Informasi dan Tips – informasitips.com

5 Langkah Utama Menumbuhkan Sifat Optimis Dalam Diri Anak

informasitips.comOptimisme merupakan perasaan dan semangat positif yang harus dimiliki setiap anak agar bisa berhasil dalam kehidupannnya. Jiwa yang optimis merupakan jiwa dari seorang juara yang senantiasa berani menghadapi segala tantangan dan rintangan untuk meraih kesuksesan hidup. Sifat optimis dalam diri seseorang seyogyanya sudah harus mulai ditumbuhkan sejak kecil. Karena hal tersebut akan terus melekat dalam diri anak sebagai modal penting yang sangat diperlukan anak di masa depannya nanti.

Lalu, bagaimana menumbuhkan dan menanamkan sifat optimis dalam diri anak? Berikut lima langkah yang bisa diterapkan orang tua untuk memupuk sifat optimisme dalam diri anak:

  1. Pola pengasuhan positif yang penuh kasih sayang
    Pola pengasuhan positif yang penuh kasih sayang memiliki begitu banyak manfaat bagi perkembangan mental dan emosional anak, salah satunya adalah menumbuhkan semangat dan jiwa optimisme dalam diri anak. Pola pengasuhan tersebut akan menumbuhkan rasa percaya diri dalam diri anak, baik terhadap diri dan kemampuannya sendiri maupun terhadap dunia dan lingkungannya. Anak-anak yang dibesarkan dengan pola pengasuhan yang penuh kasih sayang akan tumbuh menjadi lebih positif, merasa lebih nyaman, dan berani terhadap berbagai hal baru di lingkungan sekitarnya. Mereka percaya bahwa dunia merupakan tempat yang aman yang membuatnya berani mencoba melakukan berbagai hal dan pengalaman. Dengan semakin beraninya mereka mencoba berbagai hal dan pengalaman baru, maka akan semakin besar pula kemungkinan mereka dihadapkan pada berbagai situasi dan resiko yang mengasah sifat optimismenya.

    Menumbuhkan optimisme dalam diri anak

  2. Latih anak untuk berhadapan dengan situasi yang ada “resiko dan kegagalan”
    Orang tua juga perlu melatih anak berhadapan pada berbagai situasi dan kondisi yang memiliki “resiko dan kegagalannya“. Anak yang terbiasa dilatih dalam kondisi-kondisi tersebut akan menjadi lebih tangguh dan tidak mudah putus asa. Saat berhadapan dengan kondisi yang beresiko orang tua perlu mendorong anaknya untuk menganggap resiko dan kegagalan yang mungkin muncul sebagai tantangan yang harus ditaklukkan bukan ditakuti atau dihindari. Anak yang dilatih dalam kondisi-kondisi tersebut juga lebih matang secara mental dan menjadi tidak mudah rapuh atau pesimis.

    Penelitian menunjukkan anak-anak yang terbiasa “dilindungi” dan “dihindarkan” oleh orang tuanya dari kegagalan dan resiko ternyata tidak bisa tumbuh menjadi pribadi yang optimis. Mengapa? Karena saat seorang anak membuat kesalahan atau kegagalan, mereka bisa belajar dari kesalahan dan kegagalan tersebut yang bisa dijadikannya sebagai senjata untuk menghadapai tantangan selanjutnya. Pelajaran yang mereka dapatkan tersebut membuat mereka merasa memiliki harapan bahwa bila mereka mencoba dan memperbaiki lagi maka mereka tentu akan berhasil. Di sinilah cikal bakal tumbuhnya semangat optimisme.

    Anak juga perlu tahu bahwa sisi baik dan buruk dari setiap situasi dan kondisi. Ada yang namanya berhasil dan sebaliknya ada yang namanya gagal. Dengan memahami dua sisi ini maka anak menjadi tidak kaget lagi bila apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

    Anak-anak tersebut akan tahu seperti apa rasanya gagal dan di saat itulah peran orang tua masuk untuk memberikan semangat kepada anak bahwa kegagalannya bukanlah akhir dari segalanya. Justru kegagalan tersebut merupakan pertanda bahwa anak harus terus mencoba lagi dan memperbaiki kesalahannya. Coba bandingkan dengan anak yang tidak pernah dihadapkan pada situasi sulit dan gagal. Ketika besar mereka cenderung akan lebih rapuh, tidak tangguh, kaget pada situasi tersebut, dan bukan tidak mungkin menjadi lebih mudah putus asa.

    Meskipun demikian, orang tua juga diharapkan untuk tidak terlalu berlebihan dalam melatih anak agar berhadapan dengan situasi sulit. Terlalu banyak dan berlebihan pun bukannya akan memberikan dampak positif melainkan memberikan dampak negatif yang bisa membuat anak merasa trauma akan kegagalan, penuh kecemasan dan merasa tidak nyaman. Oleh karena itu, semuanya harus dilakukan dengan sewajarnya dan tetap diperlukan dampingan dari orang tua.

  3. Orang tua sebagai model (contoh)
    Bagaimana orang tua bisa mengharapkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang optimis bila orang tua sehari-harinya tidak mencontohkan hal tersebut. Orang tua yang pesimis biasanya berpeluang lebih besar memiliki anak yang juga pesimis. Karena, apa yang biasa disuguhkan ke anak, maka itulah yang akan dicontoh anak. Untuk itu, bila Anda menginginkan anak Anda untuk menjadi pribadi yang optimis, tunjukkan dan contohkan kepada anak bagaiamana caranya menjadi optimis. Sikap orang tua yang senantiasa optimis dalam hidup juga akan menumbuhkan atmosfer yang optimis dalam lingkungan kehidupan anak sehari-hari. Apa yang dilihat dan dirasakan anak sehari-hari tentunya akan menempel dan melekat dalam diri anak.

  4. Bantu anak agar meraih kesuksesan
    Meski orang tua juga perlu memberikan tantangan agar anak bisa merasakan resiko dan kegagalan dari hal yang dikerjakan, orang tua juga perlu membantu anak agar bisa meraih kesuksesan. Bantuan Anda di sini tentulah lebih ke arah mendorong dan menyemangati anak, bukan melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh anak. Bila anak berhasil mencapai satu prestasi tertentu, misalnya di sekolah maka orang tua perlu memberikan penghargaan kepada anak, sekecil apapun prestasi tersebut. Hal ini akan membuat anak semakin termotivasi untuk terus membuat prestasi karena merasa dihargai oleh orang-orang penting dalam hidupnya yaitu orang tua dan keluarga.

  5. Jangan memberi “label” ke anak
    Orang tua sebaiknya tidak perlu memberi label negatif tertentu kepada anak. Karena secara tidak sadar anak akan menyerap label tersebut. Label tersebut akan menempel dalam diri anak menjadi sebuah identitas dan karakter. Hindari menyebutkan anak si pemalu, penakut, pemalas, dan lain sebagainya. Stempel dan label tersebut akan menempel ke diri anak sehingga tanpa disadari anak akan memercayai label-label tersebut yang pada akhirnya bisa menghambat anak dalam melakukan berbagai hal. Anak yang secara tidak sadar meyakini label tersebut dalam dirinya menjadi terbatas kemampuannya karena terkungkung dalam label yang diberikan orang tua. Misalnya, orang tua sering menyebut anaknya “Si Pemalu” atau “Si Penakut“. Anak yang meyakini label tersebut menjadi tidak berani mencoba tantangan dan hal baru karena menganggap bahwa dirinya adalah seorang yang pemalu dan penakut. Yang perlu dilakukan orang tua justru memberi semangat dan dorongan positif kepada anak agar tumbuh PD dan rasa optimisme dalam diri anak.

Artikel Terkait

2 thoughts on “5 Langkah Utama Menumbuhkan Sifat Optimis Dalam Diri Anak

  1. Kornelia koleta

    Dari tips d atas bisa membantu orang-orang untuk bagamana cara membentuk mental optimis pda seorang anak

  2. siti wahyuni

    Luar biasa,makasih banget tipsnya semogga bisa menjadi inspirasi untuk guru dan orang tua,agar membimbing putra putrinya dengan benar, dan bisa menerapkan didunia pendidikan untuk tidak menganak tirikan anak didiknya yang memiliki kekurangan,melainkan mempelajari karakter n latar belakang anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

ARTIKEL TERBARU

NEWSLETTER

Mau berlangganan artikel Kami? Tulis Email Anda pada form di bawah ini.

Cek Email Anda setelahnya untuk mengaktifkan layanan newsletter. Terimakasih

OUR FRIEND