Informasi dan Tips – informasitips.com

7 Cara yang Harus Dilakukan Orang Tua Untuk Mendisiplinkan Anak

informasitips.com – Tak sedikit orang tua yang salah kaprah dalam mendidik anak. Mereka lebih memilih cara-cara kasar dan keras seperti hukuman fisik saat menghadapi kenakalan anak-anaknya, dengan dalih untuk mendisiplinkan anak. Padahal cara-cara tersebut sangatlah tidak efektif untuk dilakukan.

Sudah banyak penelitian yang mengatakan bahwa cara-cara kekerasan dan hukuman fisik justru bisa berdampak buruk bagi perkembangan mental anak. Anak bukannya menjadi “mengerti”, malah justru bisa terganggu mentalnya. Salah-salah, anak bukannya menjadi paham, malah justru meniru cara-cara kekerasan yang dilakukan orang tua untuk menyikapi apapun dalam hidupnya nanti.


Lalu, bagaimana cara yang terbaik dan bisa dilakukan orang tua untuk mendisiplinkan anak? Simak beberapa tipsnya berikut ini:

  1. Orang tua harus bersikap tegas
    Satu hal yang harus selalu diingat oleh orang tua adalah dalam hal mendisiplinkan anak, yang dibutuhkan adalah ketegasan, bukan kekerasan. Orang tua harus memberikan ketegasan mengenai nilai-nilai yang salah dan benar, apa yang boleh dilakukan dan tidak, sekaligus juga ketegasan dalam memberi pemahaman kepada anak akan konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan anak, baik itu tindakan yang baik ataupun buruk.

    Ingat, saat anak melanggar nilai-nilai dan aturan yang sudah Anda tetapkan, jangan menggunakan hukuman fisik seperti memukul, menampar dan lain sebagainya. Bersikaplah tegas dalam hal memberikan konsekuensi ke anak akan akibat dari perbuatannya. Saat anak melanggar aturan yang Anda terapkan, tugas Anda selanjutnya adalah memberikan konsekuensinya, bukan menghukumnya. Dengan begitu, anak akan belajar bahwa pasti akan selalu ada konsekuensi dari setiap perbuatannya. Ketegasan Anda juga memerlukan konsistensi. Artinya orang tua tidak boleh plin plan saat menanamkan nilai-nilai dan aturan ke anak.

    Cara orang tua mendisiplinkan anak

  2. Cobalah untuk mengatakan “Ya” lebih banyak dan sering daripada mengatakan “Tidak”
    Anak-anak cenderung tidak menyukai kata “tidak” dan “jangan“. Mereka menangkap kata-kata tersebut sebagai sesuatu hal yang mengganggu dan membatasi mereka dalam berekspresi. Oleh karena itu, akan jauh lebih baik bila orang tua memilih untuk menggunakan kata “ya” kepada anak, sambil menyisipkan nilai dan aturan yang ingin ditanamkan ke anak. Misalnya, anak tidak mau makan dan selalu ingin menonton TV. Anda bisa mengatakan, “ya, kamu boleh menonton TV sebentar setelah kamu makan”. Atau untuk kasus lain, “ya, kamu boleh main game bila hari libur”.

  3. Penjelasan aturan yang logis
    Gunakan penjelasan yang logis dalam memberi tahu kepada anak mengapa ia tidak boleh melakukan sesuatu atau mengapa ia harus melakukan sesuatu. Misalnya, jangan mengatakan kepada anak bahwa nasi dan makanannya akan menangis bila ia tidak menghabiskan makanannya. Sebaiknya, pilihlah penjelasan yang lebih logis, misalnya, “Kalau kamu tidak mau makan, maka tubuhmu akan lemas dan tidak bertenaga. Bila kamu tidak bertenaga, maka kamu tidak akan bisa bermain dan melakukan aktivitas lainnya nanti”.

  4. Berikan contoh ke anak
    Orang tua harus memberikan contoh yang baik ke anak sesuai dengan aturan-aturan yang dibuat sendiri oleh orang tua. Di usianya yang masih kecil, anak-anak akan jauh lebih cepat menyerap sesuatu lewat meniru apa yang biasa dilihatnya.

    Misalnya, saat orang tua melarang anak agar tidak terlalu banyak menonton TV, maka orang tua juga harus membatasi dirinya untuk tidak terlalu banyak menonton tayangan di TV. Atau saat orang tua melarang anak bangun kesiangan, maka orang tua juga harus mencontohkan ke anak-anaknya agar tidak bangun kesiangan. Jangan menerapkan satu aturan ke anak tapi Anda sendiri justru melanggar aturan tersebut di depan anak. Bagaimana anak bisa mendengarkan dan mengikuti aturan Anda bila yang Anda contohkan adalah hal yang sebaliknya?

    Satu hal penting pula yang harus diingat oleh orang tua adalah anak-anak cenderung lebih mudah mengikuti dan belajar dari apa yang Anda “lakukan” daripada apa yang Anda “katakan“. Jadi, contoh nyata akan jauh lebih efektif daripada hanya sekedar aturan-aturan berupa kata-kata ke anak.

    Jika sekali waktu tanpa disadari Anda pun melanggar apa yang sudah Anda tetapkan sendiri di depan anak-anak Anda, bersikaplah jujur ke anak Anda dengan mengakui bahwa hal tersebut salah. Tidak ada salahnya pula orang tua meminta maaf ke anak bila memang orang tua sendiri melanggar aturan-aturan yang sudah dibuat. Setelah mengakui ke anak, tegaskan lagi bahwa hal yang Anda langgar tersebut memang salah, harus diperbaiki dan tidak boleh terulang lagi. Dengan begini, orang tua mengajarkan kepada anak tentang nilai-nilai kejujuran dan keberanian mengakui kesalahan, sekaligus juga mendidik anak untuk mau memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah dibuat.

  5. Lebih akrab dan hangat ke anak
    Orang tua tentu harus bersikap hangat dan akrab ke anak. Hal ini penting dilakukan agar anak bisa lebih terbuka kepada orang tuanya. Anak juga bisa lebih menaruh “respect” ke orang tuanya. Dengan begitu, aturan dan nilai-nilai yang ditetapkan orang tua akan lebih mudah diterima oleh anak.

    Buatlah waktu kumpul rutin bersama anak, misalnya saat makan bersama atau menonton acara TV bersama. Gunakan waktu kumpul tersebut untuk semakin mendekatkan hubungan anak dan orang tua, juga memberi kesempatan kepada anak untuk “bersuara” mengenai pemikiran dan keinginannya. Jadikan waktu kumpul tersebut menjadi momen yang menyenangkan, bukan momen “penghakiman” orang tua atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat anak.

  6. Sabar tetap diperlukan
    Memang tidak mudah untuk membuat anak paham akan nilai-nilai dan aturan yang Anda tetapkan. Dibutuhkan kesabaran yang tinggi dari orang tua untuk bisa mendidik dan mendisiplinkan anak-anaknya. Sekali waktu Anda menerapkan satu aturan ke anak, belum tentu anak akan langsung mengikuti Anda. Bisa jadi setelah berkali-kali, anak baru paham dan mau mengikuti apa yang ditetapkan orang tua. Di sinilah letak dibutuhkannya kesabaran dari orang tua. Jangan terpancing emosi dan amarah saat anak masih belum juga bisa disiplin, seperti yang diharapkan orang tua.

    Oran tua harus sabar dalam memberikan penjelasan mengenai aturan dan konsekuensi ke anak. Anak-anak sekarang lebih kritis. Mereka benar-benar ingin tahu secara jelas, mengapa mereka boleh atau tidak boleh melakukan sesuatu.

    Selain kesabaran, orang tua juga harus menggunakan penjelasan yang logis dan masuk akal dalam memberikan penjelasan aturan dan konsekuensi kepada anak. Jangan mengada-ngada! Mengada-ngada berarti berbohong di depan anak, dan secara tidak langsung Anda mengajarkan kebohongan kepada anak. Bersikaplah layaknya “kawan” ke anak saat memberikan penjelasan ke anak. Jauhi kesan menimbulkan suasana suram nan menakutkan ketika Anda ingin memberikan aturan dan batasan-batasan ke anak. Dengan begini diharapkan anak akan bisa lebih mudah menerima apa yang Anda ucapkan.

  7. Orang tua juga harus “satu suara”
    Orang tua yaitu Ayah dan Ibu harus satu suara dalam hal menanamkan nilai-nilai dan aturan ke anak. Jangan buat anak menjadi bingung saat si Ayah mengatakan tidak boleh melakukan “A”, sementara si Ibu malah bersikap permisif dengan membolehkan anak melakukan “A. Anak akan bingung, nilai dan aturan mana yang benar. Untuk itu, kedua orang tua (Ayah dan Ibu) satu sama lain juga harus berdiskusi terlebih dahulu dalam hal menerapkan aturan-aturan dan nilai ke anak.

Mendidik anak memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Butuh perjuangan dan kesabaran dari orang tua untuk bisa mendidik anak-anaknya menjadi manusia yang baik dan berkualitas. Di sinilah letak “mulia” nya tugas dan peran Anda sebagai orang tua. Meskipun begitu, yakinlah bahwa bibit nilai kebaikan yang Anda tanamkan ke dalam diri anak Anda saat ini pasti akan berbuah manis di kemudian hari.

Semoga bermanfaat.



loading...
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *