Informasi dan Tips – informasitips.com

Alergi Susu Sapi, Kok Bisa?

informasitips.com – Moms and Dads sudah baca artikel alergi bayi pada postingan saya sebelumnya kan..? Jika belum, saya sarankan untuk membacanya juga di sini. Bagi Anda orang tua yang memiliki bayi dan anak yang alergi, mungkin sering muncul dalam benak Anda pertanyaan mengenai apa sih penyebab alergi tersebut? Terutama bila mengalami alergi susu sapi. Alergi susu sapi, kok bisa ya? Alergi disebabkan oleh adanya allergen yang masuk ke dalam tubuh kita dan direspon oleh antibodi yang kita miliki sehingga terjadilah reaksi antigen-antibodi yang akhirnya menimbulkan gangguan baik pada organ ataupun pada saluran pencernaan. Susu sapi sangat memungkinkan dalam menimbulkan alergi, bahkan alergi pada susu sapi merupakan reaksi alergi yang sering muncul pada tahun pertama perkembangan bayi tercinta kita dengan tingkat kejadian sebesar 2-3% .

Jika memang demikian, sebenarnya zat apa yang menyebabkan buah hati kita alergi terhadap susu sapi? Jawabannya adalah protein-protein yang terkandung dalam susu sapi. Protein-protein tersebut juga terdapat pada susu hewan pemamah biak yang lain, seperti kambing ataupun biri-biri. Protein itu adalah laktoglobulin (LG), kasein (CN), dan alfa-laktalbumin (ALA), ketiganya merupakan protein-protein utama penyebab alergi, sedangkan protein lain yang terkandung dalam susu sapi dengan kadar kecil diantaranya adalah bovine serum albumin (BSA).

Ada banyak metode yang digunakan dalam mengurangi potensi alergi dari susu sapi. Metode yang paling konvensional adalah pemanasan, namun cara ini tidak direkomendasikan. Pemanasan susu sapi dapat mengakibatkan berubahnya struktur molekul berbagai protein sehingga fungsi penting dari protein itu dalam memberi nutrisi pada bayi menjadi hilang. Tidak hanya itu, efektifitas dari pemanasan dalam mengurangi potensi alergi susu sapi masih menjadi perdebatan. Bahkan, dengan pemanasan lebih dapat meningkatkan potensi alergi susu sapi. Loh kok bisa?

Contohnya begini, CN memiliki sifat termostabil (tahan panas), sementara LB bersifat termolabil (tidak tahan panas), interaksi antar keduanya selama pemanasan dapat membuat LB menjadi lebih tahan terhadap panas. Perlu diketahui bahwa alergenisitas susu sapi tidak semata dipengaruhi oleh suhu dan waktu pemanasan saja, tetapi interaksi antar protein yang terkandung di dalamnya juga turut mempengaruhi.

Metode lain yang dirasa lebih efektif dalam mengurangi potensi alergi susu sapi adalah hidrolisis. Dalam hal ini, hidrolisis dilakukan dengan menggunakan enzim- enzim seperti tripsin, pepsin, dan chymotripsin. Proses hidrolisis telah menjadi standar internasional dalam memproduksi susu formula hypoallergenic. Prinsip dasar dalam proses hidrolisis adalah bahwa enzim-enzim yang saya sebutkan tadi memotong-motong molekul protein menjadi molekul-molekul yang lebih kecil. Perlu diketahui bahwa protein itu sendiri adalah rangkaian dari asam-asam amino yang saling berikatan. Tetapi dalam proses hidrolisis susu sapi, tidak dikehendaki pemotongan protein oleh enzim secara total, artinya protein dipotong-potong menjadi molekul-molekul tunggal asam amino. Yang dikehendaki di sini adalah pemotongan terjadi secara parsial (sebagian) saja. Konsep dasar inilah yang dilakukan para produsen susu dalam memproduksi produk hypoallergenic-nya.

Sebagai orang tua harus jeli dalam memonitor perkembangan anak dari hari ke hari. Jika anda mendapati munculnya gejala alergi pada bayi anda sebaiknya segera konsultasi ke dokter agar dapat sesegera mungkin diambil langkah pencegahan. Jangan anggap remeh alergi pada bayi, tindakan preventif jauh lebih baik daripada hanya diam saja. Semoga bayi-bayi kita selalu diberi kesehatan oleh-Nya. Amin. (ST)



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FOLLOW INFORMASITIPS

ARTIKEL PILIHAN

NEWSLETTER

Dapatkan Informasi dan Tips terbaru langsung ke Email Anda. Masukkan alamat Email Anda di bawah ini, kemudian klik langganan: