti itu tentu saja memberikan pengaruh buruk pada anak. Cara pandang anak dalam menyelesaikan suatu masalah dengan orang lain bisa menjadi salah. Bisa jadi si kecil berpandangan bahwa menyelesaikan masalah dilakukan dengan cara bertengkar atau ribut-ribut, bukannya dengan cara bermusyawarah. Orang tua harus mampu menunjukkan kepada si kecil bahwa dialog dan musyawarah adalah cara yang harus dilakukan ketika hendak mencari solusi atas setiap masalah yang dihadapi.

  • Serba melarang atau terlalu mengontrol anak

    Rasa sayang orang tua terhadap anak sering kali termanifestasi dalam bentuk banyak larangan. Ini tidak boleh, itu jangan dilakukan, merupakan dua kalimat yang sering keluar dari mulut orang tua saat “membatasi” gerak-gerik anak. Perlakuan yang diterima anak itu membuatnya menjadi pribadi yang peragu, serba takut dan akhirnya hilang kreativitas. Padahal, anak seharusnya belajar dari aneka kegiatan yang mereka lakukan. Dari sana lah anak belajar hal-hal baru yag memancing daya kreativitasnya, serta membuatnya lebih berani. Namun, terlalu memberi kebebasan tanpa batasan tidak tepat juga, karena anak akan berbuat semaunya seolah tidak ada aturan yang membatasi mereka. Oleh karena itu, orang tua diharapkan dapat bersikap moderat dalam membolehkan maupun melarang anak, sehingga mereka menjadi pribadi yang berani dan kreatif, namun di saat yang sama mampu menghargai hak-hak orang lain.

  • Tidak konsisten dalam menegakkan peraturan

    Bagi orang tua, membuat peraturan untuk putra-putri mereka yang berlaku di dalam rumah merupakan suatu tindakan yang sangat tepat. Namun, ekedar tepat saja tidaklah cukup, orang tua juga dituntut konsisten dalam menegakkan peraturan yang telah dibuatnya. Konsistensi dalam penegakkan peraturan sangatlah penting, karena hal itu akan menegaskan bahwa tindak-tanduk anak memang dibatasi oleh peraturan. Ketika peraturan itu dijalankan berubah-ubah, maka bukan tidak mungkin bisa membuat anak bingung, serba tak pasti dan sulit fokus. Ketidakpastian dalam menegakkan peraturan itu akan membentuk anak menjadi pribadi yang labil, takut bertindak atau ragu-ragu dalam mengambil keputusan.

  • Selalu membenarkan diri sendiri

    Tindakan orang tua yang selalu merasa benar sendiri akan mengajarkan kepada anak untuk bertindak egois dalam pergaulannya. Tidak hanya itu, anak bisa menjadi pribadi yang tidak mau mendengarkan pendapat orang lain dan pada akhirnya hanya mau menang sendiri. Pribadi yang seperti itu akan membuatnya dikucilkan dalam pergaulannya di luar rumah, karena tingkah laku yang seperti itu tidak menyenangkan bagi kebanyakan orang. Segera hentikan kebiasaan itu dan mulailah untuk lebih mengajaknya berdialog serta mulai dengarkan pendapatnya. Hal apapun yang keluar dari mulutnya, hargailah, hal itu juga akan membuatnya untuk belajar menghargai orang lain.

Semoga dengan ini Kita, para orang tua, segera sadar untuk menghindari hal-hal yang memicu munculnya sisi negatif pada diri anak yang tentu tidak Kita inginkan.



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *