Informasi dan Tips – informasitips.com

10 Penyebab Utama Nafsu Makan Anak Menurun

informasitips.com – Setiap anak pasti pernah mengalami penurunan nafsu makan. Terutama ketika usianya telah melewati satu tahun. Berbagai rekasi dilakukannya untuk menolak makanan yang diberikan. Mulai dari menutup mulutnya, menyemburkannya, atau melepeh makanan. Bagi para Ibu yang kurang sabar, mungkin tingkah anak-anak yang sulit makan bisa membuat kesal dan panik.

Sebenarnya, nafsu makan anak-anak memang cenderung menurun ketika memasuki usia 1-15 tahun. Apalagi bila ia telah lepas dari ASI dan mulai bisa berjalan. Tubuhnya akan lebih aktif dan perhatiannya terhadap makanan semakin berkurang. Para Ibu dituntut harus mencari tahu penyebab-penyebab lain mengapa nafsu makan anak menjadi menurun. Untuk membantu Ibu-Ibu di rumah, kami sajikan penyebab-penyebab menurunnya nafsu makan anak berikut ini:

  1. Mulai mengenali ragam rasa dan selera
    Rasa ingin tahu anak ‘meledak-ledak’ saat usia batita, termasuk masalah rasa. Indra perasanya mulai mengecap citrarasa lain selain rasa tawar air susu. Oleh karena itu, ia mulai menentukan pilihan rasa yang ia senangi. Terkadang orang tua tidak menyadari hal ini. Batita tetap diberi makanan seperti halnya si anak masih berusia bayi. Tentu saja anak akan menolak makan karena rasa yang dicap oleh lidahnya berbeda dari apa yang diinginkannya. Cobalah, cari tahu rasa seperti apa yang membuat anak tertarik untuk makan.

  2. Bosan terhadap tekstur makanan
    Penyebab ini sering terjadi dimana anak akan melepehkan makannya begitu saja. Saat usia anak melewati 1 tahun sebaiknya hindari makanan yang terlalu encer dan terlalu lunak. Kemungkinan besar ia bosan dengan tekstur makanan tinggal telan seperti itu. Sebaiknya, mulailah memberikan makanan yang bisa melatih gerakan peristaltik di rongga mulutnya sehingga anak menikmati proses mengunyah. Hindari juga makanan yang terlalu keras karena akan merusak langit-langit, gusi dan ususnya. Bila takut BABnya menjadi keras, Ibu bisa menyiasatinya dengan cara membuat variasi bentuk makanannya. Misalnya, nasinya saja yang di tim tapi lauk- pauknya tidak (suwir atau potong kecil-kecil lauk pauknya agar memudahkan makanan tersebut masuk ke mulut anak).

    Anak susah makan

  3. Sedang aktif-aktifnya
    Jangankan anak-anak, orang dewasa pun bila sedang aktif-aktifnya bekerja tentu tidak ingat makan. Begitu pula yang terjadi pada anak-anak yang memasuki masa dimana ia bisa merangkak, berjalan, atau berbicara. Tingkat eksplorasinya akan semakin tinggi. Ia akan lebih tertarik mengenali sesuatu yang baru daripada menjalankan rutinitas makan. Perhatiannya yang besar terhadap objek yang ditemukannya secara tidak langsung akan memengaruhi hilangnya rasa lapar di perutnya.

  4. Sikap negatif yang menggebu-gebu
    Ketika bayi dulu anak terlihat penurut. Tentu saja akan berbeda ketika usianya semakin bertambah. Kepandaiannya yang semakin banyak, memunculkan sisi-sisi egosentris si anak. Ia akan merasa dirinya “serba bisa” dan “serba kuat” padahal yang terjadi justru sebaliknya. Semakin ia dipaksa makan, semakin keras pula penolakan yang akan dilakukannya. Sebaiknya, ciptakan suasana yang menyenangkan ketika jadwal makan tiba. Misalnya, sambil menggambar bersama, sambil menonton tayangan favoritnya, atau sambil membuat kreasi dari kertas. Proses makannya memang agak lama dan merepotkan. Tapi, demi asupan nutrisi anak yang tetap harus dipenuhi, tentu para Ibu tidak akan menolak melakukannya.

  5. Cari Perhatian
    Terkadang rewelnya anak dalam urusan makan disebabkan karena ingin mencari perhatian dan ingin dimanja-manja. Apalagi bila Anda seorang Ibu yang sekaligus wanita yang berkarir di luar rumah. Tentu waktu kebersamaan dengan si kecil berkurang. Penolakan makan bisa jadi karena ia ingin Anda membujuknya dan menuntut Anda bisa lebih lama lagi meluangkan waktu untuknya.

  6. Porsi yang Berlebihan
    Banyak Ibu yang ingin anaknya terlihat gemuk dibandingkan anak-anak seusianya. Dengan begitu, si Ibu serta-merta menyediakan porsi makan yang besar 3x sehari. Padahal pemberian porsi makan yang banyak membuat anak sulit merasa lapar di jadwal selanjutnya. Ditambah pula waktu untuk menghabiskan makanannya yang lebih panjang. Aduuh…bisa-bisa anak-anak terlalu kenyang sekaligus bosan duduk dihadapakan dengan makanan, makanan, dan makanan. Ada juga anak yang enggan makan bila selalu disajikan makanan dalam porsi yang besar (banyak). Porsi seperti itu membuat si anak merasa kenyang duluan dan merasa berat untuk menghabiskan makanannya. Untuk itu, sebaiknya sediakan porsi makan secukupnya saja, yang penting nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya lengkap dan terpenuhi.

  7. Kenyang cemilan
    Ketika anak mulai dibiasakan jajan, nafsu makannya terhadap makanan pokok akan menurun. Terlebih bila Ibu membiasakannya jajan setiap hari. Sajian cemilan beraneka warna, bentuk, dan mengandung penyedap rasa akan menimbulkan ‘kecanduan’ bagi anak yang menyantapnya daripada nasi beserta lauk pauk yang sehat. Sebaiknya, jangan berikan cemilan pada anak sebelum ia menghabiskan menu makanan pokoknya. Bila ingin memberikan camilan kepada anak, jangan terlalu banyak agar ia tidak merasa masih kenyang saat waktu makannya tiba.

  8. Sedang Sakit
    Nah…penyebab lain mengapa nafsu makan anak berkurang pasti karena sakit. Tubuh yang tidak fit akan berdampak pada lidah yang pahit dan tidak bergairah melakukan apapun juga termasuk makan. Ketika nafsu makannya menurun drastis, cobalah raba dahi anak, pastikan suhu tubuhnya normal atau tidak. Dengarkan perubahan suaranya serak atau tidak, dan perhatikan lidahnya berwarna segar atau keruh. Bila tampak perbedaan dari anggota tubuhnya, bisa dipastikan nafsu makannya menurun karena sakit yang dideritanya. Saat sakit, memang susah bagi anak untuk makan. Untuk itu, Ibu tak perlu menuntut dan memaksa anak untuk menghabiskan makanannya. Berikan makanan sedikit demi sedikit dalam porsi semampu yang bisa diterima anak.

  9. Stress
    Ha..? Anak bisa stress? Tentu saja anak-anak bisa mengalami ‘stres” karena sesuatu yang membuatnya marah atau kesal. Bisa jadi stres anak disebabkan karena amarah, atau paksaan Ibu yang berlebihan ketika jadwal makannya tiba. Paksaan yang berlebihan justru akan membuat anak frustasi dan akhirnya enggan berhadapan dengan jadwal makannya. Atau, bisa jadi ada hal-hal lain yang membuatnya merasa tertekan dan mengabaikan rasa laparnya. Ini penting untuk Ibu cari tahu. Apalagi jika semula sikapnya yang aktif dan ceria berubah murung. Kemungkinan besar masalah yang tengah dihadapinya menuntut keterlibatan orang dewasa untu menyelesaikannya.

  10. Tidak suka cara atau tempat makannya
    Kedengarannya memang agak aneh dan berlebihan memang. Hanya karena tidak suka cara atau tempat makannya, anak bisa saja menolak untuk makan. Tapi, memang demikianlah fakta yang banyak terjadi. Ada anak yang tidak suka jika diberi makan dengan cara disuap dengan menggunakan sendok. Sebaliknya ada anak yang tidak suka makan bila disuap dengan tangan. Ada juga anak yang enggan makan hanya karena bosan dengan tempat atau bentuk makanan yang disajikan. Di sini para Ibu dituntut untuk bisa lebih kreatif lagi memancing selera makan anak. Bila ia bosan dengan tempat makannya, tak ada salahnya menggantinya dengan yang baru yang gambarnya lebih menarik. Atau bila anak bosan dengan penyajian bentuk makanannya, cobalah menyajikan makanan tersebut ke anak dalam bentuk yang lebih kreatif dan menarik.

Satu trik yang kedengarannya simple tapi berhasil diterapkan ke beberapa anak adalah, cobalah mengajak (mengikutsertakan) anak saat Anda sedang membuat makanan untuknya. Keterlibatan anak melihat proses pembuatan makanannya bisa juga memancing selera makanannya. Mencium aroma harum saat makanan tersebut sedang dibuat juga bisa memancing selera makan anak. Sama halnya dengan orang dewasa, terkadang kita lebih tertarik untuk mencicipi masakan yang kita buat sendiri, bukan?

Itulah beberapa hal yang biasanya menjadi penyebab mengapa nafsu makan anak menurun. Semoga membantu para Ibu yang tengah kewalahan menghadapi si kecil yang rewel makan.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

ARTIKEL TERBARU

NEWSLETTER

Mau berlangganan artikel Kami? Tulis Email Anda pada form di bawah ini.

Cek Email Anda setelahnya untuk mengaktifkan layanan newsletter. Terimakasih

OUR FRIEND